Jangan Hanya Kritik, GPMT Diminta Ikut Antisipasi Anjloknya Harga

Panen raya jagung di sejumlah daerah

MONITOR, Jakarta – Pernyataan Dewan Pembina GPMT, Sudirman, di media yang menyebutkan bahwa harga pakan ternak masih tinggi bertolak belakang dengan kenyataan dan fakta di lapangan.

“Saya rasa dia tidak cukup waktu untuk turun mengecek informasi harga jagung saat ini. Seminggu terakhir harga jagung sudah anjlok karena panen raya merata di mana mana,” ujar Mochammad Amir Kasubdit di Direktorat PPHTP Kementan, Jumat (22/2).

“Jangan jangan Sudirman tidak cukup waktu untuk melihat kondisi di lapangan, sehingga ceritanya ssma dengan bulan januari 2019 yang sangat jelas semangat untuk impor jagung. Coba sekali-sekali turunlah ke lapangan, tanyakan ke petani langsung di Playen dan Semin di Gunung Kidul, bagaimana kondisi harga saat ini, terutama sebelum dan sesudah panen raya ini,” tambah Amir.

Ia mengingatkan, agar jangan hanya bicara berdasarkan informasi yang tidak jelas dan syarat pesan impor.

Sebagaimana diketahui, Tim Kementerian Pertanian dua minggu ini sedang dan terus melakukan panen raya di beberapa wilayah sentra produksi jagung seperti Tanah Karo, Simalungun, Lampung Timur, Gorontalo, Tanah Laut, Pandeglang, Grobogan, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Sragen, Wonogiri, Boyolali, Bone, Jeneponto, Bolmong, dan Minahasa Selatan.

“Artinya kami relatif up date, karena didukung penuh Pemerintah Provinsi dan Kabupatrn sentra jagung,” kata Amir.

Hasilnya, lanjut dia, rata-rata daerah sentra sedang memasuki panen raya dan yang dikhawatirkan dan selalu dipertanyakan petani sekarang adalah mengapa harga yang terus menurun. Tercatat penurunan sekitar Rp 100 – Rp 1.000 merata di semua wilayah.

“Kita saat ini harusnya mulai memikirkan bagaimana caranya agar petani tidak rugi. Kita semua harus termasuk anggota GPMT bertanggungjawab mengantisipasi penurunan harga jagung ini,” ungkap Amir.

Lebih lanjut Amir menekankan, sudah saatnya GPMT ikut berperan aktif dan nyata dalam menyerap jagung petani agar stabil, bukan malah berkoar-koar tanpa data yang kuat bahwa harga jagung masih tinggi.

Ia menilai, hal ini sangat ironis dan egois sekali, karena GPMT seharusnya jadi mitra petani bukan justru mendistruksi hubungan mutualistik itu. Ketua GPMT bersama perwakilan 7 pengusaha pakan ternak pada hari Rabu 20 Februari 2019 duduk bersama Kementan. Mereka mengamini bahwa stok mulai banyak dan harga anjlok. Dari pertemuan itu disepakati GPMT akan membantu menyerap jagung petani lokal lebih banyak dengan harga yang wajar.

“Harusnya Sudirman selaku Dewan Pembina GPMT mendukung upaya tersebut, bukan malah memberikan pernyataan yang kontroversial. Wajar jika petani menjual dengan harga tinggi di atas acuan Rp 3.150/kg, karena perusahaan anggota GPMT pun mengambil untung yang besar dengan menjual pakan mahal sampai saat ini dengan berbagai argumen pembenaranya,” kata Amir.

“Biarkan petani mendapat keuntungan lebih, karena pada panen raya kedepan harga jagung pasti tertekan. Sudirman dan kita semua wajib hargai kerja keras petani kita, jangan hanya memikirkan keuntungan sendiri. Mohon dipikirkan juga nasib petani kita pada saat harga anjlok saat panen raya hanya mampu menjual Rp 2.000 per kg pipilan kering. Semua pihak harus sepakat bahwa menolong petani dengan menjaga harga jagung yang wajar saat panen raya adalah suatu kewajiban,” pungkas Amir