Pengamat Soroti Konsolidasi Napiter dalam Rutan

MONITOR, Jakarta – Awal pekan lalu publik dihebohkan insiden kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, yang melibatkan ratusan narapidana terorisme (napiter) dengan petugas rutan. Polisi pun mengidentifikasi, para dalang kerusuhan merupakan simpatisan ISIS.

Meski kelompok ekstrimis ISIS, melalui kantor beritanya Ammaq, mengklaim bertanggungjawab atas insiden tersebut, namun para pengamat menilai aksi tersebut murni terjadi tanpa ada perencanaan dari napiter.

“Kalau misal direncanakan. Saya kira itu aksinya akan sampai mati mereka. Mereka nggak akan sampai menyerah di titik perlawanan terakhir. Tapi kan mereka sudah menyerahkan diri setelah ada penindakan,” ujar Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara saat dihubungi MONITOR, dalam waktu dekat.

“Ini aksidental,” tegasnya lagi.

Robi yang merupakan Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta ini menyatakan, para napiter sebaiknya tidak dikumpulkan dalam satu sel tahanan. Menurutnya, hal itu memicu tensi perlawanan terhadap aparat dan menjadi ajang konsolidasi.

“Evaluasi ya, bahwa mengumpulkan kelompok usia dari berbagai daerah yang tidak saling kenal, itu mengakibatkan adanya konsolidasi,” imbuh Robi.

Pengamat terorisme ini menegaskan, konsolidasi dalam sebuah sel tahanan justru akan memicu bahaya yang lebih besar. Selain itu, ia mengingatkan agar para napiter ditempatkan di lapas yang berbeda dari narapidana kasus lainnya.

“Itu titik yg menjadikan kekuatan. Itu juga mungkin over kapasitas,” imbuhnya.