Pengamat: Teror Bom Tak Mengganggu Stabilitas Ekonomi

MONITOR, Jakarta – Direktur Utama BEI Tito Sulistio bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) mengungkapkan ucapan belasungkawa atas tragedi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5) kemarin. Meski demikian, Tito berharap pelaku pasar bursa saham tetap tenang dan beraktivitas secara normal.

“Saya yakin teror bom Surabaya juga tidak akan berpengaruh besar terhadap aktivitas di pasar modal,” kata Tito dalam keterangannya.

Tito menyatakan, emiten yang tergabung dalam LQ45 menunjukkan kinerja yang solid dengan rata- rata pendapatan meningkat sebesar 15,96%. Sementara laba bersih meningkat 11,68% pada kuartal 1 2018 dibandingkan dengan kuartal 1 2017.

Sementara kondisi pasar juga cukup stabil yang ditunjukkan dengan likuiditas transaksi yang tinggi dengan rata-rata transaksi harian mencapai Rp 8,87 triliun atau meningkat 16,7% dibandingkan 2017, dengan frekuensi harian sebesar 387 ribu atau meningkat sebesar 23,7% dibandingkan 2017.

Pada saat terjadinya teror, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi sebanyak 77,86 poin atau sebanyak 1,72% di level 4.459,32 poin.

Namun koreksi IHSG tersebut hanya reaksi sesaat atau bersifat sementara karena pada penutupan perdagangan sesi II di hari yang sama, IHSG hanya ditutup melemah tipis 0,53% dan keesokan harinya justru menguat 0,24%.

“Investor di pasar modal tidak terpengaruh oleh gerakan teror yang terjadi,” kata Tito.

Senada dengan itu, Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB, Irfan Syauqi Beik mengaku terkejut atas teror di Surabaya. Ia mengutuk keras segala bentuk kebiadaban dan kejahatan kemanusiaan seperti kasus bom di Surabaya lalu.

“Turut berduka cita atas jatuhnya korban jiwa dan korban luka dalam peristiwa bom Surabaya,” ujar Irfan saat dihubungi MONITOR, Senin (14/5).

Ia berharap pemerintah bersama Polri dapat mengungkap dengan tegas dan tuntas siapa dalang sebenarnya. Penyelidikan Polri diharapkan tidak hanya berhenti pada pelaku beserta jaringan operator lapangannya, tapi bisa mengungkap siapa dalang utama di baliknya.

“Kalau gak tuntas, khawatir pola-pola seperti ini akan terus terulang dan bisa menggangu stabilasas ekonomi kedepan” ujarnya.

Irfan mengatakan, pengaruh peristiwa ini terhadap pertumbuhan ekonomi syariah tidak berdampak besar.

“Saya melihat pengaruhnya tidak relatif besar. Tidak ada pengaruh yang signifikan sehingga membuat ekonomi syariah berada dalam tekanan,” tutur Irfan.

Menurutnya, kondisi ekonomi syariah akan tetap stabil dan kuat karena fundamental negara juga kuat.

“Insya Allah teror ini belum pada tahap yang dapat mengganggu stabilitas dan perkembangan ekonomi syariah, jika melihat indikator kerja performa syariah yang kuat,” tandasnya.

Dia juga berpesan untuk serta merta tidak membiarkan isu ini, sebab akan berpengaruh yang berkepanjangan terhadap pertumbuhan ekonomi kedepan.

“Ini jangan dibiarkan pada jangaka panjang, jika tidak ditumpas sampai ke akar, tentu akan menggangu ekonomi ke depan.” tutupnya.