Lahirkan Kartini Bangsa Sehat dan Berprestasi melalui Investasi Gizi pada Remaja Putri

MONITOR – Siapa yang tak kenal Ibu Raden Adjeng Kartini? Hari lahirnya, 21 April 1879, dirayakan masyarakat Indonesia sebagai apresiasi terhadap kegigihannya membela kaum perempuan untuk memiliki kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan.

Di balik kisah besar perjuangannya dalam emansipasi perempuan, mungkin masih sedikit dari kita yang mengetahui kisah akhir hayat dari Ibu Kartini. Ibu Kartini tutup usia pada 17 September 1904 di usianya yang masih muda, 25 tahun.

Beliau meninggal dunia tepat empat hari seusai melahirkan putra pertamanya yang bernama Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat pada 13 September 1904 karena komplikasi persalinan. Akhir kisah ini masih dirasakan oleh banyak perempuan Indonesia meskipun telah berselang lebih dari 100 tahun sejak sepeninggalan Ibu Kartini.

Badan Kesehatan Dunia WHO mendefinisikan kematian ibu sebagai kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan atau cidera.  

Angka Kematian Ibu (AKI) dihitung berdasarkan setiap 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan ASEAN Statistical Report on Millenium Development Goals 2017, AKI di Indoneia di tahun 2015 adalah 305, jauh melampui AKI tingkat ASEAN sebesar 197 per 100.000 kelahiran hidup.

Di Indonesia, pendarahan  merupakan penyebab pertama dari komplikasi persalinan yang menyebabkan kematian ibu, dilanjutkan dengan hipertensi saat hamil dan infeksi pada urutan kedua dan ketiga, masing-masing dengan proporsi 28%, 24%, dan 11%.

Risiko pendarahan dapat meningkat apabila ibu menderita anemia atau yang biasa disebut sebagai kurang darah. Anemia merupakan suatu kondisi dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin jumlahnya di bawah normal.

Diperkirakan 2 dari 5 ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu jenis dan penyebab yang paling umum pada anemia adalah anemia karena kurangnya asupan zat besi yang dapat ditemukan pada berbagai sumber makanan seperti telur, daging merah, ikan, kacang-kacangan, dan sayur berdaun hijau.

Investasi perbaikan gizi pada ibu hamil telah dimasukkan ke dalam pendekatan 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sesuai dengan dengan Peraturan Presiden RI No. 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Perhitungan 1.000 hari pertama kehidupan dimulai sejak anak berada dalam kandungan hingga berusia 2 tahun.  

Dengan pendekatan sejak masa awal pertama kehidupan ini, diharapkan ibu hamil dapat melalui masa kehamilan dan persalinan dengan sehat dan selamat, sehingga dapat melahirkan bayi yang memiliki status gizi dan kesehatan yang baik.

Namun, hasil kajian program gizi dan kesehatan terkini diketahui bahwa melakukan prevensi lebih dini dengan memperpanjang waktu perbaikan gizi, sejak anak berada dalam kandungan hingga berusia 21 tahun (8.000 HPK),  ternyata dapat memberikan dampak yang lebih baik. Dengan melakukan investasi pada 8.000 HPK, anak dapat mencapai potensi penuhnya sebagai seorang dewasa. Memiliki kondisi status gizi yang baik sejak remaja membantu mempersiapkan masa kehamilan sehingga komplikasi kehamilan dapat dicegah.

Sekolah dalam hal ini menjadi salah satu pemangku kepentingan kunci dalam menyokong upaya peningkatan status gizi remaja dimana sebagian besar waktu siswi remaja dihabiskan di lingkungan ini.  

Pendekatan prevensi kepada remaja berbasis sekolah sangat strategis mengingat proporsi remaja yang berada di bangku sekolah cukup besar. Selain itu, sekolah merupakan lingkungan yang efektif untuk mengembangkan model pembentukan karakter yang berorientasi pada pemenuhan gizi yang optimal dan seimbang.

Di sisi lain, gizi yang berperan pada fungsi kognitif siswa, juga berperan dalam meningkatkan angka partisipasi siswa di sekolah, dan pada akhirnya meningkatkan prestasi akademik siswa hingga menghasilkan sumberdaya manusia Indonesia yang unggul.  

Namun, dengan keterbatasan sumber daya dan pengetahuan gizi para guru, diperlukan mekanisme agar program prevensi gizi ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan melalui sekolah.

South East Asian Ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) yang juga merupakan Pusat Kajian Gizi Regional Universitas Indonesia telah melakukan pengembangan pendidikan gizi untuk remaja yang dinamakan Remaja ASIK (Aktif, Sehat, pIntar, Kreatif) yang bertujuan untuk meningkatkan praktik konsumsi gizi yang baik pada remaja putri untuk pencegahan anemia, melalui Panduan Gizi Seimbang berbasis Pangan Lokal.

Kegiatan ini telah dilaksanakan sebagai pilot di kabupaten Malang, Jawa Timur bekerjasama dengan Poltekkes Kemenkes Malang, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang melalui program “Gizi untuk Prestasi”.

Kegiatan ini telah bergulir di 2017 dengan melibatkan 4 SMA dan berlanjut di 2018 dengan menambahkan 5 SMA dan ke depannya akan lebih diperkenalkan pada lebih banyak sekolah melalui kerjasama dengan Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai upaya untuk melahirkan lebih banyak ‘Kartini’ sebagai ibu yang melahirkan generasi penerus yang sehat dan berprestasi.

 

 

 

 

Penulis: Indriya Laras Pramesthi, MGz

(Penulis adalah staf di SEAMEO RECFON (South East Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition) yang merupakan salah satu koordinator kegiatan Remaja ASIK dan juga menjadi penanggungjawab program SEAMEO RECFON di lokus Malang).