Kematian Haringga dan Berhentinya Liga 1 Indonesia

1051
Ilustrasi Tim Persija dan Persib sedang berlaga

MONITOR – Tragedi mengenaskan yang menimpa suporter Persija, Haringga Sirila (23), membuat Menpora Imam Nahrawi berang. Seketika, Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rachmayadi menjadi sorotan tajam dari berbagai kalangan. Banyak desakan agar Edy memberhentikan Liga 1 2018 agar tak lagi memakan korban.

Haringga menjadi korban keberingasan Bobotoh, julukan suporter Persib, saat akan menonton laga pertandingan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Insiden nahas itu terjadi di area parkir gerbang biru. Haringga dikejar dan diteriaki massa sebagai “pendukung Persija”.

Korban yang saat itu dikejar sempat meminta pertolongan pada pedagang di sekitar area tersebut. Sayangnya, nasib tragis. Ia tertangkap dan dipukuli menggunakan balok kayu, piring, botol, dan benda-benda lainnya hingga meninggal dunia.

Insiden tragis ini menuai respon cepat dari para stakeholder. Tepat pada Selasa (25/9) malam, Edy resmi membekukan kompetisi LIga 1 untuk sementara waktu. Edy yang merupakan Gubernur Sumatera Utara ini menegaskan, pertandingan sepak bola itu dihentikan sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

“PSSI hentikan sementara Liga 1 senior dalam pertandingan putaran kedua, sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan,” ujar Edy dalam konferensi pers.

Keputusan PSSI ini disambut baik oleh Kemenpora. Menteri Imam Nahrawi selaku penanggungjawab olahraga dan APPI selaku perwakilan para pemain profesional pun satu suara tentang pembekuan liga untuk sementara waktu. Adanya pembekuan ini, Menpora berharap semua pihak yang terlibat dalam kompetisi bisa berbenah diri.

Bagi Imam, harga satu nyawa sangatlah mahal dibandingkan dengan turnamen sepak bola. Tragedi maut ini diharapkan menjadi yang terakhir dan tak lagi terulang. Kesedihan menteri asal Madura ini cukup terlihat, menurutnya pertandingan bola semestinya menjadi ajang untuk mempersatu bangsa. Sarana ini juga haras dimanfaatkan sebagai ajang hiburan atau pendongkrak prestasi, bukan malah menjadi medan peperangan dan pertumpahan darah antar anak bangsa.

“ini bukan tragedi sepak bola, ini tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan,” ucap Imam Nahrawi.

Sebagaimana diketahui, Liga 1 yang sebelumnya bernama Indonesia Super League adalah liga profesional level teratas dalam Sistem liga sepak bola di Indonesia. 18 klub didalamnya bersaing untuk menjadi juara dengan sistem kompetisi promosi dan degradasi.

Mendulang Dukungan Luas

Keputusan Edy Rachmayadi untuk menghentikan Liga 1 untuk sementara waktu menjadi pujian sekaligus dukungan. Manajer Persija Jakarta, Marsma TNI Ardhi Tjahjoko, menyatakan sepakat dengan keputusan PSSI jikalau tujuannya untuk menangani tewasnya suporter bola.

“Sekali lagi ini sudah keputusan stakeholder sepakbola Indonesia (seperti PSSI, PT LIB maupun Kemenpora) jadi kami ya harus ikuti. Mudah-mudahan bisa diambil hikmah dan ada jalan keluarnya,” kata Ardhi Tjahjoko.

Begitupun Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia sangat berharap pengelolaan suporter di stadion lebih ditingkatkan. Upaya meminimalisir potensi kerawanan perkelahian antar suporter pun perlu ditingkatkan lagi. Politkus senior Golkar ini juga menilai hukumannya harus benar-benar memberikan efek jera.

“Ini harus dibikin aturan yang ketat. (Misal) Dia punya timnya diskors, satu tahun, jelas begitu. Tidak bisa semua dihentikan, nanti sepakbola Indonesia bagaimana,” ujar Jusuf Kalla.