OPINI

Efek Domino Kebohongan Ratna Sarumpaet

Oleh: Emrus Sihombing

MONITOR – Publik dikejutkan pengakuan jujur Ratna Sarumpaet (RS) atas kebohongan yang dilakukannya sendiri. Menarik menyimak pernyataan pengakuan tersebut melalui berbagai media.

Setidaknya, ada sembilan catatan saya yang kurang produktif terkait pengakuan kebohongan RS dari aspek komunikasi politik di tengah tahun politik saat ini.

Pertama, setiap pesan yang dilontarkan ke ruang publik, termasuk hoaks yang disampaikan RS, tidak bisa ditarik apalagi hilang sekalipun minta maaf.

Kedua, setiap pesan komunikasi, termasuk yang disampaikan RS utamanya dalam bentuk hoaks, ujaran kebencian dan eksploitasi SARA akan tersimpan di peta kognisi khalayak (publik) lebih lama.

Ketiga, kebohongan awal yang dilakukan seseorang, siapapun dia termasuk RS, akan cenderung dilanjutkan dengan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Keempat, kepercayaan khalayak terhadap RS secara hopitetis akan tergerus tajam. Kredibilitasnya terjum bebas di mata publik.

Kelima, merujuk pada teori gunung es, kebohongan RS tersebut sebagai puncak dari perilaku yang diperankan RS sebelumnya. Artinya, publik sulit percaya kepada pernyataan RS sebelumnya sepanjang sebagai aktifis.

Keenam, langsung atau tidak langsung, kredibilitas para tokoh yang “termakan” dari pengakuan awal dari RS secara hipotetis akan dipertanyakan oleh publik karena tidak melakukan klarifikasi dari berbagai sumber. Antara lain dari dokter yang menangani RS, sebelum memberikan tanggapan di ruang publik.

Ketujuh, pengakuan kebohongan RS bisa berimbas kurang baik terhadap pemimpin yang sempat mendapat dukungan dari RS.

Kedelapan, pengakuan kebohongan dari RS bisa mempengaruhi sikap publik dan perilaku memilih masyarakat kepada salah satu paslon pilpres pada pemilu 2019.

Kesembilan, perlu diketahui bahwa lebih sulit memperbaiki citra yang sudah kurang baik daripada membangun atau menciptakan citra baru.

Karena itu, sangat sulit me-recover citra tokoh yang didukung oleh RS karena elit utama dari koalisi tersebut sudah sempat memberikan pernyataan dukungan penuh terhadap pengakuan yang sebelumnya dilakukan oleh RS dan kemudian diakuinya sebagai kebohongan.

Untuk itu, menurut hemat saya tim dari poros politik yang didukung oleh RS harus segera menyusun dan mengimplementasikan strategi dan program komunikasi politik yang jitu untuk mewujudkan perjuangan politik.

Antara lain, menjelaskan bahwa itu merupakan tindakan personal dari RS itu sendiri, sehingga menjadi urusan pribadi yang bersangkutan apapun konsekuensi dari perilaku komunikasi kebohongan tersebut.

Penulis Adalah Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner

Recent Posts

Disamarkan sebagai Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Digagalkan di Bandara RHF

MONITOR, Tanjungpinang - Sebanyak 1.728 ekor kuda laut kering dengan berat total 6,5 kilogram ditemukan…

6 jam yang lalu

Sambut Andrea Bocelli, Hery Haryanto Azumi: Musik Bisa jadi Jembatan Peradaban di Tengah Konflik Global

MONITOR, Jakarta - Musik dapat menjadi ruang perjumpaan lintas bangsa dan budaya ketika dunia diwarnai…

2 hari yang lalu

Menag Dorong Kemandirian Pesantren, Apresiasi Inovasi Ekonomi dan Digital Al Yasini

MONITOR - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memperkuat kemandirian dan…

2 hari yang lalu

Kemnaker Hadirkan Pelatihan Vokasi bagi Masyarakat Terdampak Gempa di NTT

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui Kemnaker Peduli Bencana terus memberikan dukungan kepada masyarakat…

3 hari yang lalu

Mahasiswa UID, Sutan Akhyar Rajabi Jadi Pemuda Pelopor Terbaik Depok 2026 Bidang Pendidikan

MONITOR, Depok — Mahasiswa Universitas Islam Depok (UID), Sutan Akhyar Rajabi, berhasil meraih Juara 1…

3 hari yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Ma’had Aly Perlu Diperlakukan Setara dalam Sistem Pendidikan Nasional

MONITOR, Jakarta - Guru Besar Pemikiran Pendidikan Islam Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta sekaligus Pendiri Jaringan…

3 hari yang lalu