Kenaikan Harga Telur Bikin Komisi VIII Meradang

Politikus Gerindra Sodik Mudjahid (net)

MONITOR, Jakarta – Pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa kenaikan harga telur ayam yang menyentuh harga Rp30 ribu lantaran pengaruh dari musim haji, terus menuai kritik.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mujahid misalnya. Ia geram dengan jawaban pemerintah dalam hal ini Mentan yang cenderung menyepelekan permasalahan di tengah masyarakat terhadap kenaikan harga tersebut.

“Dulu, kasus (harga) cabe naik dan tomat, (masyarakat) disuruh nanam sebagainya, kasus (konsumsi) daging bekicot dan lainnya, menunjukkan bahwa pemerintah kita amatiran, bukan sebagai pelindung rakyat tapi pedagang,” kata Sodik, di Jakarta, Jumat (20/7).

Masih dikatakan dia, di era Presiden Soeharto dulu, ketika ada kenaikan harga komoditi yang terjadi di masyarakat akan menjadi perhatian pemerintah.

“Zaman pak Harto kalau harga telur naik jadi isu nasional dan dibahas dalam rapat bidang ekuin,” paparnya.

Ia menilai jika pemerintahan Jokowi ini tidak mampu dalam menghadirkan solusi terhadap permasalahan rakyat, maka tidak usah menjabat sebagai penguasa.

“Ya jangan jadi penguasa dan jadi pemerintah, jadi rakyat saja kalau hanya bisa menyalahkan situasi dan tidak cari solusi dari situasi,” pungkas politikus Gerindra itu.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai, harga telur ayam yang menyentuh harga Rp30 ribu per kilogram bersifat sementara. Menurutnya, kenaikan harga karena bersamaan dengan musim haji.

“Naik sedikit. Sekali-kali naik sedikit lah. Palingan seminggu ini sudah stabil kembali,” katanya saat berkunjung ke Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (17/7).