Kementan: Mensejahterakan Petani adalah Harga Mati

MONITOR, Jakarta – Merespon klaim Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Dwi Andreas Santosa, yang menyebut ekspor jagung adalah hal yang sangat rutin sehingga tidak perlu dibanggakan, sangat disayangkan oleh Kepala Pusat Litbang Tanaman Pangan, Ismail Wahab.

Ismail menegaskan, sejatinya, ekspor jagung sangat bermanfaat untuk petani, karena merupakan salah satu pendongkrak peningkatan pendapatan. Meningkatkan produksi komoditi pertanian bukanlah satu-satu nya strategi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani, namun peningkatan pendapatan petani melalui ekspor juga disasar agar kesejahteraan yang diinginkan lebih cepat dapat dirasakan oleh petani.

“Kementan memastikan produksi jagung nasional 2018 dalam kondisi surplus. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terlihat tren peningkatan produksi jagung nasional secara signifikan,” tegas Ismail di Jakarta, Sabtu (25/8/2018).

Tercatat, tahun 2014 produksi jagung di Indonesia sebesar 19,0 juta ton. Peningkatan produksi mulai terjadi pada 2015 menjadi 19,6 juta ton, tahun 2016 sebesar 23,6 juta ton, dan pada 2017 produksi jagung mencapai 28,9 juta ton. Peningkatan ini diperkirakan masih akan terjadi di tahun 2018, dengan tingkat produksi rata-rata 5,2 ton per hektar dan luas panen sampai akhir Desember nanti diperkirakan akan mencapai 5,74 juta hektar.

“Jadi, produksi jagung tahun ini diperkirakan bisa melebihi produksi tahun lalu dengan capaian lebih dari 29 juta ton,” beber Ismail.

Dengan produksi yang baik tersebut, sambung Ismail, Kementan juga mengeluarkan kebijakan untuk menjaga harga dengan menaikkan harga pembelian pemerintah dari Rp.2.200 menjadi Rp. 3.150 per kg jagung pipil. Sehingga petani tetap terus diuntungkan.

“Jadi walopun melimpah produksi, petani terjamin pendapatannya, sehingga membuka peluang ekspor, yang dapat lebih meningkatkan pendapatan petani,” kata Ismail.

Ismail membeberkan produksi yang sangat meningkat signifikan juga merupakan realisasi dari program ekstensifikasi lahan pertanaman jangung secara nasional. Alhasil, lahan pertanian di luar Pulau Jawa dapat dimanfaatkan pula untuk pertanaman jagung, karena budidaya jagung relative lebih mudah dilakukan oleh petani dengan input terbatas.

“Program ekstensifikasi ini juga untuk menjawab kebutuhan bahan pakan ternak di luar pulau Jawa,” bebernya.

Data menunjukkan dari total produksi tersebut, hampir sekitar 59,2 persen jagung akan berasal dari luar Jawa dan 40,8 persen berasal dari Jawa.

“Klaim Pak Andreas juga tidak benar lagi. Hal ini mengingatkan saya, saat menjadi Kepala BB Padi, tahun 2017 lalu, Prof Andreas yang menjabat sebagai ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) pernah bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) dan kerjasama langsung dihentikan BB Padi karena ternyata AB2TI tidak memahami prosedur dan kaidah standar pelepasan varietas,” ungkap Ismail.

Dia menegaskan Kementan terus bekerja untuk kesejahteraan petani. Mungkin pekerjaan ini masih harus terus ditingkatkan, tapi jika baik ya harus dikatakan baik.

“karena niat untuk mensejahterakan petani ini sudah mandarah daging untuk Kementerian Pertanian, tidak perlu diragukan dan ditawar-tawar lagi,” tandasnya.