Tahun 2019, Menkop UKM Tidak Ingin Ada Lagi Koperasi ‘Sakit’

MONITOR, Yogyakarta – Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga mengungkapkan bahwa meningkatnya kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dari 1,71 persen pada 2014 menjadi 3,99 persen pada tahun 2016 sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa dari program Reformasi Total Koperasi. 

Hal itu diungkapkan Puspayoga saat membuka Rapat Kerja Nasional II Dekopin di Yogyakarta, Selasa (24/10). Rakernas ini dihadiri Plh Ketua Umum Dekopin Nachrowi Ramli, sejumlah pengurus pusat dan wilayah Dekopin, Sekda Provinsi DIY Gatot Saptadi, dan Kadiskop UKM DIY Christina Lucy. 

"Untuk itu, saya fokus sekali untuk tetap mohon dukungan kepada seluruh gerakan koperasi, Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota untuk kita berjuang bersama-bersama bagaimana kita berusaha membangun Reformasi Total Koperasi," imbuh Puspayoga. 

Menkop Puspayoga mengatakan pencapaian PDB tersebut sangat berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, mengatasi masalah pengangguran, mengurangi angka kemiskinan, serta menurunkan gini ratio atau kesenjangan masyarakat. 

"PDB itu penting disamping nilai sosial kultural koperasi itu, tapi kalau nilai sosial kultural itu tanpa dihitung dengan PDB itu akan diawang-awang, tapi kalau dihitung dengan PDB tentunya itu akan bisa memberikan masukan kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Puspayoga. 

Puspayoga menyebutkan bahwa koperasi sebagai jalan hidup yang paling mulia yang perlu mendapat sentuhan dari pemerintah. Tahun 2019, ia manargetkan tidak ada lagi koperasi yang hanya berlabel papan nama (sakit). Melalui Reformasi Total Koperasi semua koperasi yang ada akan diupayakan menjadi koperasi yang sehat. 

"Saya harapan 2019 tidak ada lagi koperasi yang sakit lagi, semua harus sehat, sekarang masih 75 ribu koperasi yang perlu dibina, 80 ribu sehat. Sehingga sekali lagi PDB koperasi kita capai supaya meningkat, untuk apa? untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat," tandasnya. 

Nachrowi Ramli, menambahkan Dekopin senantiasa memiliki harapan besar bahwa dengan tekad menata koperasi dengan benar dan sungguh-sungguh yang dilandaskan pada nilai dan prinsip, serta modernisasi manajemen, maka gerakan koperasi akan menjadi pelaku ekonomi yang kuat dan besar. 

Namun ia menyadari koperasi Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan berat. Persaingan dan globalisasi telah terbuka di hampir semua sektor perekonomian. Sementara saat ini koperasi hanya besar disisi kuantitas, namun kecil disisi kualitas. 

"Catatan Dekopin hingga 2017 ini menunjukan bahwa masih banyak pekerjaan besar yang membutuhkan keberanian, komitmen dan konsistensi kita dalam membangun koperasi," kata Nachrowi. 

Bagi Dekopin dalam mengukur keberhasilan suatu koperasi tidaklah semata-mata dari tingginya sumbangan PDB, tetapi yang utama adalah bagaimana koperasi dapat mensejahterakan anggota dan masyarakat. Dengan kesejahteraan anggota dan masyarakat, secara tidak langsung akan berdampak pada PDB. 

"Karena kesokoguruan koperasi pada dasarnya bagaimana koperasi itu memberi nilai tambah sosial-ekonomi pada masyarakat yang secara kolektif berkoperasi," tukasnya.