Sejarah Abu-abu Pemberontakan G30S

Ilustrasi (Foto: Konfrontasi.com)

MONITOR – Masih ingat dengan peristiwa kekejaman G30S/PKI yang meninggalkan coretan hitam dalam sejarah bangsa Indonesia? Ya, tepat pada hari ini, Minggu 30 September 2018 pemberontakan itu terjadi.

Gerakan 30 September (Gestapu), atau biasa disingkat dengan sebutan G30S/PKI adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada malam hari yang berlangsung dari tanggal 30 September – 1 Oktober 1965, yaitu ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh.

Persitiwa Gestapu masih menjadi sejarah abu-abu dan samar hingga saat ini karena dipenuhi intrik politik terutama tentang siapa aktor utama dibalik peristiwa memilukan itu. Banyak yang menyebut PKI dijadikan kambing hitam, namun lebih banyak yang yakin bahwa PKI adalah biang kerok peristiwa itu sebagaimana propaganda yang terus dilakukan setidaknya selama 33 tahun kepemimpinan orde baru termasuk melalui pemutaran film “G30SPKI”

Widget Situasi Terkini COVID-19

Peristiwa gestapu tidak pernah meninggalkan catatan apik dan akurat dan terang benderang hingga saat ini terlebih korban dan orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut tidak pernah benar-benar didengarkan kesaksiannya untuk diinvestigasi. Pengungkapan peristiwa gestapu menjadi sensitif karena ia sudah bercampur dengan sentimen anti komunisme dan lain-lain.

Sejarah penghianatan yang abadikan dalam film dokumenter dan kerap diputar setiap tanggal 30 September itu akhirnya dihentikan oleh pemerintah.

Penghentian pemutaran film diputuskan oleh Juwono Sudarsono, saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden BJ Habibie. Para menteri menginginkan bahwa hal yang menyangkut masalah sejarah, perlu dilakukan peninjauan ulang agar lebih menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

Film G 30 S/PKI Propaganda

Dalam deretan sinema Indonesia, film-film yang dianggap bersejarah oleh negara bukan hanya hiburan semata. Unsur propaganda dan doktrin penguasa sangat kuat di dalamnya. Salah satunya yaitu film tentang Penghianatan G 30 S/PKI (1984).

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Budi Irawanto mengatakan film penghianatan G30S merupakan bukti hegemoni Orde Baru begitu rapi dan kuat dalam menanamkan jejaknya di masyarakat untuk melanggengkan kekuasaannya.

“Film Penghianatan G 30 S/PKI adalah salah satu film terbaik dalam menyebar propaganda dan kebencian kepada musuhnya, PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), dan itu tertanam dalam benak satu generasi,” ujar Budi seperti dilansir merdeka.com.

Menurutnya, yang membuat ingatan masyarakat sangat kuat terhadap film tersebut karena film itu disiarkan secara nasional sejak 1985 yang diputar setiap 30 September dan dihentikan penayangannya secara nasional sejak 1998.

Kuatnya pesan film itu, menurut Budi, didukung oleh perangkat-perangkat lainnya, seperti penjelasan film yang diteruskan dalam pelajaran pendidikan moral pancasila dan pelajaran sejarah perjuangan bangsa di sekolah.

Padahal menurut Budi, isi film tidak menunjukkan sejarah yang sebenarnya. “Film itu memang tidak menggunakan berbagi sumber dalam pembuatannya, sengaja untuk memojokkan lawan politik penguasa dan itu politis,” kata Budi lebih lanjut.

Namun, Budi mengakui, film itu secara sinematografis memang bagus dan meyakinkan sebagai film sejarah meski tidak memuat fakta sebenarnya.

Analisa yang lebih dalam dibahas dalam buku, ‘Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia’, karya Katherine E McGregor, film Penghianatan G 30 S/PKI adalah salah satu cara Orde Baru dalam menggambarkan usaha kudeta oleh PKI.

Tafsir peristiwa yang digunakan Orde Baru dalam film itu adalah salah satu upaya meyakinkan masyarakat, kudeta itu dilakukan oleh komunis dan bukan pihak militer. Peristiwa itu dijadikan alasan oleh Orde Baru untuk membenarkan tindakannya untuk berkuasa.

Sedangkan menurut Bambang Purwanto, Profesor Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam pengantar buku itu, tiap rezim di Indonesia menggunakan sejarah sebagai topeng untuk mendukung kekuasaannya.

Bila perlu dengan membuat tafsir baru atas mitos-mitos lama atau memproduksi mitos-mitos baru. “Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia dari benturan antara kolonialisme dan imperialisme dalam melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu,” tulis Bambang mengomentari karya Katherine E. McGregor itu.

Dalam Buku itu Katherine E. McGregor mengakui, dia ingin mengungkapkan peran Orde Baru dengan militernya dalam menggambarkan masa lalu Indonesia. Salah satunya dengan media visual, yang dukung oleh buku-buku pelajaran, monumen-monumen, film, hingga diorama yang di pajang dalam museum.

Dalam analisa Katherine, pembuatan dan pemaknaan sejarah baru oleh Orde Baru melalui media visual dan film sangat efektif. Hal itu terkait dengan jumlah penduduk Indonesia pada saat itu masih memiliki tingkat buta huruf yang tinggi, maka dengan pembuatan sejarah melalui media visual diharapkan bisa menjangkau seluruh Indonesia.

Analisa itu muncul setelah Katherine membaca dokumen dari Departemen Pertahanan dan Keamanan Pusat sejarah Angkatan Bersenjata Indonesia dalam merancang semua itu. Katherine mengutip Nugroho Notosutanto dalam dokumen itu, “Di dalam masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia, di mana kebiasaan membaca pun masih sedang berkembang, kiranya historio-visualisasi masih agak efektif bagi pengungkapan identitas ABRI.”

