Categories: NASIONALPEMERINTAHAN

Berhasil Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Jokowi Minta Kepala Daerah Waspadai Inflasi

MONITOR, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan penghargaan kepada para Kepala Daerah yang telah mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi di tahun 2016. Beberapa diantaranya karena sumber daya alam. 

"Kabupaten Banggai sebesar 37 persen, ini karena gas. Kabupaten Blora sebesar 23,5 persen, ini juga karena gas. Kabupaten Bojonegoro sebesar 21,9 persen, ini juga karena gas. Kabupaten Morowali sebesar 13,18 persen, ini karena nikel; Kabupaten Mimika sebesar 12,8 persen, ini saya belum cek karena apa," ujar Presiden Jokowi saat memberikan arahan kepada Gubernur, Bupati, dan Wali Kota yang hadir dalam acara Rapat Kerja Pemerintah (RKP) di Istana Negara, Jakarta, Selasa (24/10). 

Lebih lanjut, Jokowi menyampaikan bahwa dirinya juga mendapatkan laporan ada juga daerah yang pertumbuhan ekonominya di tahun 2016 minus.

"Antara lain: Kabupaten Paser, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Berau, Kabupaten Bontang. Enggak ngerti saya, ini data Badan Pusat Statistik (BPS) loh ya," tuturnya.

Kepala daerah, menurut Presiden, sering kali tidak melihat perjalanan inflasi dari bulan ke bulan, dari triwulan ke tri wulan, dari semester ke semester.

"Hati-hati yang namanya masalah inflasi. Bapak/Ibu boleh senang tadi ada yang pertumbuhan ekonominya tinggi, misalnya di Kabupaten Mimika 12,8 persen, tapi kalau inflasinya 15 persen tidak ada artinya. Hati-hati dengan inflasi, terutama yang berkaitan dengan sembako," tegasnya.

Berdasarkan data BPS, lanjut Presiden, kabupaten/kota yang mempunyai tingkat inflasi yang rendah, antara lain: Kota Tual yaitu 9,6 persen; Watampone 5,3 persen; Kabupaten Bulukumba 4,6 persen; Kota Singkawang 4,54 persen; Kota Cilegon 4,3 persen.

"Semuanya sudah di bawah 10, ini bagus. Ia menambahkan bahwa hal itu berarti sekarang kepala daerah sudah bisa mengendalikan harga-harga yang ada di daerah masing-masing," ungkapnya.

"Kita lihat inflasi di seluruh Indonesia di tahun 2014 sebesar 8,3 persen; 2015 sebesar 3,3 persen; 2016 3,02 persen, artinya terus turun. Tahun 2017 perkiraan kita mungkin 3,7 – 3,8 persen, artinya masih di bawah 4 persen. Ini juga akumulasi dari inflasi yang ada di daerah-daerah, dikumpulkan, di rata-rata, jatuhnya ini," tambahnya. 

Recent Posts

Rektor UIN Jakarta: Pengamanan Aset TKIP-SDIP Pamulang Adalah Mandat Negara, KBM Dijamin Aman

MONITOR, Tangerang Selatan – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama tim kuasa hukum menggelar konferensi pers…

2 jam yang lalu

Jelang Muktamar NU ke-35, JATMAN Gelar Istighatsah dan Manaqib Kubro di Tambakberas

MONITOR, Jombang – Ribuan jamaah thariqah berkumpul di Pondok Pesantren Al-Amanah 2 Bahrul Ulum, Tambakberas,…

4 jam yang lalu

Kemnaker Usulkan Penguatan Pedoman Kesempatan Kerja Inklusif ASEAN

MONITOR, Bangkok — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengusulkan penguatan pedoman kesempatan kerja inklusif di kawasan ASEAN…

12 jam yang lalu

Gerak Cepat Usai Arahan Mentan Amran, SBM Kini Lebih Terjangkau bagi Koperasi Peternak

MONITOR, Jakarta – Arahan Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman…

13 jam yang lalu

Kemnaker Tegaskan Sinergi dengan ILO Hadapi Perubahan Dunia Kerja

MONITOR, Bangkok – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan International Labour Organization…

1 hari yang lalu

Dalam Sepekan, Arahan Mentan Amran Jadi Langkah Konkret Lindungi Peternak Ayam Ras Petelur

MONITOR, Jakarta – Arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman…

1 hari yang lalu