Singapura Diprediksi Bakal Naikkan Pajak Pekan Depan

MONITOR, Singapura- Singapura yang dikenal memiliki kebijakan pajak yang rendah diperkirakan akan mengumumkan kenaikan pajak pada penetapan anggaran Senin depan, kenaikan tersebut untuk pertama kalinya sejak 2007 atau satu dekade yang lalu. 

Prediksi tersebut dikemukakan oleh Reuters yang telah melakukan survei kepada 10 ekonom, dimana sembilan diantarannya memperkirakan Pemerintah negara kota tersebut akan mengumumkan kenaikan pajak.

Keputusan tersebut dinilai penting untuk diambil mengingat perlunya meningkatkan pendapatan negara untuk memenuhi belanja sosial dengan populasi yang diprediksi akan didominasi oleh angkatan pensiun.

Para ekonom tersebut juga menduga, Menteri Keuangan Heng Swee Keat akan melakukan memberlakukan pungutan pajak kepada pengecer e-commerce seperti Amazon.com Inc.

Terlebih, Singapura pada tahun 2017 mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat dalam tiga tahun, diperkirakan 3,5 persen. "Kuatnya pertumbuhan ekonomi merupakan faktor penarik yang baik untuk mendukung kenaikan pajak," kata Ekonom dari Singapore Overseas Bank, Francs Tan seperti dilansir Reuters.

Dia memperkirakan, Goods and Service Tax atau Pajak Layanan dan Barang (GST) yang diterapkan di Singapura akan meningkat sebesar 1% tahun ini menjadi 8 persen, diikuti oleh kenaikan 1 poin presentase lainnya di tahun depan.

Tan menambahkan, bahwa ada "kebutuhan mendesak" untuk beralih ke pajak tidak langsung lantaran pajak untuk pajak penghasilan bisa menjadi lebih kecil dalam jangka panjang mengingat tantangan demografis Singapura.

Sementara untuk pajak konsumsi, Singapura adalah salah satu yang terendah di dunia, GST masih merupakan sumber penerimaan pajak terbesar kedua pemerintah, disamping pajak perusahaan.

Singapura memperkenalkan GST pada 1994, dengan tingkat 3%. Kemudian meningkat 4% pada 2003 dan 5% pada 2004, kemudian menjadi 7% pada tahun 2007.

Beberapa ekonom termasuk Jingyang Chen dari HSBC, memperkirakan kenaikan 2 poin presentase akan diumumkan pada hari Selasa, mengingat GST yang lebih tinggi dapat disertai langkah-langkah untuk mengurangi beban bagi keluarga berpenghasilan rendah, seperti yang dibebankan kepada transfer tunai dan voucher.

Delapan dari 10 ekonom yang disurvei Reuters berharap pemerintah mampu memperluas aturan pada transaksi e-commerce yang tunduk pada GST.

Saat ini, konsumen Singapura membayar GST 7% atas pembelian mereka dari peritel online yang berbasis di Singapura. Sebaliknya, mereka tidak membayar GST pada barang yang dibeli dari pemasok luar negeri jika nilai barang impornya dibawah 400 dollar Singapura, atau senilai 302,40 dollar Amerika.

Beberapa ekonom juga menyarankan agar ada tambahan pajak atas kekayaan, seperti kenaikan pajak properti tahunan, serta produk alkohol dan tembakau.

Ekonom Credit Suisse, Michael Wan memperkirakan kenaikan 2% GST akan menambah sekitar 0,6 persen dari penerimaan negara setiap tahunnya, tentunya hal itu dapat menjadi pertimbangan ketika pemerintah memikirkan dampaknya terhadap rumah tangga berpendapatan rendah.

Para ekonom memperkirakan kenaikan 2% poin GST dapat meningkatkan tingkat inflasi Singapura sebesar 1,0-1,5% dengan mengacu pada nilai acuan standar yang diawasi ketat oleh para pembuat kebijakan.

"Jika MAS (Monetary Authority of Singapore) melihat risiko inflasi jangka panjang setelah GST diterapkan, maka hal itu akan menjadi faktor yang menjadi keputusan kebijakannya," kata Chen dari HSBC.