MONITOR, Sukabumi – Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita bercerita, pada akhir tahun 2015, tiga organisasi internasional yaitu WHO, OIE, dan FAO melakukan pertemuan global di Jenewa yang dihadiri oleh negara-negara se-dunia, dan berbagai institusi dan organisasi internasional lainnya.
Ia melanjutkan, pada pertemuan tersebut disepakati bahwa rabies merupakan penyakit yang menjadi prioritas bersama dan menjadi kandidat untuk diberantas dari dunia, setelah sebelumnya dunia berhasil memberantas penyakit smallpox pada manusia dan rinderpest pada hewan.
Pertemuan tersebut juga menghasilkan kesepakatan terkait rencana Global Elimination of Dog Mediated Human Rabies by 2030, dan inilah kemudian yang diangkat menjadi tema World Rabies Day 2017 yang diperingati pada tanggal 28 September kemaren, yaitu "ZERO BY 2030".
"Untuk itu, dengan adanya target global ZERO BY 2030 ini, kita di tingkat lokal dan nasional memiliki kesempatan untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait target-target bebas, sekaligus bisa memberikan masukan untuk target di tingkat regional ASEAN," ucap I Ketut Diarmita saat memberikan bantuan vaksin rabies gratis di Sukabumi, Sabtu (7/10).
Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk mencegah, mengendalikan maupun memberantas rabies pada hewan, maka kebijakan dan strategi nasional yang dilaksanakan saat ini adalah melalui pelaksanaan gerakan vaksinasi massal pada hewan penular rabies (HPR) secara berkelanjutan.
"Selain itu, berbagai tindakan untuk mengendalikan populasi anjing, pengaturan atau pengawasan perdagangan dan lalu lintas anjing, serta strategi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat juga terus kita lakukan," ujarnya.
Dirjen PKH ini beranggapan, keberhasilan program pengendalian dan penanggulangan rabies sangat dipengaruhi oleh seberapa besar keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, baik itu keaktifan petugas kesehatan dan kesehatan hewan, perilaku pemilik hewan, partisipasi masyarakat luas, keberhasilan sosialisasi, penyediaan logistik, dan dipahaminya ekologi anjing.
"Kami harapkan dengan adanya program KIE berkelanjutan kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih bertanggungjawab dalam pemeliharaan hewan mereka (responsible pet ownership)," ucapnya penuh harap.
"Melalui event ini kita mengajak semua stakeholder untuk berpartisipasi secara aktif melalui kegiatan-kegiatan pelibatan masyarakat terkait pengendalian dan penanggulangan rabies, dengan harapan kegiatan-kegiatan tersebut akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya, ancaman, dan pentingnya keterlibatan mereka dalam melindungi kesehatan masyarakat dan hewan dari bahaya rabies," tutup I Ketut Diarmita.
MONITOR, Makkah - Kementerian Haji dan Umrah RI melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab…
MONITOR, Bogor - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP)…
MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menekanankan pentingnya antisipasi untuk mencegah Indonesia menjadi…
MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika…
MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani memimpin pembukaan masa sidang DPR RI. Saat…
MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman menyoroti kelangkaan Bahan…