Categories: BERITAMEGAPOLITAN

Banser Jaktim: Konflik Rohingya Bukan Karena Agama

MONITOR, Jakarta – Tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rohingya merupakan konflik geopolitik, khususnya pertarungan kuasa dan kekuasaan (yang tak seimbang) di daerah Arakan – Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya, dengan dugaan kuat didasarkan pada perebutan secara paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas, khususnya di wilayah-wilayah sekitar.

Begitu dikatakan Kasatkoorcab Banser Jakarta Timur M. Firdaus menyikapi kasus Rohingya kepada monitor.co.id, Senin (4/9).

Firdaus mengungkapkan, pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km – yang dikelola oleh konsorsium bersama. Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia), Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Perancis), Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi, dimana daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan sebesar 7,836 trilyun kaki kubik gas dan 1.379 milyar barel minyak. 

"Konflik geopolitik yang sangat berdarah di daerah-daerah kaya sumber daya alam khususnya minyak dan gas (Oil & Gas Blood) atau kutukan sumber daya (Resource Curse) bukan fenomena khas Myanmar, dan bukan hanya menimpa etnis Rohingya, tapi juga terjadi di belahan bumi yang lain, di mana untuk menutup operasi apropriasi kapital dan sumber daya secara menjijikkan operator-operator di lapangan membungkus dan/atau menutupnya dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat – dengan tujuan agar akar maupun persoalan sebenarnya menjadi kabur dan tersamar," ungkap Firdaus. 

Menurutnya, konflik di Myanmar bukan karena persoalan agama. Karenanya, dia juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa agar tidak memanfaatkan isu yang ada tersebut untuk memecah belah antar umat yang ada di Negara Indonesia.

Dijelaskannya, persoalan yang ada di Myanmar jangan serta merta dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk membuat konflik baru di dalam negeri. Bahwa sesungguhnya persaudaraan dan kekeluargaan bangsa ini masih terjaga. 

"Di sini kita sadar apa arti sebuah toleransi, menjaga saling menghargai namun tetap menjaga perbedaan.

Kita gak pernah membenarkan agama mereka, namun kita menjaga perdamaian yang ada, karena kita cinta ulama dan negara republik tercinta ini.

Kalo ada yang masih meragukan loyalitas kita ke negara ini, jawab dengan aksi nyata  bukan hanya jargon dan omongan saja," tutup Firdaus

Recent Posts

100.000 Jemaah Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Wujud Syukur atas Kemerdekaan Indonesia

MONITOR, Jakarta - Suasana khidmat menyelimuti kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Sabtu malam, 1…

9 jam yang lalu

Wamenaker Tekankan Penguatan Kompetensi dan Kemampuan Bahasa untuk Perluas Peluang Kerja

MONITOR, Yogyakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menekankan pentingnya penguatan kompetensi dan kemampuan…

1 hari yang lalu

AAWC 2026, Prof Rokhmin dorong Kerja Sama Asia-Pasifik Perkuat Ketahanan Air dan Adaptasi Perubahan Iklim

MONITOR, Vientiane, Laos – Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan RI…

1 hari yang lalu

Tegas, Kemenhaj Ancam Cabut Izin Hingga Pidanakan Travel Nakal Penelantar Jemaah

MONITOR, Medan - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia menegaskan komitmennya untuk melindungi para…

2 hari yang lalu

Kementerian UMKM Perluas Pasar Pengusaha Kopi Terdampak Bencana Lewat ICX Medan

MONITOR, Medan – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus memperkuat upaya pemulihan ekonomi…

2 hari yang lalu

Waka Komisi IX DPR Soal Putusan MK: MBG Harus Terus Berkelanjutan Demi Investasi SDM Unggul RI

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi…

2 hari yang lalu