Kopi dan Kesejahteraan Para Petaninya

Oleh: Huda ( penikmat kopi )

Monitor – Ngobrol soal kopi memang sekilas tak ada istimewanya karena bagi kita yang hidup di Indonesia kopi lebih banyak dari kacang goreng sekalipun, dari kopi robusta, kopi arabika, kopi biji salak ( koplak), kopi nangka atau bahkan  kopi yang sudah terkemas sachetan hampir di tiap gang bisa sangat mudah kita dapatkan dengan harga yang sangat terjangakau, tapi munkin bagi sebagian orang yang tinggal bukan di Indoenesia kopi adalah jenis varian makanan yang sukar untuk di dapatkan munkin dibeberapa negara  untuk mendapatakan  kopi sama seperti kita kalo pingin kurma yang hanya ada di bulan tertentu yang  kalopun ada tentu harganya tidak semurah di Indonesia.

Bagi penikmat kopi yang handal yang kalo ngaduk kopi satu arah dan bisa mencium aroma kopi sesungguhnya ( aroma of heaven) dimanapun kopi tetap istimewa lebih istimewa dari mantan paling cantik sekalipun. Menikmati kopi bagi para penikmanya adalah sebuah seni, seni yang hanya mereka yang bisa menikmatinya yang tau dimana titik paling sensitif saat menikmati kopi, sama seperti rindu yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mampu menikmatinya.

Bicara soal kopi, saya mau mengatakan bahwa Indonesia adalah surganya kopi,  bagaimana tidak, selain hal di awal yang saya sebutkan, Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi kualitas terbaik di dunia. Cita rasa yang khas  menjadikan kopi Indonesia menjadi idola tersendiri di negara-negara benua Amerika dan Eropa. Data Kementrian Perdagangan pada tahun 2014 Amerika Serikat tercatat telah mengimpor kopi sekitar 5.88 milar dolar AS atau sebesar 19,10 % dari total impor kopi dunia dan pada 2015 Indonesia mampu mengekspor kopi  sebanyak 180 ribu ton ke negara-negara Eropa.

Tapi jangan tepuk dada dulu karena adat dikita tak semua yang istimewa selalu diutamakan, besarnya sumbangsih biji kopi terhadap nilai ekspor hasil bumi kita tak sebanding dengan keseriusan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan para petani kopi, begitulah negara kita kadang banyak keliru dalam soal mengistimewakan dan memprioritaskan sesuatu,  bagaimana tidak,  puluhan ribu ton kopi yang selalu kita ekspor adalah jenis kopi berasan yang boleh dibilang tanpa olahan sedikitpun bahkan tak jarang biji yang tanpa olahan itupun dijual dalam package yang kurang menarik yang nilai jualnya tentu amatlah kurang menggembirakan.

Misalnya saja adalah kasus pada petani kopi di Garut-Jawa Barat. Sebagian besar petani kopi di Garut masih menjual komoditas kopi dalam bentuk gelondongan atau biji kopi petik (cherry) yang harganya sangat murah, rata-rata petani menjual kopi yang masih dalam bentuk gelondongan dengan harga Rp 4.000 hingga 7.000 per kilogram. Padahal, harga kopi berasan di pasar domestik saja saat ini Rp 40.000 hingga Rp 58,000 per Kg. Adapun jenis kopi gabah mencapai Rp 20.000. rendahnya pendapatan para petani kopi dikarenakan masih rendahnya sistem alih teknologi yang mereka miliki. Peningkatan nilai tambah produk pertanian melaui pengolahan memerlukan investasi dan teknologi pengolahan yang lebih modern.

Jika ukuran kemajuan sebuah bangsa adalah sejauh mana bangsa itu memperlakukan petani maka jika petaninya itu petani kopi maka bangsa kita masih jauh dari kata maju berkembang saja belum kalo ukuranya pada kesejahteraan petani kopi.

Bayangkan jika pemerintah serius dalam peningkatan kesejahteraan petani tentu ekspor  kopi yang kita sebar kemana mana itu sudah dalam bentuk kemasan yang siap di seduh atau olahan jenis lain tentu harga kopi akan semakin meningkat dan dengan sendirinya akan meningkatkan kesejahteraan para petani kopi.

Kesejahteraan petani kopi harusnya menjadi perhatian khusus pemerintah dalam mengembangakn ekspor komoditi jenis kopi karena peningkatan kesejahteran petani kopi adalah upaya peningkatan ekonomi kerakyatan.