Tahun Depan Kemenperin Bangun Kawasan Industri dan Pendidikan Vokasi di Luar dan Dalam Pulau Jawa

MONITOR, Jakarta – Kementerian Perindustrian (kemenperin) bersiap membangun kawasan Industri dan fasilitas pedidikan vokasi di luar dan dalam Pulau Jawa pada 2018. Untuk menunjangnya, telah dilaksanakan program peningkatan populasi industri skala besar dan sedang sejak 2017.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan akan dibangun kawasan Industri baru dan fasilitas pendidikan vokasi di beberapa daerah di luar Pulau Jawa.

"Pada tahun 2018, Kemenperin akan memfasilitasi pembangunan gedung politeknik Morowali tahap ke-4, pembangunan akademi komunitas Bantaeng tahap 2, serta pembangunan politeknik pendukung kawasan industri Dumai dan kawasan industri Batu Licin tahap pertama. “Kami juga menargetkan, pembangunan sentra industri kecil dan menengah (SIKIM) di luar Jawa sebanyak enam sentra,” ujar Airlangga  usai Konferensi Pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2018 di Jakarta, Rabu malam (16/8).

Adapun untuk di Pulau Jawa pembangunan dilakukan di luar penggunaan anggaran pemerintah atau bekerjasama dengan investor. Yaitu, kelanjutan pengembangan Kawasan Industri di Kendal, Jawa Tengah yang menjadi pusat industri ringan (light industry).

“Kawasan industri yang diresmikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong ini dalam waktu singkat sudah ada 40 industri yang masuk. Ini menunjukkan bahwa masih banyak minat investor yang menanamkan modalnya di Indonesia,” tambah Airlangga.

Selanjutnya, Kementerian penerima penghargaan Pengelola Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) terbaik itu tengah memfasilitasi pembangunan kawasan industri khusus investor Tiongkok di Karawang, Jawa Barat dengan luas 200 hektar. Pembangunan kawasan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan dalam seminar G20 di Shanghai, China. "Investasi sudah ada industri otomotif dan spare part. Di sana bisa menjadi supporting," tutur Airlangga.

Dalam upaya menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas, terampil dan siap berkompetisi, Kemenperin menginisiasi melalui program pendidikan vokasi industri dengan jenjang SMK dan diploma serta pelatihan industri dengan sistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja). Program ini sekaligus mendorong peningkatan daya saing dan produktivitas industri nasional.

“Program-program tersebut bekerja sama dengan industri. Hingga Juni 2017, mereka yang sudah ditempatkan di perusahaan sebanyak 9.948 orang,” ungkap Airlangga.

(Baca juga: Kawasan Industri dan Pendidikan Vokasi Wujudkan Ekonomi Berkeadilan)

Melalui upaya pengembangan kompetensi SDM industri, ditargetkan akan tercapai 1 juta tenaga kerja industri yang tersertifikasi pada tahun 2019. sedangkan pada 2018, ditargetkan pelaksanaan Diklat 3 in 1 akan diikuti sebanyak 32.000 orang, penyusunan 20 Standar Kompetensi Kerja Tenaga Kerja Industri dalam Pembangunan Infrastruktur Kompetensi (SKKNI), serta penyelenggaraan pendidikan kejuruan industri berbasis kompetensi di 9 SMK untuk 6.256 siswa yang menghasilkan 1.576 lulusan.

Di samping itu, diselenggarakan pula Pendidikan Tinggi Vokasi di 9 Politeknik Industri dan Akademi Komunitas Industri Berbasis Kompetensi untuk 11.747 mahasiswa yang menghasilkan 3.509 lulusan, serta tersedianya 1.050 orang tenaga pengajar profesional (silver expert) di SMK yang link and match dengan industri.

Populasi industri tumbuh

Menperin juga menyampaikan, pihaknya fokus menjalankan program prioritas, antara lain adalah menumbuhkan populasi industri. Hingga Juni 2017, penambahan sektor manufaktur mencapai 572 industri skala besar dan sedang baik investasi baru maupun perluasan usaha.

“Walaupun upaya penumbuhan populasi industri ini tidak terkait dengan penyerapan anggaran, namun dari segi fasilitas insentif diberikan oleh Kementerian Keuangan baik itu dalam bentuk tax allowance dan BMDTP, yang turut mendorong investasi,” ungkapnya.  Hingga Juni 2017, nilai investasi sektor industri untuk PMA sebesar USD7,06 miliar dan PMDN sebesar Rp52,11 triliun yang meliputi 8.421 proyek tersebar di seluruh Indonesia.

Kemudian, untuk sasaran penumbuhan populasi industri pada tahun 2018, industri besar dan sedang diproyeksi mencapai 2.047 perusahaan yang meliputi sektor industri agro, industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika, serta industri kimia, barang non logam, tekstil dan aneka.

“Di samping menumbuhkan populasi industri besar dan sedang, pada tahun depan, kami juga mendorong penumbuhan populasi IKM melalui pelatihan atau bimbingan teknis kewirausahaan dan teknis produksi, bantuan start-up capital, dan pendampingan bagi IKM sebanyak 1.100 IKM, revitalisasi sentra IKM termasuk e-smart IKM sebanyak 55 sentra dengan target 12.000 produk, serta restrukturisasi mesin dan peralatan untuk 120 IKM,” papar Airlangga.

Disebutkan kementerian  penerima PNPB terbaik itu bahwa berdasarkan data UNIDO, kekuatan nilai tambah industri manufaktur di Indonesia menempati peringkat 10 besar di dunia. Capaian tersebut menunjukkan investasi di sektor industri terus tumbuh. “Misalnya investasi dari industri pulp and paper di Riau dan Sumetara Selatan yang cukup besar,” ujarnya.

Bahkan, daya saing industri makanan dan minuman nasional berada di posisi empat besar dunia serta produktivitas industri dalam negeri untuk sektor sepatu dan pakaian olahraga sudah melewati Tiongkok. “Kinerja industri kita yang gemilang ini juga ikut meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Contohnya, investasi di industri otomotif yang mencapai Rp16 triliun, tenaga kerjanya 5.000 orang,” imbuhnya.

(Baca juga: Airlangga Hartarto : SDM Aset Penting Pendorong Pembangunan Ekonomi Nasional)

Selain itu, Menteri Airlangga menyebut produktivitas industri semen nasional dalam kurun waktu 2-3 tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Dimana terjadi peningkatan kapasitas 100 juta ton per tahun atau jauh di atas produksi Jepang. “Kami juga telah menyusun roadmap pengembangan industri baja, yang salah satu targetnya adalah membangun klaster di Cilegon untuk mencapai produksi 10 juta ton baja per tahun," ujarnya.