Tidak mengherankan kelanggengan Orde Baru berkuasa dijaga dengan strategi yang rapi. Pengaruh kekuasaan sudah dijaga dengan doktrin yang sudah ditanamkan dalam melalui buku pelajaran, film, museum, monumen, hingga rancangan diorama yang begitu detail. Meski begitu, tidak jarang menggunakan kekerasan.

Budi Irawanto belum mengetahui apakah dalam pembuatan film propaganda G 30 S/PKI juga menggunakan kekerasan untuk semua anggota penggarapnya. Meski film itu bermuatan politis, namun penggarapannya serius bahkan dalam produksinya mengikutsertakan sutradara kawakan Arifin C. Noer.

“Kita belum tahu apa alasan Arifin mau menerima isi pesanan film penguasa saat itu,” kata Budi.

Tujuh Jenderal Korban Kekejaman PKI

Dilansir dari Wikipedia, berikut 7 Jenderal korban kekejaman pengianatan G30S/PKI.

1.Jenderal Ahmad Yani

Ahmad Yani lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922. Karir militernya diawali  dengan wajib militer di Malang saat pemerintahan Belanda.

Di zaman Jepang, ia juga sempat bergabung dengan PETA. Sejumlah prestasi di bidang militer berhasil ia raih, salah satunya mengalahkan pemberontak DI/TII.

Ia dijadikan target penculikan dan pembunuhan G30S/PKI karena menolak pembentukan Angkatan Kelima, yakni buruh dan tani yang dipersenjatai.

Ahmad Yani dibuang di sumur Lubang Buaya, dengan tubuh penuh luka tembak.

2. Letjen Suprapto

Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, ini boleh dibilang hampir seusia dengan Panglima Besar Sudirman. Usianya hanya terpaut empat tahun lebih muda dari sang Panglima Besar.

Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941.

Suprapto juga menolak usul pembentukan Angkatan Kelima. Oleh karena itu pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, Suprapto diculik dan dibunuh.

Ia juga dikubur di sumur Lubang Buaya.

3. Letjen M T Haryono

Jenderal bintang tiga kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum).

Jenderal bintang tiga ini dikenal sangat cerdas dan menguasai tiga bahasa asing yakni Belanda, Inggris serta Jerman.

Dia ditembak mati, diseret melalui kebun, dan tubuhnya dibawa ke salah satu truk yang menunggu. Tubuhnya dimasukkan ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya.  Jenazahnya disembunyikan di sumur bekas bersama dengan mayat para jenderal dibunuh lainnya.

4. Letjen Siswondo Parman

Pria kelahiran Wonosobo tanggal 4 Agustus 1918 ini merupakan tentara intelejen yang tahu bagaimana gerak-gerik PKI. Ia juga menolak usul D. N. Aidit tentang pembentukan Angkatan Kelima.

Parman sempat belajar di Sekolah Tinggi Kedokteran, tetapi urung mendapatkan gelar dokter karena Jepang telah berkuasa.

Parman adalah salah satu dari enam jenderal yang dibunuh anggota Gerakan 30 September. Dia telah diperingatkan beberapa hari sebelum kemungkinan gerakan komunis. Pada malam 30 September-1 Oktober, tidak ada penjaga yang mengawasi rumah rumah Parman di Jalan Syamsurizal no.32

Malam itu, bersama dengan tentara lain yang telah ditangkap hidup-hidup, Parman ditembak mati dan tubuhnya dibuang di sebuah sumur bekas yang dikenal dengan Lubang Buaya.

5. Mayjen D. I. Pandjaitan

Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 19 Juni 1925. Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Karirnya terus naik, mulai dari komandan batalyon, lalu menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, hingga menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Mayjen D. I. Pandjaitan juga menjadi sasaran penculikan dalam G30S/PKI dan mayatnya ditemukan di lubang buaya.

6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo

Sutoyo lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan sekolahnya sebelum invasi Jepang pada tahun 1942, dan selama masa pendudukan Jepang, ia belajar tentang penyelenggaraan pemerintahan di Jakarta.

Dia kemudian bekerja sebagai pegawai pemerintah di Purworejo, namun mengundurkan diri pada tahun 1944.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Sutoyo bergabung ke dalam bagian Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

Hal ini kemudian menjadi Polisi Militer Indonesia. Pada Juni 1946, ia diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, komandan Polisi Militer.

Ia terus mengalami kenaikan pangkat di dalam Polisi Militer, dan pada tahun 1954 ia menjadi kepala staf di Markas Besar Polisi Militer.

Ia memegang posisi ini selama dua tahun sebelum diangkat menjadi asisten atase militer di kedutaan besar Indonesia di London

Setelah pelatihan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung dari tahun 1959 hingga 1960, ia diangkat menjadi Inspektur Kehakiman Angkatan Darat, kemudian karena pengalaman hukumnya, pada tahun 1961 ia menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama.

Anggota Gerakan 30 September memaksa dan menjemputnya dengan mengatakan bahwa Sutoyo dipanggil Presiden Soekarno

Mereka kemudian membawanya ke markas mereka di Lubang Buaya. Di sana, dia dibunuh dan tubuhnya dilemparkan ke dalam sumur.

7. Kapten Pierre Tendean

Kapten Pierre Tendean mengawali karir militer sebagai intelejen. Saat G30S/PKI terjadi, ia menjadi ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.

Kala itu, anggota Gerakan 30 September mengira Pierre adalah AH Nasution. Oleh karena itu, ia dibawa ke Lubang Buaya.

Di sana, ia disiksa dan dibunuh. Jasadnya dimasukkan ke sumur tua bersama enam orang lainnya.