Strategi Ditjen Tanaman Pangan Siasati Penanaman Padi di Musim Kemarau

1031
Pengairan sawah terdampak kemarau sebagai bentuk program Penerapan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PPDPI)

MONITOR, Jakarta – Musim kemarau yang masih berlangsung hingga bulan ini Oktober 2018 dapat mempengaruhi produksi padi nasional.

Untuk itu, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyiasati hal tersebut dengan program Penerapan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PPDPI) untuk merangsang kemandirian petani  beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Kegiatan itu dilakukan melalui penerapan teknologi adaptif di lahan usahataninya terutama di wilayah yang rawan banjir/kekeringan. Tahun 2018 ini kegiatan PPDPI dialokasikan sebanyak 40 unit (400 ha) yang tersebar pada 18 provinsi.

Menurut Direktur Perlindungan TP, Yanuardi, kegiatan PPDI telah dimulai sejak Tahun 2015 ini,  teknologi sederhana yang diterapkan oleh kelompok tani sesuai dengan kriteria dan spesifikasi lahannya.

Pada wilayah rawan banjir, teknologi yang diterapkan adalah biopori, sedangkan pada wilayah rawan kekeringan sumur suntik/pantek sebagai alternatif atau solusi pengairan pada saat mengalami keterbatasan air akibat sungai dan irigasi yang kering.

“Dengan memanfaatkan air dalam tanah, dibuat titik sumur untuk selanjutnya di pompa menggunakan mesin pompa portable. Pengggunaan teknologi biopori maupun sumur suntik, tidak saja di satu musim tanam tetapi dapat digunakan secara berkelanjutan pada musim tanam selanjutnya,” ungkap Yanuardi

Beberapa wilayah di Indonesia diketahui sebagai daerah yang rawan kekeringan. Kasubdit Penanggulangan Dampak Perubahan Iklim, Baskoro Sugeng Wibowo mencontohkan desa rawan kekeringan di Desa Margosari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, DI. Yogyakarta.

Daerah tersebut merupakan daerah yang rawan kekeringan karena lokasinya di hilir sehingga mendapatkan giliran air terakhir. Ketika debit air mulai berkurang bisa dipastikan lahan-lahan di Kelompok Tani Suka Tani akan mengalami kekeringan, tambah Baskoro.

Menyikapi hal tersebut, Kelompok Tani Suka Tani yang ada di wilayah tersebut dijadikan sebagai salah satu kelompok pelaksana kegiatan PPDPI. Pemilihan teknologi adaptif di Kelompok tersebut adalah sumur suntik/pantek, dengan membuat kedalaman 20 meter yang dapat menyedot air tanah hingga dapat mengairi pertanaman.

Kelompok yang memiliki luas baku lahan 15 ha, membuat 15 titik sumur dengan anggaran yang difasilitasi oleh Kementan dan didukung dengan dana swadaya petani, sehingga keseluruhan luasan kelompok dapat diairi dengan sumur suntik/pantek, jelas Baskoro.

Selain penggunaan teknologi adaptif juga dilakukan pertemuan kelompok sebagai ajang diskusi bagi anggota kelompok selama mengikuti kegiatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan kemandirian petani dalam penanganan DPI.

“Keberhasilan panen di tengah musim kemarau menjadi bukti bahwa DPI bukan menjadi halanga, justru menjadi tantangan agar petani lebih mandiri dan memiliki kemampuan dalam penanganan DPI di lahan usaha taninya,”pungkas Baskoro