Stop Impor, Produksi Jagung di Jawa Timur Melimpah Ruah

1038
Ditjen Tanaman Pangan Kementan terus meningkatkan usaha panen para petani jagung

MONITOR, Jakarta – Produksi jagung Jawa Timur menjadi kontributor tetap dan terbanyak secara nasional yaitu 6.18 juta ton. Hal tersebut terlihat dari data produksi jagung di tahun 2017 telah mencapai 27,95 juta ton. Jumlah itu tumbuh 18,55 persen dibanding tahun sebelumnya, dan mampu menghentikan impor produk jagung.

Untuk tahun 2018 ini, tim dari Direktorat Serealia, Ditjen Tanaman Pangan melakukan kunjungan kerja di empat Kabupaten dalam rangka koordinasi tanaman jagung khususnya Kabupaten Tuban, Lamongan, Nganjuk dan Jombang.
Hasil kunker di Kabupaten Lamongan tepatnya di lokasi sentra tanaman jagung Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang.

Kepala UPT Dinas Pertanian Kecamatan Ngimbang, Budi Harnowo menjelaskan tanaman jagung di Desa Sendangrejo ini sangat potensial. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil ubinan 10,5 ton/ha jagung pipilan kering dengan kadar air 17 persen, dengan luas tanaman jagung di Desa Sendangrejo seluas 100 ha. Untuk harga jagung rata-rata Rp. 4.300 – 4.500/kg pipilan kering.

“Sementara luas tanaman jagung di Kabupaten Lamongan 40.970 ha. Pada Oktober ini panen jagung di Kabupaten Lamogan sudah mencapai 50 persen. Sisanya di akan di bulan November 2018,” pungkasnya.

Para petani dari beberapa kelompok tani (poktan) berharap agar pemerintah tidak mengimpor jagung. Mereka menilai harga jagung saat ini cukup membuat petani tersenyum.

Pemilik salah satu gudang pengepul jagung di Desa Belahan Kecamatan Ngimbang, Oni Hendrawan menuturkan menerima pembelian jagung dari petani berkisar Rp 4.550 – 4.600/kg dengan kadar air 17 persen.

Untuk pembelian perhari sekitar 10 – 50 ton, yang selanjutnya akan dikirim ke pabrik swasta pakan ternak di Kabupaten Malang dan Blitar.

“Harga berkisar Rp 4.900/kg di swasta di Surabaya, Rp 5 ribu/kg di Kabupaten Malang, dan Rp 4.950 di Blitar,” jelasnya.

Panen Dimana-mana

Di Kabupaten Tuban, panen jagung tengah berlangsung pada lahan seluas 143 ha. Tepatnya di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak. Ketua Kelompok Tani Sami Makmur, M.Sutriyono, dan para anggotanya, beserta Penyuluh Petani Lapangan (PPL) setempat Sri Utami.

“Harga jagung Rp 4.800/kg dengan kadar air 17 persen untuk varietas jagung Bisi 18. Hasil per ha 7 – 9 ton jagung pipilan kering, jumlah keseluruan tanaman jagung di kecamatan Merakurak 1.426 ha,” terang Sri Utama.

Diperkirakan pada akhir Oktober akan terpanen semua. Total dari tanaman jagung untuk Kabupaten Tuban seluas 112.504 ha.

“Kami ucapan terima kasih kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman atas bantuan berupa combine harvester, alat panen jagung yang sangat membantu. Dan mohon jangan impor,” tandasnya berapi api.

Untuk Kabupaten Nganjuk luas panen jagung di Desa Kenep 101 ha dengan varietas DK 77. Produktivitasnya mencapai 11.5 ton/ha dengan kadar air 30 persen dan harga jagung berkisar Rp 3.600/kg.

Luas Tanam Jagung Juni – September 28.649 ha, Panen Juni – September 14.898 ha. Sisa yang belum panen 13.751 ha. “Realisasi panen Oktober 1.762 ha. Rencana panen hingga akhir Oktober 8.874 ha. Rencana panen November : 4.877 ha,” papar Kasi Produksi Tanaman Pangan, Yoyok.

Ketua Kelompok tani Sido Dadi Kecamatan Loceret, Musiran, menceritakan dirinya bersama kelompok tani yang lain menolak impor dan yakin para petani mampu memenuhi kebutuhan untuk industri pakan ternak.

“Panen kami di lahan seluas 85 ha dilakukan di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Produktivitas mencapai 9 ton/ha dengan kadar air 14 persen dan harga rata-rata Rp 4.600/Kg,” bebernya.

Sementara di Desa Japanan, Kecamatan Gudo luas panen per-Oktober 2018 yakni 83 ha, harga 4.850/kg dengan varietas Bisi 18 dan NK 212. PPL Mojoagung, Ahmad menjabarkan untuk luas secara keseluruhan tanaman jagung Kabupaten Jombang yaitu 35.189 ha.