Rupiah Melemah Tajam, Ini Penjelasan Ekonom INDEF

1017
Peneliti Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto

MONITOR, Jakarta – Seiring menguatnya Dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah sampai ke level Rp 14.600. Pergerakan rupiah yang gagal kembali mengimbangi penguatan USD dikhawatirkan dapat berbalik melemah.

Pergerakan rupiah yang gagal tersebut ditambah dengan kondisi makroekonomi dalam negeri yang terdengar kurang baik, sehingga berpeluang melemahkan rupiah.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah tajam pada perdagangan di awal pekan ini. Sentimen dari Turki ikut menjadi pendorong pelemahan rupiah.

Peneliti Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto mengatakan bahwa sebetulnya hal tersebut dapat disiasati dalam jangka pendek, sehingga perlu intervensi pasar uang (BI/moneter), dan kebijakan yang mengarah pada upaya mengurangi defisit transaksi berjalan (pemerintah/fiskal).

Meski begitu, beberapa analis sepakat bahwa krisis finansial yang menimpa Turki saat ini tidak berdampak jangka panjang pada depresiasi nilai tukar RI.

krisis Turki dapat menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah. Namun, ditekankan bahwa dampak krisis negara tersebut lebih berpengaruh pada kawasan atau zona Eropa.

Dalam hal tersebut, Eko menegaskan bahwa selain faktor kepercayaan investor yang turun ke kelompok negara berkembang akibat krisis nilai tukar di Turki.

“Depresiasi Rupiah kali ini juga dipicu oleh melebarnya data defisit transaksi berjalan menjadi 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),ungkap Eko kepada MONITOR, Senin (13/8).

“Hal ini harus segera diatasi,” pungkas Eko.

Meski terdapat peluang melemah. Namun, diharapkan aksi jual dapat lebih terbatas agar rupiah tidak melemah lebih dalam.

Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah.