Generasi Milenial, Kids Zaman Now dan Bonus Demografi

MONITOR – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merilis tahun 2015 lalu jumlah generasi muda usia produktif Indonesia mencapai 84 juta orang. jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang totalnya telah mencapai 255 juta, maka jumlah tersebut sama dengan 33% penduduk Indonesia.

Jika mengacu pada yang sudah ditetapkan oleh pemerintah yang menyebut sebagai usia produktif ialah penduduk dengan usia antara 16-64 tahunmaka, sebesar 50% dari penduduk usia produktif merupakan generasi milenials.

Siapakah yang dimaksud generasi milenials itu? Time Magazine menyebutkan bahwa yang tergolong dalam generasi milenials adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1980-2000. Jadi, saat ini usia mereka berada pada rentang 17 hingga 37 tahun.

Yoris Sebastian, pendiri OMG Consulting mengistilahkan generasi paling kekinian itu dengan sebutan generasi langgas. Generasi yang bebas dan fleksibel, mereka sangat dinamis. Sangat bebas dalam menentukan jalan hidupnya sendiri, kuliah, pekerjaan, bahkan dalam memilih usaha yang akan dijalankan.

Dengan melihat jumlah anak muda langgas yang jumlahnya sangat besar, maka Indonesia sedang berada pada momentum yang di kenal dengan bonus demografi. Keadaan di mana proporsi penduduk usia produktif lebih besar dari pada penduduk dengan usia tidak produktif.

Menurut perkiraan, puncak populasi usia produktif Indonesia akan dicapai tahun 2020 hingga 2030, yaitu sekitar 70% dari total jumlah penduduk. Berkaca dari itu, generasi langgas akan menjadi generasi yang sangat vital buat Indonesia. Peran 84 juta milenials itu akan sangat menentukan dalam perekonomian Indonesia sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi Negara lain.

Di dalam wilayah regional ASEAN (10 negara), jumlah penduduk ASEAN seluruhnya adalah 625 juta orang, artinya sekitar 40% di antaranya adalah orang Indonesia (255 juta orang). dengan jumlah sebesar 84 juta milenials, maka 23% anak muda ASEAN ada di Negara kita.

Jika kita melihat pengalaman Jepang, saat ini Indonesia sedang mengalami momentum yang sama dengan Jepang 67-an tahun silam. Sebab, di tahun 1950-an Jepang juga mendapatkan pengalaman bonus demografi. Dengan upaya yang tepat, kemampuan pemerintah Jepang mengelola sumber daya manusia menjadi berkualitas, menempatkan Jepang menjadi Negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-3 di dunia pada 1970-an.

Hal yang sama akan diraih Indonesia, jika pemerintah berhasil dalam usahanya mengelola energi inovasi yang dipunyai oleh anak muda “jaman now”. Bonus demografi ibarat pisau bermata dua, satu sisi adalah keuntungan ekonomi Negara sementara sisi yang lain adalah beban Negara.

Dalam sebuah kesempatan wawancara, Aqib Malik, aktivis muda NU, mengatakan bahwa jika milenials mampu mengerahkan kemampuanya dalam berinovasi sehingga bisa memberikan kontribusi positif untuk Indonesia, maka Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru di kancah dunia tinggal menunggu saatnya.

"Sebaliknya, kalau kualitas sumber daya manusia terutama generasi mudanya rendah, bonus demografi dapat menjadi beban buat Indonesia”, katanya.

Aqib melanjutkan, sebagai pendiri sekaligus direktur Al-Maliki Center, sebuah konsultan kreatif dan pelatihan-pelatihan leadership untuk anak-anak muda, dirinya kerap menemui pelajar-pelajar di sejumlah daerah,

“Yang dibutuhkan mereka adalah dukungan positif dan pendampingan dari orang-orang terdekat, orangtua dan guru utamanya”, tandasnya.

Hal ini menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun bangsa dengan melakukan pembinaan karakter dan keterampilan generasi muda.