Berkaca pada Persiapan UNBK, Revolusi Industri 4.0 Dinilai Jauh dari Realitas

MONITOR, Jakarta – Dari tahun ke tahun Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) menjadi cerminan pemerintah khususnya dari pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam menyediakan pelayanan, sarana pendidikan dan kualitasnya untuk menyongsong pendidikan ke depan.

Presidium Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Fahmi Hatib mengatakan bahwa terkait pantauan FSGI dari persiapan sarana UNBK SMA persentasenya sekitar 71 persen. Hal tersebut menunjukkan kesiapan sarana komputer (CBT) yg berasal dari sekolah tersebut. 

"Adapun 29% minim komputer sehingga sebagai penyelenggara UNBK SMA harus meminjam dari siswa, guru, dan sekolah lain,” ujar Fahmi, Jakarta, Minggu (8/4). 

Berdasarkan laporan dari jaringan FSGI, misalnya di SMAN 9 Kota Bengkulu, komputer yang disediakan sekolah hanya 10 unit. Sedangkan sebanyak 40 unit komputer dipinjam dari siswa.

Kemudian di SMAN 1 Monta, Bima, NTB. Sekolah hanya mampu menyediakan 28 unit komputer, sedangkan 9 unit dipinjam dari guru, lalu dipinjam dari SMK terdekat 10 unit dan SMP terdekat 19 unit.

Begitu juga di SMAN 1 Gunung Sari, Lombok Barat. Sekolah terpaksa meminjam 30 unit komputer dari SMK dan 20 unit dari SMP. Hal tersebut dilakukan karena sekolah hanya mampu menyediakan 47 unit komputer.

Adapun, SMAN 6 Mataram (NTB) terpaksa meminjam komputer ke SMPN terdekat, karena jumlah peserta UNBKnya mencapai 361 orang dan sekolah hanya memiliki 80 unit komputer dan 4 server. Untuk melaksanakan 3 sesi ujian maka sekolah terpaksa meminjam 40 lebih komputer ke sekolah lain.

“Khusus di MA Swasta, sebagian besar mereka mendapat pinjaman laptop client dari siswa. Penyiapan instal VHD dan sinkronisasinya masih banyak harus dibantu tim Helpdesk Kab/Kota atau Provinsi melalui Remote Dekstop tim viewer (TV), dan banyak yang harus mengalami unlock server karena kesalahan instal. Hingga H-1 juga masih terdapat beberapa MA yang belum melakukan sinkronisasi," ujar Mansur selaku jaringan FSGI di Nusa Tenggara Barat. 

Hal serupa juga diutarakan oleh Wakil Sekjen FSGI yang juga guru di SMA Labshool Rawamangan, Jakarta, Satriwan Salim.  Ia mengatakan bahwa potret penyelenggaraan UNBK yang minim komputer sebagai sarana pendidikan, kendala-kendala teknis, jaringan internet dan lainnya tentu tidak akan mampu melayani pendidikan berbasis IT dengan baik.

"Bagaimana SMA tersebut mau mengantar siswanya di masa depan yang berorientasi kerja berbasis Digital, Komputerisasi dan robotik, seperti yg sering digaungkan oleh pemerintah, tentang pendidikan di era Revolusi Industri Generasi ke Empat (4.0). Jika diukur dari kekurangan kesiapan dalam UNBK ini, tampak sekali jika kampanye tentang Revolusi Industri 4.0 sangat paradoks dengan realita kesiapan masyarakat Indonesia, khususnya di bidang pendidikan," pungkasnya.