Categories: NASIONALPOLITIK

Perindo jadi ‘Jinak’ dukung Jokowi, Ini Kata Pengamat

MONITOR, Jakarta- Heboh putar haluan Partai Perindo pasca ketua umumnya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan ancaman terhadap aparat negara, Perindo menjadi jinak dan manut. Kini bahkan secara resmi ketua umum dan sekjen Perindo menyatakan akan mendukung Jokowi di pilpres 2019.

Menanggapi hal itu pengamat politik Veri Muhlis Arifuzzaman memandangnya sebagai hal lumrah. Veri bahkan menyatakan partai baru memang harus punya strategi jitu untuk bisa diterima publik, pilihannya menjadi oposan yang vokal atau menjadi pendukung pemerintah yang gigih.

"Tidak aneh Perindo dukung Jokowi, sama saja seperti PSI atau nanti partai baru lain, itu wajar dan sudah seharusnya," ujarnya.

Veri menjelaskan pilihan Perindo mengubah haluan dukungan politik adalah konsekuensi logis dari fakta politik yang tak terbantah yakni Jokowi sebagai petahana elektabilitasnya tinggi, tingkat penerimaan dan diinginkan kembali juga amat tinggi bisa di atas lima puluh persen. "Untuk partai baru tentu harus merapat pada yang kuat. Harus gabung dengan yang memberi untung. Mesti berenang bersama yang akan menang. Jadi mendukung Jokowi buat partai baru itu strategi jitu," jelasnya.

Veri menambahkan sebagai debutan, Perindo butuh eksis. Dalam politik ada adagium jika tak mampu mengalahkan yang kuat maka bergabunglah. Perindo melakukan itu dengan sadar, tinggal pertarungannya kemudian terjadi di kelompok satu kamar, di kelompok sesama pendukung.

"Kita tahu bahwa Nasdem dan Perindo cukup sengit bersaing, demikian juga PSI, klaim satu-satunya partai baru pendukung Jokowi jadi buyar. Para pendukung ini akan bersaing, jika Jokowi mampu jadi dirijen yang lihai maka orkesta pendukungnya akan menghasilkan musik yang indah tapi jika gagal jadi konduktor maka orkesta akan merusak telinga. Bising dan ditinggalkan orang," ujarnya.  

Saat ditanya soal kasus sms ancaman apakah dibarter dengan dukungan, Veri menjawabnya dengan lugas bahwa Publik akan menilai sampai mana kasus itu berjalan, jika berhenti dan bahkan SP3.

"Sangat mungkin kecurigaan barter akan menguat," pungkasnya.

Recent Posts

JPPI: SPMB 2026 Masih Gagal Menjamin Hak Pendidikan Anak

MONITOR, Jakarta – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 kembali menuai kritik. Jaringan Pemantau…

9 jam yang lalu

Kampanye Produk Dalam Negeri, Kemenperin Ajak Masyarakat Pakai Peralatan Sekolah Lokal

MONITOR, Jakarta - Menyambut tahun ajaran baru 2026/2027, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajak masyarakat untuk semakin…

12 jam yang lalu

Gus Hery Silaturahim ke Murid Langsung KH Hasyim Asy’ari, Mohon Doa Restu Ikhtiar Maju sebagai Ketua Umum PBNU

MONITOR, Bangka Belitung – Suasana hangat dan penuh kekhidmatan menyelimuti kediaman Mbah Sarmidi Mangunwilogo Cokrodiningrat,…

13 jam yang lalu

Komisi II DPR Sebut RUU Adminduk Pertegas Transformasi Layanan, NIK Akan Jadi Identitas Tunggal

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR RI Muhammad Khozin mengungkap bahwa Rancangan perubahan UU…

15 jam yang lalu

Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Keberanian Mengubah Paradigma Pembangunan dari Eksploitasi SDA ke Blue Economy

MONITOR, Banjarmasin - Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian mengubah paradigma pembangunan dari ekonomi…

16 jam yang lalu

MoU Penghentian Perang AS-Iran Dinilai Rapuh

MONITOR, Jakarta - Analisis Dunia Islam dan Timur Tengah (Timteng) Mahfuz Sidik mengatakan, seluruh negara…

17 jam yang lalu