Tingginya Kebutuhan Teknologi dalam Sektor Pendidikan Indonesia

MONITOR, Bogor – National Education Technology Assessment Readiness (NETr) baru-baru ini meluncurkan hail survey mengenai tingginya kebutuhan akan teknologi dalam sektor pendidikan, baik bagi para siswa, guru maupun orang tua. NETr mengukur kesiapan sistem pendidikan Indonesia terhadap penerapan program integrasi Information and Communications Technology (ICT) untuk memastikan penyelarasan antara keahlian yang telah disediakan sistem sekolah lokal dengan jenis-jenis pekerjaan yang sekiranya akan diminati para siswa di masa yang akan datang. Hasil NETr diharapkan dapat menyediakan data bagi para pembuat keputusan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan di masa yang akan datang.

Hasil dari survei NETr menunjukkan tingginya kebutuhan teknologi bagi pendidikan sebagai alat pendukung proses belajar mengajar, baik antara guru dan para siswa maupun antara orang tua dan anak.

Adapun hasil penelitian tersebut adalah : 

1. Siswa : 99 persen siswa bersikap optimis tentang masa depan mereka, dan setuju bahwa komputer dan teknologi akan meningkatkan pengalaman belajar dan produktivitas mereka. Sedangkan 97 persen siswa percaya bahwa mempelajari keahlian komputer dan teknologi akan menjadi bekal yang lebih baik untuk pekerjaan mereka di masa depan.

2. Guru : Sebagian besar responden guru menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat yang baik untuk belajar dan mereka mendapatkan dukungan dari administrasi sekolah, namun 99 persen dari mereka menyatakan bahwa teknologi akan memberikan dampak yang lebih besar bagi proses belajar siswa. Mereka juga merasa bahwa untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar, keahlian teknologi merupakan hal yang penting dimiliki para siswa untuk menghadapi masa depan.

3. Orang tua : 97 persen orang tua di Indonesia setuju bahwa teknologi sudah seharusnya memiliki peranan penting dalam pembelajaran anak sehari-hari guna menambah kompetensi mereka untuk berkompetisi secara global. Namun hanya 37 persen yang yang merasa bahwa sekolah-sekolah negeri yang ada saat ini telah dilengkapi dengan perangkat teknologi yang cukup mumpuni.

• Guru: Sebagian besar responden guru menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat yang baik untuk belajar dan mereka mendapatkan dukungan dari administrasi sekolah, namun 99 persen dari mereka menyatakan bahwa teknologi akan memberikan dampak yang lebih besar bagi proses belajar siswa. Mereka juga merasa bahwa untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar, keahlian teknologi merupakan hal yang penting dimiliki para siswa untuk menghadapi masa depan.

• Orang tua: 97 persen orang tua di Indonesia setuju bahwa teknologi sudah seharusnya memiliki peranan penting dalam pembelajaran anak sehari-hari guna menambah kompetensi mereka untuk berkompetisi secara global. Namun hanya 37 persen yang yang merasa bahwa sekolah-sekolah negeri yang ada saat ini telah dilengkapi dengan perangkat teknologi yang cukup mumpuni

Laporan hasil survei ini juga menunjukkan kemajuan di empat area pendidikan – Pemberdayaan Guru, Kualitas Pendidikan, Pemerataan Akses dan Lapangan Pekerjaan Bagi Generasi Muda yang sekaligus menunjukkan rekomendasi cara di mana ICT dapat digunakan secara efektif untuk memperbaiki kualitas belajar di Indonesia.

Indonesia adalah negara pertama di wilayah Asia Pasifik dan Jepang di mana NETr telah dilangsungkan. Dimulai dari Kota Bogor, rekomendasi NETr bertujuan untuk melengkapi blueprint pendidikan tingkat dunia di abad ke-21 serta mengembangkan tenaga kerja dengan dasar pengetahuan lengkap.

“Masyarakat Bogor merasa bangga dapat terlibat dalam kegiatan survei ini, terutama karena kami yang mendapatkan kesempatan pertama untuk melakukan ini di wilayah Asia Pasifik dan Jepang. Meninjau ulang hasil rekomendasi dan menentukan langkah selanjutnya dari hasil survei adalah prioritas kami saat ini. Bagaimanapun, ini semua tidak akan berjalan lancar tanpa pemberdayaan guru dengan standar kompetensi abad ke-21. Setiap kelas di Indonesia harus mulai menggunakan ICT untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar,” ujar Bima Arya Sugiarto, Walikota Bogor.

Tim survei NETr juga turut melibatkan para pemuka pendidikan dari Paramadina Public Policy Institute, International EdTech Bersama dengan HP dan para pemangku kepentingan. Tim NETr mengunjungi 33 sekolah di Kota Bogor, termasuk sekolah dasar dan menengah untuk melakukan survey terhadap 2,260 siswa, 334 teachers dan 220 orang tua.

Survei yang dilakukan selama tiga minggu ini diawasi secara independen oleh respresentatif UNESCO. Hasil dan rekomendasi dari survei didasari dari kombinasi isian survei dan tanggapan workshop yang dilakukan sebelum dan sesudah survei dilakukan. Area studi yang disurvei dengan responden dari gender yang sama meliputi detil teknologi yang digunakan di sekolah dan di rumah, serta área-area yang dapat diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengalaman belajar mengajar di Indonesia.