HUMANIORA

Menguak Sejarah Munculnya Tradisi Halal Bi Halal

MONITOR, Jakarta – Semua orang bersuka cita saat datangnya hari kemenangan. Hari Raya Idul Fitri atau biasa dikenal momen lebaran selalu dinantikan banyak kalangan, umumnya mereka akan melakukan tradisi sungkeman (istilah Jawa) yang bermakna saling bermaaf-maafan.

Mereka juga bisa berkumpul silaturrahmi dengan sanak kerabat, handai taulan atau rekan sejawat. Tradisi rutinan ini kemudian disebut dengan istilah Halal Bi Halal. Berbicara soal tradisi ini, asal muasalnya cukup panjang. Simak berikut ini sejarah dicetuskannya istilah Halal Bi Halal.

Mengutip pada laman NU online, istilah Halal Bi Halal pertama kali muncul pada tahun 1948. Pengagasnya adalah seorang Rais Aam PBNU yaitu KH Wahab Chasbullah. Hal ini pun dibenarkan oleh Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.

“KH Wahab Hasbullah, tokoh yang bersama KH Hasyim Asy’ariy menggelorakan fatwa resolusi jihad melawan penjajah Belanda yang ndompleng sekutu,” ujar Hidayat Nur Wahid, Selasa (19/6).

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Indonesia kembali dilanda disintegrasi bangsa alias perpecahan antar elemen bangsa di tahun 1948. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum.

Sementara pemberontakan telah terjadi dimana mana, diantaranya munculnya gerakan DII/ TII, hingga adanya pemberontakan kelompok PKI di Madiun.

Peristiwa kelam itu membuat Presiden Soekarno resah. Ia pun memanggil tokoh ulama, seperti Kiai Wahab. Soekarno menginginkan elit politik duduk bersatu dalam satu forum silaturrahmi. Akan tetapi bukan Soekarno, jika mencetuskan ide yang biasa-biasa saja alias standar.

“Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain,” kata Soekarno kala itu.

Keresahan Soekarno pun disambut oleh Kiai Wahab. Beliau memberikan paparan logis dan mengatakan bahwa sangat mudah mencari istilah lain yang sangat bersahabat.

“Itu gampang,” kata Kiai Wahab.

“Begini, para elit politik tidak mau bersatu. Itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga istilah silaturrahmi nanti kita pakai dengan istilah ‘halal bi halal’,” sambungnya menjelaskan.

Dari situlah saran Kiai Wahab diterima oleh Bung Karno. Lalu, Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu mengundang semua tokoh politik untuk datang ke istana negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘halal bi halal’.

Dan akhirnya mereka bisa duduk dan satu meja, sebagai babak baru dalam menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal Bi Halal yang kemudian diikuti oleh warga secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama.

Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintahan, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Maka jadilah Halal Bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat hari raya idul Fitri seperti sekarang.

“Halal bil halal adalah tradisi positif, yang penting terus dilanjutkan dan diamalkan,” tandas Hidayat Nur Wahid.

Recent Posts

Kasus Yogi Mentawai: Ombudsman Dorong Negara Kedepankan Pembinaan

MONITOR, Jakarta - Ombudsman Republik Indonesia menaruh perhatian terhadap perkara Yogi Gilang Arya Setia, warga…

7 jam yang lalu

Kuasa Hukum UIN Jakarta: Penataan SIP Pamulang Bagian dari Pengamanan Aset Negara

MONITOR, Jakarta - Kuasa Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alwanih, S.H., M.H., menegaskan penataan dan…

7 jam yang lalu

Jelang ESDP 2027, Kemnaker dan IM Japan Perkuat Kesiapan Peserta Pemagangan Indonesia

MONITOR, Tokyo – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama International Manpower Development Organization (IM Japan) membahas kesiapan…

14 jam yang lalu

Menteri UMKM Pastikan Banpres bagi UMKM Terdampak Bencana Sumatera Tepat Sasaran

MONITOR, Jakarta – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman memastikan Bantuan Presiden…

17 jam yang lalu

Danantara Indonesia Tinjau Integrasi Tiga Pilar Layanan Jasa Marga untuk Tingkatkan Customer Experience

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperkuat integrasi tiga pilar layanan, yaitu layanan preservasi,…

23 jam yang lalu

Momentum Muktamar NU ke-35, HEBITREN Buka Jalan Investasi Peternakan Berbasis Pesantren

MONITOR, JOMBANG - Momentum Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas,…

23 jam yang lalu