Buah Naga Kabupaten Keerom Papua Tinggi Peminat

Buah naga

MONITOR, Papua – Selain kekayaan budaya yang luar biasa, ternyata alam Papua juga menghasilkan aneka buah-buahan seperti durian, pisang dan matoa yang terkenal sebagai buah asli tanah Papua.

Kini, tepatnya di wilayah transmigran, Kabupaten Keerom Papua banyak dikembangkan buah naga. Lokasi tempat pembudidayaan ini dapat ditempuh sekitar 2 jam dengan kendaraan roda 4 dari Kota Jayapura.

Ide awal menanam buah naga ini adalah inisiatif coba-coba Sobikhan dan Samirun, transmigran yang saat itu mendapatkan kiriman varietas Sabila dari Jogjakarta.

“Waktu itu kami dapat kiriman buah naga varietas Sabila dari Jogjakarta. Benih buah naga didapat dengan cara order online sebanyak 200 stek dengan harga Rp165.000/ stek. Namun setelah ditanam yang bisa tumbuh dan bisa menghasilkan hanya 180 stek saja”, terang Sobikhan. Dia pun bercerita jumlah tersebut saat ini menjadi sumber bibit buah naga di Kabupaten Keerom dan Papua pada umumnya, Rabu (3/10).

Berkat ketekunan dan bimbingan dari Dinas Pertanian setempat, 180 batang stek buah naga Sabila ini dapat tumbuh baik dan berkembang menjadi 750 pohon.

“Kami dibantu Dinas Pertanian setempat. Dari 180 batang stek sisanya, ternyata bisa tumbuh subur dan berkembang menjadi 750 pohon”, tambah Samirun.

Seiring perjalanan waktu, keberhasilan tersebut menarik minat para tetangga sesama transmigran dan anggota kelompok tani. Mereka kemudian bersama 14 orang membentuk kelompok tani dengan nama ‘Mekar Karya’ guna memfokuskan diri menanam. Saat ini nama ‘Mekar Jaya’ menjadi brand buah naga produksi kebun buah naga di Kabupaten Keerom.

Keberhasilan kelompok tani ini menular kepada kelompok tani untuk mencoba bertanam buah naga. Sebut saja Kelompok Tani Arso, Kelompok Tani Merauke, Kelompok Tani Biak, Kelompok Tani Serui dan Kelompok Tani Sorong (ARMEBISS) yang anggotanya 100% OAP (Orang Asli Papua).

Kini budidaya tanam buah naga di Kabupaten Keerom tersebar di Arso 14, Arso 13, Arso 4, Arso 12, Arso 9 Distrik Sukanto dan Kampung Yowong di Distrik Arso Barat. Total tanaman sekitar 9.000 pohon dengan jumlah produksi pada Tahun 2018 sebesar 5.000-8.000 kg/bulan.

Buah naga kebanggaan Kabupaten Keerom ini memiliki ciri-ciri antara lain berukuran besar dengan berat rata-rata 800 gr. Warna kulitnya merah marun serta memiliki rasa manis yang tajam. Tak mengherankan buah naga ini tinggi peminatnya. Pasar buah ini terdapat di pasar modern di Kota Jayapura, antara lain Hypermart, Sagamall, Holl@, Megamall serta kabupaten lain seperti Wamena dan Mimika.

Atas keberhasilannya, buah naga Kabupaten Keerom sering mengikuti pameran pameran resmi yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Dinas Perbatasan (Cross Border), serta Dinas Perdagangan. Bahkan belakangan ini sering diliput stasiun TV lokal maupun nasional seperti I NewsTV, TVRI, Papua TV dan JayaTV.

Olahan buah naga

Selain menyediakan buah segar, buah naga Kabupaten Keerom juga diolah menjadi beberapa makanan olahan. Hasilnya berupa es krim buah naga, puding buah naga, es buah naga, jus buah naga, dodol buah naga dan selai buah naga. Produk ini dipasarkan di Kota Jayapura danmenjadi buah tangan bagi wisatawan. Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Mekar Jaya melalui program PI-PRUKADES juga mengelola kebun buah dengan buah naga sebagai produk unggulannya. Berkat usaha maksimal, pada tahun 2017 kebun tersebut berkembang menjadi lahan agrowisata.

Dengan pola tanam yang baik dan pemenuhan nutrisi yang cukup, buah ini tersedia sepanjang tahun dan tidak mengenal musim. Di tingkat petani , buah naga ini dihargai Rp 30.000/kg. sementara harga di tingkat retail di Kota Jayapura Rp 35.000/kg.

Melihat potensi buah naga di Kabupaten Keerom, Sarwo Edhy, Direktur Buah dan Florikultura merasa bangga dan mengapresiasi kegigihan para petani. Menurutnya, usaha tanam ini patut menjadi menjadi contoh bagi para transmigran.

“Saya merasa bangga dan mengapresiasi ketekunan dan keuletan Bapak Sobikhan dan Bapak Samirun serta kawan-kawan yang telah berhasil bertanam buah naga. Ini menjadi contoh bagi para tetangga sesama transmigran, dan mengharapkan agar hal tersebut dapat menginspirasi bagi transmigran lainnya untuk terus terus bertanam dan mengembangkan buah-buahan asli Indonesia”, jelas Sarwo Edhy.