Telkom, satu-satunya BUMN yang dual listing di BEI dan NYSE

MONITOR, Jakarta – PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. dianggap layak menjadi "Model of Excellence" bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya karena memiliki sistem hingga "Succession Planning" yang sudah mumpuni.

Direktur Utama Telkom Alex J Sinaga mengungkapkan Telkom melakukan dual listing pada 14 November 1995.

"Kita listing di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) dan NYSE. Waktu listing, kapitalisasi pasar sekitar Rp19 triliun-Rp20 triliun, 22 tahun kemudian menjadi Rp400 triliun. Saham Telkom paling aktif diperdagangkan dan termasuk blue chips. Dalam psikologi pasar modal, harga saham meningkat artinya kepercayaan investor tinggi," katanya.

Dikatakannya, saat ini Telkom menjadi satu-satunya BUMN yang dual listing di BEI dan NYSE. "Kami bersyukur Telkom mampu memenuhi persyaratan yang digariskan otoritas bursa lokal dan internasional. Ini menunjukkan Telkom telah memenuhi kategori perusahaan kelas dunia," ujarnya.
Setyanto P Santosa yang menjadi Direktur Utama Telkom kala melakukan dual listing pada 1995 mengatakan aksi korporasi itu merupakan perjuangan meletakkan pondasi untuk perusahaan.

"IPO bagi kami tak sekadar mempersiapkan perusahan go public tetapi sebagai sarana dan pendorong untuk belajar disiplin dan melaksanakan administrasi yang baik dengan standar internasional," katanya.

Dikatakannya, menggelar IPO kala itu tidaklah mudah karena belum ada BUMN besar yang sudha go public di kancah internasional. "Tim IPO dan direksi tahu go public itu baru secara teori, praktiknya nihil. Dalam mempersiapkan IPO semua sambil belajar, karena itu buku ini saya tulis untuk berbagi pengalaman. Semoga buku ini menjadi bahan pembelajaran bagi generasi penerus bagaimana tantangan menghadang persiapan suatu gagasan besar untuk mengubah sejarah," pungkasnya.