Pilpres 2019 Jadi Tantangan Bagi Partai Islam Tingkatkan Elektabilitas

MONITOR, Jakarta – Center of Study for Indonesian Leadership (CSIL) menggelar diskusi dengan tema 'Suara Politik Umat Islam pada Pilkada Serentak 2018 & Pilpres 2019?' di Hotel Sofyan Inn, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (24/1).

Direktur Eksekutif CSIL, Aji Dedi Mulawarman, mengungkapkan bahwa partai Islam telah lama hadir di kancah perpolitikan Indonesia. Bahkan, sempat merajai panggung politik nasional.

Namun, menurut Aji, saat ini popularitas dan elektabilitas partai Islam terjun bebas alias kurang peminatnya. Padahal Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim.

"Kita ambil contoh pada Pilres 1955 Parpol Islam mempunyai kekuatan 45 persen. Namun pamor itu mengalami penurunan drastis pada Pilpres 1971 sampai 1997 itu hanya 25 persen," ungkapnya dalam diskusi.

Di Pilpres tahun 2014 lalu, Aji mengatakan, partai Islam di Indonesia hanya mendapat persentase sebesar 31,41 persen. Menurut Aji, Pilpres tahun 2019 mendatang akan menjadi tantangan dan ujian yang besar bagi partai Islam di Indonesia untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitasnya lagi.

Kenapa demikian, lanjut Aji, sebab partai non Islam juga akan gencar meningkatkan elektabilitas dan popularitasnya. Terlebih, partai-partai non Islam memiliki dukungan finansial yang lebih besar, sehingga bisa menghidupkan mesin partainya dengan hebat.

"Untuk bisa meningkatkan pamornya ini bisa mendongkrak suara pada pilkada serentak 2018. Karena calon yang di dukung oleh Parpol islam sangat menentukan pada hasil Pilpres 2019 mendatang," ujarnya.