Potret Menyedihkan SMPN 3 Jonggat Lombok Tengah

MONITOR Lombok – Kondisi SMPN 3 Jonggat, Lombok Tengah, sungguh sangat memprihatinkan. Sejumlah bangunan tampak rapuh dan sempat roboh. Ditambah lagi, deretan kursi dan meja siswa di kelas dalam keadaan rusak.

Saat memantau lokasi, KPAI yang diwakili Retno Listyarti menyatakan kondisi itu berpotensi membahayakan anak-anak yang menggunakannya. Meski pihak sekolah mengaku sudah 5 kali mengirim proposal pengajuan pembangunan atau rehab total SMPN 3 Jonggat, namun tak kunjung di setujui pemerintah kabupaten. 

Dari hasil penelusuran KPAI melalui berita Koran lokal, penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah mengatakan bahwa rehab total  menunggu jawaban pengajuan dari Kemndikbud RI, padahal SD dan SMP berada di bawah tanggungjawab pemerintah daerah.  

“Seharusnya Pemda bisa berinisiatif dengan APBD bukan hanya menunggu bantuan dari Kemdikbud RI, seolah melempar tanggungjawab kepada pihak Kemdikbud RI, nanti kalau rubuh dan memakan korban jiwa anak-anak, maka tanggungjawabnya bisa di lempar ke pemerintah pusat juga,” ujar Retno, dalam siaran pers yang diterima Monitor

Untuk lebih lanjut, berikut ini paparan lebih detail kondisi bangunan SMPN 3 Jonggat yang dinilai tak layak pakai.

1. Meja kursi reyot

Terlihat bagaimana mirisnya menyaksikan fasilitas belajar yang sangat tak layak. Kondisi kursi dan meja rusak parah. Apalagi kursi, ini sangat berbahaya lanntaran rata-rata sandaran kursi sudah tidak ada dan tersisa dua kayu lancip yang bisa membahayakan anak-anak. Bahkan tampak, adapula meja juga sudah tidak rata dan beberapa kaki meja sudah oleng. 

2 Toilet jorok dan kotor

Ada 5 toilet untuk siswa yang jumlahnya melebihi 300 orang. Kondisinya, sungguh nyaris tak layak digunakan. Selain rusak berat, toilet tersebut kotor dan sangat jorok, sehingga para siswa mengaku memilih menahan buang air, atau cari lokasi di luar sekolah untuk buang besar maupun kecil. 

3. Ruang kelas lembab dan berbau

Seluruh ruang kelas berbau karena lembab. Hampir semua enternitnya berlubang dan lapuk karena air. Jika hujan deras, maka ke-15 ruang kelas bocor dan para siswa harus mengangkat kursi dan mejanya untuk mencari tempat yang aman dari tetesan air hujan.

4. Minim fasilitas

Miris sekali. KPAI melaporkan sekolah ini tidak memiliki ruang laboratorium IPA, ruang kepala sekolah dan ruang Tata Usaha (TU). Hingga pada akhirnya, ruang kepala sekolah dan TU dibuat seadanya, disekat dengan menggunakan triplek.