Durian Lolong Pekalogan; Si Legit dan Gurih yang Siap Menggempur Pasar

Durian Lolong Pekalongan (istimewa)

MONITOR, Pekalongan – Mungkin diantara kita belum banyak yang tahu jika durian merupakan salah satu komoditas buah unggulan Kabupaten Pekalongan. Padahal, berdasarkan data angka Kabupaten Pekalongan, produksi durian tahun 2017 mencapai 141.580 kuintal dengan produktivitas 95,02 kg per pohon. Sedangkan pada tahun 2018 triwulan II sebanyak 584 kuintal dengan produktivitas 13,68 kg per pohon.

Jika dilihat dari data BPS 2017 produksi durian Propinsi Jawa Tengah Tahun 2017 sebesar 913.853 kuintal, dengan total produksi durian pekalongan sebesar 141.580 kuintal maka terdapat kontribusi Kabupaten Pekalongan sebesar 15,49% terhadap produksi durian Jawa Tengah. Sedangkan untuk tahun 2018, produksi durian tahun 2018 triwulan II sebesar 675.632 kuintal sehingga dengan produksi 584 kuintal Kabupaten Pekalongan memberikan kontribusi sebesar 0,09%.

Nah, buah unggul lokal yang sangat digemari masyarakat pekalogan saat ini dan tengah menjadi primadona yaitu durian lolong. Durian ini mempunyai rasa khas seperti manis, legit, gurih dan ada pahitnya.

Durian Lolong adalah durian lokal yang ditanam secara turun temurun di Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Kebun durian di Kabupaten Pekalongan sendiri banyak terdapat di 4 kecamatan yaitu Kecamatan Talun, Kecamatan Doro, Kecamatan Karanganyar dan Kecamatan Kajen. Namun, khusus durian lolong banyak terdapat di Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar.

Pemilik menunjukan Durian Lolong Pekalongan

Berdasarkan data angka Kabupaten Pekalongan, jumlah tanaman menghasilkan pada tahun 2017 sebanyak 149.008 pohon, dan pada tahun 2018 triwulan II sebanyak 4.268 pohon. Tanaman yang berproduksi pada triwulan II berada di kecamatan Paninggaran, Lebakbarang, Wonopringgo dan Kedungwuni. Jarak tanam yang digunakan adalah 10×10 dengan populasi 100 pohon/ha. Panen terjadi pada bulan Januari – Maret.

Dalam rangka meningkatkan produksi dan mutu durian, Direktorat Jenderal Hortikultura memfasilitasi pengembangan durian lokal yang berdaya saing di wilayah sentra dengan model pengembangan kawasan yang didukung dengan penggunaan benih durian bermutu diiringi oleh penanganan budidaya dan pascapanen yang baik dan benar agar menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi. Pengembangan kawasan dari dana APBN mulai tahun 2011 hingga 2018 seluas 3.713 Ha yg tersebar didaerah sentra2 utama, 125 ha diantaranya dikembangkan di Provinsi Jawa Tengah.

Imam Fadholi, salah seorang penyuluh pertanian di Kabupaten Pekalongan mengatakan beberapa waktu yang lalu durian lolong ini dijual kepada tengkulak secara pikulan 100 butir dengan harga Rp. 25.000 per butir, dan dijual ke Jakarta, Bandung, Semarang, dan di Kabupaten Pekalongan itu sendiri.

“Kini para konsumen datang sendiri ke Desa Lolong untuk menikmati durian secara langsung di kebun bahkan pemain sepak bola terkenal seperti Bambang Pamungkas dan George Nkolo pun pernah datang ke Desa Lolong untuk menikmati durian yang lezat tersebut,” kata Fadholi.

Sementara itu, salah seorang pemilik pohon durian Lolong, Wahyuudi mengatakan harga pada saat panen raya (Januari s/d Maret setiap tahunnya) sekitar Rp. 50.000 hingga Rp. 100.000 per butir bahkan pada saat off season ada yang berani membeli Rp. 250.000 per butir.

“Jumlah butir per pohon pada saat panen berkisar antara 250 sd 300 butir bahkan ada pohon yang mampu menghasilkan 500 butir,” ungkapnya.

Zakaria, pemilik pohon durian Lolong menyampaikan bahwa durian Lolong adalah durian lokal yang belum disertifikasi sehingga dirinya mengharapkan bantuan pemerintah untuk mensertifikasi varietas durian lolong agar diakui secara nasional sehingga durian tersebut dapat terus dikembangkan untuk mendapatkan mutu dan jumlah hasil panen yang lebih baik dan bisa menjadi oleh-oleh khas Kabupaten Pekalongan.