Memikirkan Pikiran

MONITOR, Kecerdikan si 'Aku' memang hebat. Si 'Aku', senantiasa cerdik untuk ingin tampil di berbagai kesempatan.

Media sosial, kini menjadi jalan mulus untuk memungkinkan ke-Aku-an kita ditampilkan secara terus menerus. Lihat saja misal di media sosial bernama Facebook. 

Begitu media sosial buatan Mark Zuckerberg itu dibuka, yang muncul adalah pertanyaan mendasar, "Apa yang anda pikirkan?"

 

Pembuat Facebook itu seakan tahu persis bahwa hal mendasar dalam diri manusia adalah "Memikirkan Sesuatu".

Apa salahnya berpikir? Apakah berpikir salah? Apakah berpikir diharamkan agama? Bukankah dalam Al-Quran disebut banyak ayat yang meminta agar kita berpikir, menggunakan dan mengerahkan akal kita? 

Sejumlah pertanyaan di atas tidak ada salahnya, bahkan wajar dimunculkan. Tentu saja, berpikir itu tidak salah sama sekali. Pertanyaannya, kapan dan apa yang kamu pikirkan? 

Jika kita berpikir atas segala Ciptaan Allah, kemudian kita melakukan perenungan sehingga memunculkan Rasa Kehadiran-Nya, hingga muaranya diri kita bertakbir atas segala Keagungan Allah, maka tidak ada masalah. 

Akal pikiran adalah salah satu anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Bahkan hal itulah yang menjadikan kita lebih mulia ketimbang alam binatang dan alam material. 

Tapi pertanyaannya, apakah karena kita diberikan akal pikiran lantas semua hal harus kita pikirkan? Apakah hal-hal yang jelas-jelas sudah dijamin dan ditanggung oleh Allah, masih juga kita pusingkan? 

Semua orang berharap bahagia, lalu siapa yang menyuruh kita untuk berpikir (mereduksi) bahwa bahagia itu memiliki kriteria sebagaimana yang kita asumsikan?

Mungkin analogi berikut dapat menjadi gambaran.

Seorang tukang yang hendak bekerja, ia dibekali dengan berbagai peralatan (tools). Tapi apakah semua perkakas peralatan (equipment) itu akan digunakan semuanya secara bersamaan? 

Tentu ada masanya dimana si tukang misalnya hendak menggunakan gergaji. Sementara untuk alat gergaji sendiri ada banyak jenisnya, ada gergaji belah ada juga gergaji potong. Gergaji potong untuk besi, sedangkan untuk kayu juga berbeda jenisnya. 

Di kesempatan lain, si tukang juga harus menggunakan martil, obeng, hingga penggaris. Tentu kita akan menyebut tukang yang bodoh ketika yang dibutuhkan adalah membelah kayu namun alat yang digunakan adalah obeng.

Begitulah kira-kira gambaran anugerah perlengkapan dari Allah yang diberikan kepada manusia.

Ada pengetahuan yang diperoleh dengan mengerahkan indra kita (sensible), kemudian pengetahuan yang diperoleh melalui akal pikiran (rasionalitas), hingga pengetahuan yang diperoleh secara intuitif, imajinatif, (khayali) hingga ruhaniah (spiritual) melalui kalbu.

Sampai di sini, kita tegaskan, berpikir tidak salah. Persoalannya adalah kapan dan terhadap hal apa pikiran itu dikerahkan. 

Pikiran itu sendiri adalah anak kandung dari si 'Aku'. Sementara di muka disebutkan  bahwa si 'Aku' begitu cerdas, licin, licik, cerdik, untuk ingin selalu tampil di berbagai kesempatan. Sehingga, di wilayah (zona) yang sebetulnya tak perlu mikir, si 'Aku' masih saja menyusup melalui pikiran demi pikiran.

Peristiwa penempatan pikiran dan hati dalam manusia itu tergambar jelas dalam gerakan-gerakan shalat.

Kita mulai dari posisi berdiri. Berdiri tegak merupakan syarat sah shalat. Saat itu, posisi kepala yang menjadi simbol pikiran dan pemikiran berada di atas sementara dada yang merupakan simbol keberadaan hati berada di bawahnya. 

Gerakan dimulai dengan takbir sebagai simbol menyerah, berserah, dan tidak berdaya. Takbir dilakukan bukan hanya dengan melafalkan 'Allahu Akbar' lewat lisan, tapi juga diekspresikan dengan mengangkat kedua tangan yang juga sekaligus di dukung hati secara penuh bahwa kita menyerah pasrah.

Inilah wilayah dimana kita boleh berpikir. Selama kita berdiri, wajah kita pun mesti menunduk dan mengarah ke tempat sujud. Artinya, meski berpikir kita mesti sadar bahwa akhirnya kita harus sujud dan menuju kepada-Nya. Bahkan saat berdiri itu, yang kita baca adalah surat 'Ibu Al-Quran', yakni Al-Fatihah yang menjadi pembuka, inti, sekaligus benang merah dari Al-Quran. 

Artinya, selama kita berjuang (jihad), selama kita bekerja keras, meski pikiran kita kerahkan namun nilai-nilai yang terucap harus senantiasa sesuai dengan inti Al Qur'an.

Gerakan berikutnya adalah ruku’. Posisi ruku’ adalah posisi keseimbangan. Ruku' adalah satu gerakan dalam shalat dimana kepala dan dada sejajar.

Kepala sebagai simbol berpikir, dada sebagai simbol hati ditempatkan saling mengisi dan mendukung. Bahkan, kedua tangan tidak dibiarkan menganggur, tapi menopang kesetaraan pikiran dan hati. Kita lihat, kedua tangan masing-masing menopang dengan masing-masing kaki berfungsi sebagai penyangga, sementara kedua kaki itu sendiri mesti berpijak kokoh di atas bumi. 

Gerakan selanjutnya adalah sujud. Dalam gerak sujud, posisi kepala sebagai simbol akal pikiran justru dihempaskan dan dibenamkan di bumi. Sementara dada yang menjadi simbol hati berada di atasnya. Bahkan pantat, yang selama ini menjadi alas untuk duduk, selalu ditutupi dan disembunyikan, kini berada pada posisi paling atas. 

Oleh sebagian ulama, sujud merupakan posisi baqa’, yakni satu posisi penyerahan hamba yang paling puncak. 

Kini coba kita renungkan apa saja yang kita rasakan saat sujud dilangsungkan. 

1. Tujuh anggota sujud seluruhnya menempel di permukaan bumi; Bahwa tujuh anasir alam makrokosmos yang ada dalam diri mikrokosmos kita pun harus sujud. 

2. Mata kita, sehebat apa pun tidak bisa melihat apa-apa kecuali tanah; Bahwa pengetahuan indrawi pada akhirnya tetap akan mentok kecuali hamparan tanah yang fana.

3. Kepala dan wajah yang selama ini diagungkan, menjadi mahkota kini dibenamkan; Wajah yang selama ini “didandani” dengan berbagai make up dan tampilan, pada saat sujud bukan apa-apa lagi. Tidak ada urusan ia cantik atau ganteng, saat sujud semua sama. Tak peduli ia pintar atau bodoh, kaya atau miskin, saat sujud semua setara. 

Bertolak dari ragam gerakan di dalam shalat, kita Insya Allah dapatkan i’tibar yang nyata bahwa dalam diri manusia terdapat wilayah-wilayah yang sangat jelas. Kapan kita berpikir, kapan kita merenung, dan kapan pikiran tidak diperlukan sama sekali.

Wallahua’lam bi-showab

 

@abdullah_wong

Kuncen Umah Suwung