OPINI

Mengaktualisasikan Alat Perjuangan Kartini

Oleh: Dr. Ulfah Mawardi

Setiap tanggal 21 April, kita sebagai bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kartini. Dalam buku “Panggil Aku Kartini Saja”, Penyair legendaris Pramoedya Ananta Toer mengajak kita mengingat sosok Kartini tidak berdasarkan sudut pandang domestik rumah seperti Kartini adalah gadis pingitan, anak bangsawan Bupati Jepara, yang dinikahkan paksa, kemudian melahirkan dan mati.

Sejatinya, mari kita mengenang Kartini lewat perjuangannya melawan “domestifikasi” karena konstruk budaya pada saat itu seperti bagaimana Kartini melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara yang menyekapnya bertahun-tahun.

Selanjutnya kata Pram; “Kartini tidak punya massa, apalagi uang. Uang tidak akrab dengan perempuan hamba seperti Kartini, yang dipunyai kartini adalah kepekaan dan keprihatinan” dan ia tuliskan segala perasaannya yang tertekan itu, segala bentuk kepekaan dan keprihatinannya dengan tulisan, dan tulisannya dikirim serta dibagikan kepada orang-orang terdekatnya dan hasilnya luar biasa dapat mengubah budaya dan kondisi masyarakat saat itu. Menulis merupakan aktifitas yang dipilih Kartini sebagai alat untuk mewujudkan harapan dan cita-cita perjungannya.

Menulis untuk zaman sekarang mungkin sebuah kegiatan yang tidak sulit, apalagi di era digital seperti dewasa kini. Tak hanya buku, kertas dan pena yang bisa ditemui dengan mudah, tapi kita dimanjakan dengan alat elektronik seperti laptop, gadget dan perangkat canggih lainnya, yang dapat memfasilitasi kita menulis dan mengarang bebas.

Berbeda dengan zaman Kartini yang memiliki keterbatasan ketersediaan baik pena maupun kertas, namun apakah kualitas tulisan kita atau perempuan sekarang bisa menjadi alat perjuangan seperti halnya Kartini, dengan surat-suratnya kepada Stella dan stake holder, sehingga dapat menjual dan mengekspor batik dan ukiran-ukiran kayu hasil karya penduduk Jepara. Alhasil, melalui tulisan Kartini, Dunia mengenal batik dan ukiran kayu sehingga berdampak pada peningkatan taraf ekonomi dan kesejahteraan rakyat Jepara saat itu.

Banyak hal yang bisa kita lakukan di masa kini, mulai menggiatkan gerakan Literasi ; membaca, menulis dan mengaktualisasikan tulisan dalam aksi nyata, menyelami kondisi  lingkungan masyarakat khususnya masalah perempuan dan anak yang masih sangat banyak seperti, tingginya angka kematian ibu melahirkan, tingginya angka pernikahan usia anak, tingginya angka perceraian, kekerasan seksual perempuan dan anak dan masih banyak lagi berbagai problem sosial yang harus terus disuarakan lewat tulisan sampai dapat menggerakkan dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan tersebut.

Terakhir, dalam perjungan Kartini kita mengenalnya lekat dengan corak moderat dan dialogis. Ketika Kartini harus dilamar oleh Bupati Rembang misalnya. Meski hati kecilnya menolak, tapi untuk mewujudkan perjuangannya, Kartini menerima dengan beberapa syarat. Kartini menuliskan berbagai keprihatinan dan kegalauan perasaannya pada sahabatnya, Stella, dengan cara yang baik, menyentuh dan menggerakkan. Tidak dengan ujaran kebencian, cacian, makian dan amarah, seperti banyak kita dapati curhatan lewat dinding media sosial sekarang ini yang bukan memberi solusi justru menambah masalah dan sangat tidak konstruktif.

Dalam momentum Hari Kartini ini, mari kita mengasah kepekaan dan keprihatinan kita lewat tulisan yang mencerahkan dan menggerakkan. Lebih dari itu, kita harus andil mengaktualisasikan diri dalam aktifitas nyata sehingga mampu memberikan perubahan positif bagi perbaikan nasib bangsa, khususnya masalah perempuan dan anak. Kartini mati muda, di usia 25 tahun, harum namanya sebagai pahlawan bangsa, pendekar kaumnya untuk Indonesia.

*Penulis merupakan Wakil Sekretaris Jenderal Kongres Wanita Indonesia (Kowani), dan Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar

Recent Posts

Menag: Pendidikan Pesantren Padukan Kecerdasan Akal dan Batin

MONITOR - Pendidikan pesantren tidak hanya mengembangkan kemampuan akal, tetapi juga membentuk kebersihan hati dan…

8 jam yang lalu

Kemenhaj Dalami Dugaan Jual Beli Porsi Haji di Jawa Timur

MONITOR, Surabaya — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah…

8 jam yang lalu

IKA Trisakti Hadirkan Trisakti Peduli untuk Gerakkan Alumni Turut Pulihkan Bencana

MONITOR, Jakarta – Ikatan Alumni Trisakti (IKA Trisakti) menghadirkan Trisakti Peduli sebagai gerakan kemanusiaan yang…

8 jam yang lalu

Kemenag Atur Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan Keagamaan

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama mengatur penggunaan gawai di lingkungan satuan pendidikan untuk menciptakan ruang…

21 jam yang lalu

Kementerian UMKM Perkuat Kapasitas UMKM Aceh Terdampak Bencana di Takengon

MONITOR, Takengon — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat pemulihan usaha masyarakat terdampak…

1 hari yang lalu

Keselamatan Jemaah Umrah Harus Diutamakan di Tengah Konflik Arab Saudi-Houthi

MONITOR, Jakarta - Komnas Haji dan Umrah meminta keselamatan jemaah menjadi prioritas utama di tengah…

2 hari yang lalu