Agama dan Manusia Politik

Dalam film 'Sang Pencerah' karya Hanung Bramantiyo, dikisahkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dikritisi atau diprotes oleh murid-muridnya karena mengajarkan QS al-Maun berulang-ulang, sampai para murid sudah hapal dan paham terjemahan/artinya. Saat salah satu murid sudah sangat bosan, dia pun menanyakan ke kyai Dahlan. "Kenapa kita tidak melanjutkan ke pelajaran ayat selanjutnya kyai?" maka sang kyai meminta sang murid untuk membaca dan menerjemahkan lagi surah al-Maun tersebut.

Sang murid pun berupaya menjelaskan Surat al-Maun yang turun di Makkiyah, terdiri dari 7 ayat. Di sini Allah menjelaskan orang-orang yang mendustakan agama berikut sifat-sifatnya.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿٧٦

1.  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3.  Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4.  Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5.  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6.  Orang-orang yang berbuat riya,
7.  Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Dalam cerita film tersebut, kemudian kyai Dahlan bertanya kepada sang murid. "Apakah sampeyan sudah melaksanakan isi dari ayat yang sampeyan sudah hafal teks dan tau artinya itu?" Para murid pun gelen-geleng kepala, dan selanjutnya sang kyai berkata "kita akan lanjutkan pelajaran ngajinya kalau masing-masing dari kamu sudah melaksanakan isi ayat tersebut".

Masing-masing murid bergegas mencari anak yatim, fakir miskin, kemudian menyantuni, beberapa diantara murid bahkan membawa anak-anak tersebut ke rumahnya, merawat dan mendidik dalam pengasuhannya. 

Dalam kisah diatas, kyai Dahlan hendak memahamkan tafsir ayat al-Maun yakni pertama, tentang sifat manusia yang mendustakan agama itu adalah tindakan yang tidak berpihak pada atau mengabaikan kaum miskin, anak yatim atau kelas proletar (wong cilik). Kedua, kyai Dahlan menitikberatkan keberhasilan pengajaran pada tindakan (amal sholeh). Bagi kyai Dahlan, kualitas keberagamaan seseorang dilihat dari tindakan (action) atau implementasi pemahaman agamanya dalam realitas kehidupan. Ketiga, pesannya adalah celakalah bagi yang peribadah (Sholat) tetapi riya dan tidak bermanfaat bagi sesama (humanis).

Manusia Politik

Tesis Arendt tentang manusia politik dalam buku The Human Condition mengemukakan bahwa, manusia politik adalah manusia tindakan (man of action). Kebermaknaan seorang politisi (manusia politik) ketika keberadaannya bisa dirasakan oleh masyarakat melalui tindakan, tindakan yang memperjuangkan hak-hak kemanusiaan.

Tahun 2018 adalah tahun politik. Kita bisa menyaksikan hampir semua media, cetak maupun elektronik pembahasan utamanya adalah politik. Namun politik disini lebih ditonjolkan adalah pada aspek perebutan kuasa. 

Coba kita perhatikan bagaimana kekuasaan bisa dimiliki di tingkat kabupaten/kota dan propinsi melalui pilkada dengan politik prosedural yang membuat partai-partai "sibuk berkoalisi". Berbagai cara digunakan untuk mengambil simpati partai dan masyarakat. Bahkan ada yang menggunakan cara-cara kotor dan tidak bermartabat yang merusak tatanan hidup dan budaya bangsa.

Kualitas calon (beberapa) tidak dilihat dari rekam jejak tindakan, kerja dan karya yang telah ditorehkan di ruang-ruang publik, tetapi lebih pada kekuatan kapital dan politik dinasti yang dimiliki. Seorang teman dari Sulawesi Barat mengatakan kepada saya, jika mau jadi politisi hal yang pertama ditanyakan adalah berapa isi Tas? Bukan rekam jejak kerja atau karya.

Realitas ini melegitimasi perkataan filsuf politik abad ke 18 Edmund Burke, bahwa sudah menjadi sifat manusia politik ingin mengambil bagian dalam kekuasaan, tetapi tidak ingin mengambil bagian dalam tanggungjawab dari penggunaan kekuasaan itu. Sifat yang condong mementingkan diri pribadi, dan ini merusak tatanan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kembali ke tesis Arendt selanjutnya, dia mengemukakan tiga syarat dasar dari eksistensi manusia sebagai manusia politik (human politic) adalah kerja (labor) karya (work) dan tindakan (action). Politisi yang tidak melakukan kerja, karya dan tindakan maka eksistensi politiknya tidak ada/mati karena hidup harus selalu berarti, berada diantara orang-orang karena keluar dari domain kehidupan bersama (kebersamaan), sama artinya dengan kematian eksistensial manusia (Arendt)

Manusia yang beragama, atau tepatnya manusia politik yang beragama sejatinya berada pada jalur perjuangan kemanusiaan yaitu memperjuangkan kaum miskin, proletar (wong cilik) dengan tindakan dan aksi nyata. Bersama rakyat, merasakan penderitaan rakyat, hadir memberi solusi-solusi terhadap permasalahan bangsa dan negara dengan tindakan, kerja dan karya nyata. 

Sebaliknya jika tidak melakukan perjuangan (dakwah) kemanusiaan dalam bentuk tindakan dan kerja nyata, maka termasuk mendustakan agama dan mendustakan peran politiknya. wallahu a'lam.

*Tulisan ini kado HUT PDI Perjuangan ke 45. Berjuang bersama rakyat untuk Indonesia Raya.