Categories: HUMANIORASOSIAL

Anak Muda Jaman Now Dinilai Rentan Kehilangan Identitas

MONITOR, Jakarta – Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Jakarta bekerjasama dengan SCRC (Center for The Studi of Religion and Culture) dan NVEY Indonesia menggelar sosialisasi dan seminar hadir riset, Jumat (23/2).

Penelitian ini mengkaji secara mendalam struktur dasar sikap dan perilaku kaum muda muslim milenial, yang berusia antara 15 – 24 tahun, tentang kekerasan dan ekstrimisme.

Salah seorang peneliti, Dr. Chaider S. Bamualim, menemukan fakta vahwa sejumlah kaum muda jaman now mengalami suatu fenomena yang disebut dengan hybridation of identity (hibridasi identitas).

"Fenomena hibridasi identitas ini juga dimaknai sebagai sebuah bentuk lahirnya identitas baru akibat percampuran budaya, tradisi, nilai dan prinsip yang dipegang oleh kaum muda Muslim akibat proses interaksi intensif antara seseorang atau sekelompok orang dengan konteks dan tradisi yang ada di sekitarnya," ujarnya memberikan pemaparan di Hotel Cemara 2, Menteng, Jakarta Pusat. Jum'at (23/2).

Ia menjelaskan, seseorang dapat bersikap 'akomodatif' terhadap nilai-nilai baru yang diperolehnya dari keluarga, guru, lingkungan, lembaga pendidikan, organisasi, dan lain-lain. Bahkan menurutnya, anak muda juga rentan terhadap provokasi konflik horizontal yang merupakan hasil politisasi bagi politik kecenderungan sosial dan politisasi agama.

"Menurut sejumlah survey, anak muda terhadap radikalisme sangat banyak berafiliasi dan semakin bermunculan. Kita ingin melihat mereka seberapa loyal sikap atas ideologi mereka. Mengapa anak muda? anak muda ada afiliasi baik internal maupun ekstra kampus yang telah kami survey dan memiliki korespondennya," ujarnya.

Ditambahkan Chaider, secara umum penelitian ini menemukan sikap dan perilaku kaum muda muslim bisa di kategorikan moderat. Kadang kadang menyebabkan dualisme serta dikotomi dikotomi.

Selain Chaider, sejumlah pemateri yang hadir dalam seminar ini diantaranya Dr. Hilman Latief, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, serta Dr. Yudi Latif serta Moderator Rita Pranawati. MA.

Penelitian ini melibatkan kurang lebih 935an Aktivis muda Muslim yang terdiri dari 555 narasumber in – dept interview dan 380 narasumber FGD dengan variasi Ideologi yang sangat beragam di 18 kota/kabupaten. 

Recent Posts

Siap-Siap! Kemnaker akan Buka Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 2

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) akan membuka pendaftaran peserta Program Pemagangan Nasional (MagangHub) Angkatan…

6 jam yang lalu

Kemenhaj Salurkan Bantuan Sosial bagi Warga Terdampak Gempa di NTT

MONITOR, Jakarta — Sebagai wujud kepedulian sosial dan solidaritas kemanusiaan, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj)…

7 jam yang lalu

Prof Rokhmin: Tinggalkan Ekonomi Bahan Mentah, Masuk Era Innovation-Based Blue Economy

MONITOR, Jakarta - Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kelimpahan sumber daya alam untuk mengejar pertumbuhan…

14 jam yang lalu

Kemnaker Perkuat Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pascabencana lewat Pelatihan Vokasi

MONITOR, Banda Aceh — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda…

1 hari yang lalu

Kemenag Satukan Organisasi Profesi Guru Lintas Agama dalam Satu Konfederasi

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama menyatukan berbagai organisasi profesi guru lintas agama dalam Konfederasi Organisasi…

1 hari yang lalu

FORMIT Palu Galang Dana untuk Korban Bencana NTT, Serukan Solidaritas Indonesia Timur

MONITOR, Palu - Forum Mahasiswa Indonesia Timur (FORMIT) menggalang dana untuk membantu masyarakat terdampak bencana…

2 hari yang lalu