Babak Baru ‘Perseteruan’ SBY vs Istana

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (dok: Instagram)

MONITOR – Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) naik pitam. Mantan Presiden ke-6 RI itu mengaku terusik atas apa yang disebutnya sebagai fitnah yang disebarkan media asing yang berbasis di Hongkong, Asia Sentinel. Sang penulis, John Berthelsen, dalam artikelnya berjudul “Indonesia’s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy” menuding bahwa rezim SBY (2004-2014) terlibat skandal pencurian uang pembayar pajak senilai 12 miliar dolar AS dan menyebutnya sebagai konspirasi kejahatan besar di balik skandal bail-out Bank Century.

Bank Century yang telah berganti nama menjadi Bank Mutiara itu, dituliskan John, sebagai “Bank SBY”. Penyebabnya, diduga kuat Century memberikan dana gelap untuk menunjang Partai Demokrat. Tak tanggung-tanggung, SBY dituding menggunakan Bank Century untuk melakukan pencucian uang sebesar US$12 miliar, atau sebesar Rp 177 triliun.

Sakit hati bukan main. SBY merasa dipermainkan elit pemerintah. Ia heran, Pilpres 2019 yang konon disebut “medan perang” antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto, justru SBY dan partainya yang terus-terusan dihajar. Beberapa kali SBY menjadi bulan-bulanan media massa.

Kasus Bail-out Bank Century terjadi sepuluh tahun silam. Namun seolah kembali dimunculkan sebagai pengalihan isu jelang kontestasi Pilpres 2019. SBY marah, ia sibuk melakukan klarifikasi di berbagai media massa untuk mengembalikan reputasinya dan Partai Demokrat.

Tudingan ini pun membuat kader Demokrat marah besar. Saking geramnya, partai Demokrat berjanji akan terus mengejar Asia Sentinel hingga ketemu aktor intelektual yang memfitnah SBY hingga ke ujung dunia.

“Fitnah, saya memahami, gusar karena fitnah dimunculkan di musim pemilu dengan motif dan kepentingan politik,” ujar SBY.

Masih menurut SBY, sejak tak lagi berkuasa dirinya kerap jadi sasaran empuk para penguasa. Seperti Pilkada 2017 kemarin, ia mengaku ‘dihajar’ bertubi-tubi lantaran pilihannya berseberangan dengan penguasa.

“Yang saya alami sekarang ini sama dengan Pilkada 2017 lalu. Saya dihajar bertubi-tubi, dari satu fitnah ke fitnah yang lain,” kenang SBY.

Satu-satu persatu orang penting di negeri ini didatanginya. Namun percuma, saat ia melakukan klarifikasi, semuanya justru menyangkal dan cuci tangan.

“Saya ini bukan anak kecil,” tegas SBY dengan ketus.

Beragam tudingan miring membuat batas kesabaran SBY habis. Ia cukup menyayangkan politik di negeri ini tampak keji, tak seperti yang dia bayangkan. Apakah politik itu harus begini? begitulah ungkapan mantan Jenderal TNI ini.

SBY kuat meyakini, fitnah keji yang mencemari nama baiknya dan Partai Demokrat berkaitan dengan Pemilu 2019 mendatang. Ia pun bertanya-tanya, apakah hingga kini dirinya dianggap ‘momok’ bagi para pemangku kepentingan di negeri ini.

“Apakah saya harus mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil, seperti di era penjajahan dulu, supaya saya tidak bisa berbicara dan melakukan kegiatan politik?” tanya SBY.

Menantang sang propaganda

SBY meyakini kuat, konspirasi tersebut dibuat oleh barisan penguasa. Belum lama ini, suami dari Ani Yudhoyono itu mencatut nama elit istana, yakni Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko. Ia pun menyindir, siapapun aktor intelektual di balik pemberitaan Asia Sentinel, harus berani bertangungjawab.

“Kalau memang ksatria dan bertanggungjawab, yang menuduh saya melakukan pencucian uang dengan jumlah yang sulit saya bayangkan itu, apakah orang asing, atau sesama bangsa Indonesia, politisi, intel atau Jenderal, termasuk yang ada di barisan penguasa, mari kita selesaikan urusan ini. Jangan lempar batu sembunyi tangan. Jangan memancing di air keruh,” tantang SBY.

Begitupun anak buahnya, Andi Arief selaku Wasekjen DPP Demokrat. Andi belakangan ini mengatakan, dari hasil investigasi sementara kasus tersebut melibatkan media group milik James Riyadi dan berhubungan dengan Bravo 5.

“Hasil investigasi sementara fitnah terhadap SBY dan Demokrat di Asia Sentinel ini melibatkan media-media group milik James Riyadi dan berhubungan dengan Bravo Lima,” ujar Andi Arief, dalam laman Twitternya.

Dari beberapa sumber yang dihimpun, Bravo 5 ini merupakan tim buatan Luhut untuk memenangkan Jokowi sejak 2014. Beberapa tokoh masyarakat hingga elite partai berada di tim tersebut. Bravo 5 berada di luar tim kampanye nasional yang resmi didaftarkan ke KPU oleh kubu Jokowi.