Kehilangan Kepercayaan Pasca Kasus Novanto, Golkar Diminta Usung Kader Sendiri di Pilgub Jabar

MONTOR, Jakarta – Ditahannya Ketua Umum Parta Golkar Setya Novanto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diprediksi bakal membuka babak baru percaturan politik nasional. Bahkan tidak mungkin rasanya jika partai berlambang pohon beringin tersebut tidak mendapat desakan dari berbagai pihak untuk merespon peristiwa tersebut.

Demikian dikatakan oleh Pengamat Politik dari Kantor Lembaga Survey Stratakindo, Octariana Soebardjo. Menurutnya, Golkar harus segera merespon peristiwa tersebut guna mempertahankan moral di tengah masyarakat.

“Partai Golkar tidak bisa tidak akan dipaksa untuk merespon peristiwa memalukan tersebut, apakah akan bertahan ditengah badai kebencian dan makian publik atau mengambil langkah politik cantik, demi kebaikan partai dan menunjukkan tanggung jawab moral kepada rakyat,” katanya dalam sebuah diskusi bertema Pilkada Jabar 2018 di Jakarta, Senin (20/11).

Sebelum itu dilakukan, lanjut Octariana, saran untuk mengganti ketua umum sebelum keputusan pengadilan berkekuatan hukum tetap disampaikan, akan banyak pihak yang mendorong Partai Golkar menentukan sikap, baik dari internal maupun eksternal partai. Terlebih dalam waktu dekat Indonesia akan menyongsong Pemilukada 2018 dan Pilpres 2019.

“Langkah Golkar yang lambat menghadapi kasus korupsi Setya Novanto akan menggerus elektabilitasnya. Ekspresi kekesalan publik tidak bisa disembunyikan dari drama politik seminggu terakhir,” terangnya.

Yang paling urgen, menurut Octariana, terdapat kader Golkar yang kini tengah naik daun dalam bursa calon Gubernur Jawa Barat, dimana Golkar terakhir malah memilih untuk mengusung Walikota Bandung, Ridwan Kamil (RK) yang sama sekali bukan berasal dari Golkar. Kader tersebut adalah Bupati Purwakarta sekaligus ketua DPD Golkar Purwakarta, Dedi Mulyadi (DM).

Untuk itu, setelah pergantian pemimpin nanti, Partai Golkar diminta untuk mempertimbangkan kembali keputusan mengusung RK. Pasalnya ditengah dukungan kepada Golkar yang kian menurun, DM malah menyusul RK yang kini ada di urutan pertama versi berbagai lembaga survei.

“Ini masukan rasional saja dari sisi elektoral. Dalam temuan survei kami, dukungan pada DM ini meningkat terus, posisinya sudah ada di peringkat kedua di bawah RK. DM menyalip Demiz (Dedi Mizwar) tanpa ampun dan semakin mendekati RK. Saat yang sama dukungan kepada Golkar malah menurun,” tandas Octariana.

Menutup penjelasannya, Octariana menekankan pentingnya Golkar melakukan konsolidasi di basis-basis suaranya. Jawa Barat sesungguhnya merupakan basis potensial suara Golkar. Menurutnya, sangat penting untuk memperhatikan aspek soliditas dan aspirasi internal kader di daerah tersebut.