Kembangkan Jagung di Wilayah Perbatasan Indonesia Timur, Kementan gandeng FAO

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) dan Organisasi Pangan Dunia Food Agriculture Organization (FAO) bekerjasama dalam membangun lumbung pangan di wilayah perbatasan timur Indonesia melalui pengembangan tanaman jagung di lahan marginal.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur sekaligus Koordinator Program Upaya Khusus (UPSUS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ani Andayani mengatakan lembaga pangan dunia Food Agriculture Organization (FAO) mulai tahun 2017 siap bersinergi dengan Kementan dalam rangka pengembangan jagung di lahan marginal di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan membangun lumbung pangan di wilayah perbatasan.

Sinergi ini melalui Program UPSUS yang didukung oleh model Conservation Agriculture yang tengah diimplementasi FAO untuk menjaga keberlanjutan kesuburan tanah.

Kemarin konsultan FAO datang ke Kementan, menyampaikan bahwa Program UPSUS peningkatan produksi jagung di NTT sangat cocok disinergikan dengan model Conservation Agriculture yang dijalankan FAO.

“Program UPSUS merupakan wadah yang tepat untuk mengimplementasikan model tersebut, sehingga hasilnya dapat dilihat langsung dari pemanfaatan lahan marginal dan besarnya produksi jagung," kata Ani di Jakarta, Kamis (17/8).

Model Consevation Agriculture bertujuan meningkatkan kesuburan tanah melalui optimasi kelembaban tanah, efisiensi pemanfaatan air tanah, penggunaan bahan organik untuk kesuburan tanah. Oleh karena itu, menurut Ani, sinergi Kementan dengan FAO ini sangat positif untuk penerapan inovasi dan teknologi bagi pelaksanakan Program UPSUS peningkatan produksi jagung di NTT dan NTB yang lahan pertaniannya relatif kurang subur dan banyak memiliki lahan terlantar atau dikenal lahan marginal.

"Karena itu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementan yang bekerja sama langsung dengan FAO dapat mengsinergikan model Conservation Agriculture untuk pengkayaan inovasi dan teknologi yang dihasilkan, sehingga lahan marginal dapat dimanfaatkan sepenuhnya khususnya untuk menghasilkan jagung menuju swasembada" jelasnya.

Konsultan FAO, Joseph Viandrio mengatakan sinergi model Conservation Agriculture dengan Program UPSUS merupakan langkah yang tepat untuk mempercepat pencapaian swasembada jagung. Ia mengungkapkan Program UPSUS khususnya di NTT berhasil meningkatkan pengembangan produksi jagung. Hal ini terlihat dari adanya penambahan luas lahan, bantuan insentif ke petani meningkat yakni berupa benih, pupuk, dan alat mesin pertanian serta perbaikan irigasi.

"Selain itu, sistem dan mekanisme pelaporan Program UPSUS sudah bagus. Dengan sistem dan mekanisme ini, model Conservation Agriculture dapat dengan mudah diimplemetansikan dan diadopsi para petani," ungkap Joseph.

Perlu diketahui, berdasarkan data BPS, realisasi luas tanam jagung di NTT pada musim tanam Oktober hingga Maret 2015/2016 sebesar 289.112 ha. Kemudian, luas tanam jagung pada musim tanam Oktober hingga Maret 2016/2017 sebesar 324.501 ha. Realisasi luas tanam Oktober hingga Maret 2016/2017 ini melebihi target yang ditentukan 268.056 ha.

Sementara luas lahan jagung NTT sebelum Program UPSuS pada musim tanama Oktober-Maret 2013/2014 hanya 248.979 ha. Dengan sinerginya model dari FAO itu dapat mendukung Program UPSUS di NTT dan NTB, sebagai langkah maju menuju percepatan swasembadanya.