NASIONAL

Langkah Densus 88 Masuk Kampus Menuai Kritik

MONITOR, Jakarta – Langkah kepolisian menerjunkan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Polda Riau dan Polresta Pekanbaru di Universitas Riau (Unri) menjadi sorotan publik. Pasalnya, saat penggerebekan dilakukan, personel polisi dalam jumlah banyak memanggul senjata lengkap.

Bahkan, aparat kepolisian tak canggung mengendarai mobil tempur atau taktis di sekitaran kampus. Hal ini seolah memperkuat kecurigaan bahwa Unri merupakan sarang teroris. Meski kenyataannya, itu dilakukan untuk mengungkap kasus dugaan terorisme yang belakangan dilakukan oknum kampus.

Salah satu tokoh yang bereaksi keras adalah Fadli Zon. Wakil Ketua DPR ini menilai pihak kepolisian tak seharusnya membawa senjata lengkap masuk kampus tersebut. Ia meyakini, pihak kampus Unri pasti memiliki mekanisme untuk pengamanan lingkungan kampusnya sendiri.

“Menurut saya harus dihindari karena setiap aksi pasti ada reaksi gitu ya. Kampus, saya kira punya mekanisme internal sendiri untuk pengamanan didalam. Jadi semaksimal mungkin saya kira harus dihindarilah upaya-upayanya untuk memasuki kampus dengan membawa senapan,” kata Fadli saat berbincang dengan MONITOR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/6).

Akibat ulah aparat kepolisian, Fadli menegaskan masyarakat akan semakin memberikan penilaian negatif terhadap pemerintah, lantaran terorisme sudah merajai dunia pendidikan. Hal itu dikatakan Fadli, akan mencoreng dunia pendidikan.

“Karena itu akan merugikan kita sendiri, merugikan dunia akademik kita merugikan pemerintah sendiri karena kesannya bahkan sudah masuk ke tingkat kampus-kampus seperti itu kesan itu. Ini menurut saya sangat merugikan,” tegasnya.

Terorisme di Dunia Pendidikan

Isu yang berhembus pada insiden di kampus Unri yakni ancaman teror terhadap para anggota dewan, baik DPRD maupun DPR RI. Mengenai hal ini, Fadli Zon tak sepenuhnya percaya adanya isu yang berkembang.

Untuk memastikan kebenaran itu, ia meminta agar terduga pelaku tersebut harus diinterogasi dan diadili apabila memang hal itu terbukti benar.

“Ya saya tidak terlalu yakin ya harus diinterogasi makanya mereka itu harus diadili kalau memang benar gitu. Jangan saya, belum dapat konfirmasi tentang hal itu baru berita selentingan DPR, DPRD, kaya begitu saya tidak yakin gitu loh. Ya mudah-mudahan tidak benar,” ujar Politikus Gerindra ini.

Ia kembali menekankan, bahwa motif terduga teroris harus ditindaklanjuti agar terungkap secara gamblang di hadapan publik.

“Apa tujuannya DPR ini gedung rakyat kok, mereka ini siapa. Gedung rakyat DPRD juga begitu apa kepentingannya. Apakah mau apa, jadi mereka itu harus ditindak kalau memang tertangkap jangan dibunuh, diadili supaya kita tahu apa yang mereka rencanakan kalau memang ada,” tambahnya.

Lebih lanjut ia meyakini bahwa tindakan terorisme tidak akan masuk dan menyasar lingkungan kampus, sebab mahasiswa saat ini menurutnya sudah cerdas dan paham terkait segala tindakan yang mengindikasikan terorisme.

Bagi Fadli, kemungkinan yang terjadi adalah aparat pelaku sedang mengalihkan perhatian aparat dengan memanfaatkan dan berlindung di lingkungan kampus.

“Saya tidak yakin karena kampus-kampus kita ini kan kampus-kampus modern. Dan mahasiswa kita menurut saya mahasiswa yang cerdas tidak mungkin lah mereka ikut. Apalagi sampai kegiatan pembuatan bom atau semacamnya, saya tidak yakin. Dari dulu saya tidak percaya,” ungkapnya.

“Ya mudah-mudahan ini informasi tidak benarlah, atau kalaupun ini ya orang dari luar bukan mahasiswa tapi orang dari luar yang masuk memanfaatkan tempatnya karena mungkin orang mencari tempat yang orang tidak menyangka bahwa itu bisa dipakai dan sebaginya, tapi kalau mahasiswa saya tak yakin,” lanjut Fadli.

Dengan begitu, Fadli meminta kepada pihak Rektorat kampus Unri agar menunjukan sikap yang terbuka dan kooperatif dalam mengungkap sepak terjang pelaku yang sudah diamankan itu. Terlebih yang diduga pelaku itu adalah salah satu alumni Unri. Menurutnya hal tersebut sudah mencoreng dunia pendidikan Indonesia.

“Ya mestinya harusnya begitu yah jadi pihak kampus saya kira harus transparan disini karena ini mencoreng perguruan tinggi kita. PTN, PTS, dunia akademik pendidikan, dan secara keseluruhan nama Indonesia loh. Karena ini di kampus gitu loh, jadi coba dicek diperiksa yang benar, apakah ini satu kejadian yang memang aktual dan memang ada di kampus, atau mereka hanya ketempatan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawan gitu,” tandasnya.

Recent Posts

Arus Lalu Lintas Meningkat, Jasa Marga Buka Akses Contraflow hingga KM 47 Tol Jakarta-Cikampek

MONITOR, Cikampek — Peningkatan volume kendaraan di ruas Tol Jakarta-Cikampek mendorong PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT)…

1 jam yang lalu

Puncak Arus Mudik 2026 Terlewati, 621 Ribu Kendaraan Melintas ke Arah Timur Trans Jawa

MONITOR, Cikampek – PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) mencatat arus puncak mudik Idulfitri 1447 Hijriah telah…

12 jam yang lalu

Kemnaker Hapus Batas Tahun Kelulusan sebagai Syarat Pelatihan Vokasi 2026

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperluas akses Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 1…

15 jam yang lalu

Dirut Jasa Marga: Volume Lalu Lintas Tinggalkan Jabotabek H-10 s.d H-2 Libur Idulfitri 1447H Capai 1,6 Juta Kendaraan

Jakarta - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono menyampaikan bahwa volume…

17 jam yang lalu

Ketika Mahasiswa Mudik: Dari Kampus Kembali ke Kampung

Oleh: Sugiyono, M.IP* Mudik selalu menghadirkan dua wajah sekaligus: kerinduan yang tuntas dan kesadaran yang…

17 jam yang lalu

Layanan Gerbang Tol Cikampek Utama Kembali Normal Pasca Penghentian One Way

MONITOR, Cikampek – PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) melakukan normalisasi layanan operasional di Gerbang Tol…

18 jam yang lalu