NASIONAL

Fahri Hamzah Anggap Pernyataan Jokowi Soal Defisit BPJS Kesalahan Fatal

MONITOR, Jakarta – Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan bahwa penyelesaian defisit yang dialami BPJS bisa diselesaikan di tingkat Kementrian Kesehatan maupun internal BPJS tanpa perlu campur tangan presiden menuai kritik.

Wakil Ketua DPR RI bidang Kesra Fahri Hamzah misalnya. Ia menilai, pernyataan itu sangat fatal. “Dan kayaknya memang salah paham. Fatal sekali sebetulnya. Karena Kartu Indonesia Sehat (KIS) itu bisa jadi ladang pembantaian dirinya saat debat Pilpres yang akan datang,” kata Fahri Hamzah dalam pesan singkatnya, Kamis 17 Oktober 2018.

Menurutnya, Jokowi harus waspada lantaran di sekitarnya banyak orang yang tidak mau ambil resiko dan semua dilimpahkan pada Jokowi. Tidak hanya itu, Fahri mengibaratkan seolah ada banyak bola yang ditendang ke wajah Jokowi. Hal ini, katanya, bisa jadi masalah yang meledak dan merugikan dirinya setelah merugikan rakyat banyak.

“Lalu, karena keputusan dilempar lagi ke bawah, muter-muter lah bola itu ditendang ke sana kemari. Kita sih melihat seolah semua lagi sibuk kerja selesaikan masalah, ternyata semua justru sedang sibuk ke sana kemari memperpanjang masalah. Modus ini hampir di semua bidang,” ucapnya.

Menurut Fahri, defisit yang dialami BPJS Kesehatan saat ini bukan permasalahan remeh, tetapi masalah strategis. Maka dari itu, menurutnya, jangan dilempar begitu saja kepada direktur BPJS Kesehatan dan Kemenkes, karena mereka hanya skrup dari sistem besar yang gagal mengatasi masalah ini.

“Ada ratusan rumah sakit dan institusi kesehatan yang terganggu opersionalnya. Perusahaan farmasi dan penyedia obat terancam gulung tikar. Dan, di sana ada peserta BPJS yang sebagian besar adalah rakyat tidak mampu. Bahkan, saat ini jumlah kepesertaannya sudah 77% (201 juta jiwa). Ada jutaan tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan) yang terhimpit nasibnya dan bergantung pada sukses program ini,” ungkap dia.

“Hari ini saya mengingkatkan pak Jokowi jika BPJS Kesehatan sedang mengalami masalah yang tidak bisa dianggap enteng. Karena itu negara harus hadir, Presiden harus tanggap dan peduli. Kalau Presiden peduli, sebenarnya permasalahan mudah diselesaikan,” pungkasnya.

Recent Posts

Menag Instruksikan Layanan Publik Kemenag Tetap Optimal Meski WFH

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar menginstruksikan seluruh jajaran Kementerian Agama (Kemenag) untuk memastikan…

6 jam yang lalu

ORBIT UNPAM Jadi Jembatan Siswa Menuju Dunia Kampus dan Karier yang Cemerlang

MONITOR, Tangerang Selatan – Universitas Pamulang (UNPAM) resmi memulai rangkaian program ORBIT (Orientation for Ready-to-Work, Business, &…

6 jam yang lalu

TNI Gerak Cepat Evakuasi Korban dan Tangani Dampak Bencana Gempa Sulawesi Utara

MONITOR, Sulawesi Utara — Prajurit TNI bergerak cepat menangani dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang…

6 jam yang lalu

Pemkot Tangsel Ajak Warga Sukseskan ORI Campak, Targetkan 109 Ribu Anak

MONITOR, Tangsel – Pemerintah Kota Tangerang Selatan mulai menggelar program Outbreak Response Immunization (ORI) secara…

7 jam yang lalu

Kecam Serangan AS-Israel, MUI: Melanggar Hukum Internasional

MONITOR, Jakarta — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh, mengecam keras…

10 jam yang lalu

Kemenperin Pacu Implementasi TKDN melalui Sertifikasi Profesi Verifikator

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian terus memperkuat implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) guna…

12 jam yang lalu