CPI Indonesia Naik, Ketua KPK: Pemberantasan Korupsi Ada Kemajuan

MONITOR, Jakarta – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menyatakan, hasil survei Transparansi Internasional pada 1999, Corruption Perception Indeks (CPI) milik Indonesia menunjukkan sebesar 17 persen.

Hal itu disampaikan Agus dalam rapat gabungan antara Komisi III dengan pimpinan KPK, Kepolisian, Kejaksaan, Kemenkumham, di Kompleks Parlemen.

"Hanya 17 persen dari angka semestinya paling bagus 100 persen, dan paling jelek 0 persen," ujar Agus Rahardjo di Jakarta, Senin (16/10).

Agus menjelaskan, jika dibandingkan dengan negara tetangga waktu itu,  posisi Indonesia terbilang buruk di Asia Tenggara. Sebab CPI Filipina mencapai 36 persen, Thailand sebesar 32 persen, Malaysia sebesar 52 persen dan Singapura 87 persen.

Akan tetapi Indonesia berbenah, sambung Agus, seiring dengan dibentuknya KPK pada tahun 2002. Maka dari itu, CPI milik Indonesia  merangkak naik. Contohnya pada 2016, CPI milik Indonesia sudah mencapai 37 persen. Sedangkan CPI milik Filipina hanya sebesar 35 persen, Thailand sebesar 35 persen, Vietnam sebesar 33 perden.

"Dari fakta data itu kita optimis pemberatasan tidak berjalan di tempat. Cukup ada progresif dan kemajuan. Walau perlu langkah-langkah akselesrasi lebih cepat. Itu harus kita akui," tandasnya.