Categories: HUMANIORASOSIAL

Belajar Toleransi dari Romo Frans Magnis Suseno

MONITOR, Jakarta – Dalam setahun terakhir, masyarakat Indonesia terpecah belah akibat gesekan-gesekan kecil yang terjadi di lingkungan masyakat. Tak hanya di Jakarta, masyarakat di sejumlah daerah lain juga mengalami hal demikian.

Melihat kondisi ini, budayawan Indonesia yang juga Rohaniawan Katolik Romo Frans Magnis Suseno prihatin. Saat ditemui redaksi Monitor di Gedung Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Romo Magnis menyatakan salah satu pupusnya rasa persaudaraan di masyarakat karena kurangnya rasa toleransi antar sesama.

Seperti peristiwa Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, Romo Magnis menilai masyarakat Indonesia terlihat terpecah belah dan terkotak-kotakkan. Sentimen negatif bermunculan dan kerukunan antar warga semakin diabaikan.

Lantas, bagaimana pandangan Romo Magnis supaya toleransi di masyarakat Indonesia tetap terjaga?

"Saya rasa bahwa kita harus saling menerima, saling mengakui dan mendukung eksistensi masing-masing dimana ada mayoritas dan minoritas di lingkungan tersebut," ujar Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini.

Peraih Penghargaan Kanisius Award ini menyatakan, ada norma-norma yang harus dijalankan agar elemen masyarakat tak mudah mengalami gesekan atas letupan konflik yang terjadi.

Bagi Romo Magnis, kelompok mayoritas di suatu wilayah hendaknya tidak berlaku semena-mena atau main hakim sendiri terhadap minoritas. Menurutnya, mayoritas harus mampu mengayomi, melindungi dan menjamin integritas hidup kalangan minoritas.

"Begitupun dengan minoritas, mereka harus bisa menghormati dan menjaga perasaan mayoritas yang tinggal di lingkungan yang ditempati. Karena bagaimanapun juga mereka tinggal di lingkungan baru, yang mengharuskannya untuk menyesuaikan diri," terang pemilik nama asli Franz Graf von Magnis ini.

"Saya rasa, di Indonesia ini sudah tak lagi berbicara soal mayoritas dan minoritas. Ini tidak ada sekat-sekat lagi di masyarakat, karena kita semua sama yakni bangsa Indonesia," tambahnya.

Recent Posts

Menaker: Hakim Ad Hoc PHI Jaga Kepastian Hukum

MONITOR, Jakarta — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pertimbangan hakim yang adil dan jelas menjadi bagian…

3 jam yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Rekognisi Pesantren Perlu Diikuti Afirmasi Anggaran

MONITOR, Jakarta - Rekognisi negara terhadap pesantren perlu diterjemahkan ke dalam afirmasi kebijakan dan anggaran…

3 jam yang lalu

Kementerian UMKM Perkuat Inkubator untuk Cetak Wirausaha Berkualitas

MONITOR, Surabaya – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menegaskan pentingnya memperkuat…

13 jam yang lalu

Menag Berhentikan Prof. Muzakki sebagai Rektor UIN Surabaya

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar memberhentikan Prof. Akh. Muzakki dari tugas tambahan sebagai…

13 jam yang lalu

Wamenaker: Pengesahan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Ditargetkan Oktober 2026

MONITOR, Jakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menyatakan bahwa pemerintah dan DPR RI…

14 jam yang lalu

Rokhmin Dahuri: Swasembada Pangan Harus Menyejahterakan Petani

MONITOR, Jakarta - Capaian swasembada pangan tidak cukup diukur dari peningkatan produksi dan ketersediaan pangan…

1 hari yang lalu