Inovasi Teknologi Informasi BPJS Kesehatan

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) terus melakukan berbagai upaya untuk mencapai tujuan tiga utama atau wildly important goals yaitu sustainabilitas financial (keberlangsungan finansial), customer satisfaction (kepuasan peserta), dan universal health coverage (cakupan semesta). Untuk menjalankan wildly important goals yang sudah dicanangkan oleh BPJS Kesehatan memang perlu didukung oleh inovasi IT yang lebih baik. Untuk mendukung hal tersebut, Direktur Teknologi dan Informasi BPJS Kesehatan Wahyuddin Bagenda mengungkapkan lima strategi fokus.

Pertama, strategy a line, yaitu bagaimana mengharmonisasikan kemampuan teknologi informasi yang dimiliki terhadap tuntutan bisnis organisasi yang dicapai. Kedua, value delivery yaitu solusi teknologi informasi yang bernilai tinggi terhadap bisnis organisasi. Ketiga, risk menegament yaitu bagaimana mengelola resiko terhadap pemanfaatan penerapan teknologi informasi. Keempat, aset menagament, yaitu bagaimana mengelola aset berjalan dengan baik. Kelima, performance measurement yaitu untuk mengukur kinerja teknologi informasi yang sudah berjalan.

“Ini yang kita sebut strategi fokus IT untuk mendukung wildly important goals tadi,” ungkap Wahyuddin Bagenda kepada Majalah Keuangan Negara, di ruang kerjanya, Rabu 1 Februari lalu.

Wahyuddin menyatakan, dalam menjalankan lima strategi tersebut terdapat tiga slogan yang menjadi andalan BPJS Kesehatan, yakni harus ada speed, equlity, and service. Menurutnya, data yang dideliver harus cepat dan kualitasnya bagus, kemudian service juga yang memuaskan.

Untuk menunjang wildly important goals dari sisi keberlangsungan finansial, teknologi informasi berkontribusi secara praktis melalui akses pembayaran. Sebab menurut Wahyuddin, berdasarkan hasil riset ada beberapa persen masalah pada akses pembayaran yang tidak tersedia. Hal ini bukan pada persoalan jumlahnya, akan tetapi persoalan distribusi. Contohnya permasalahan masyarakat yang masih minim untuk akses di perbankan sehingga kecenderungan masyarakat membayar masih secara cash.

Pihak BPJS Kesehatan sendiri mengakui, meskipun saat ini telah tersedia sistem pembayaran melalui gerai-gerai dan toko-toko modern seperti di Alfamart, Indomart, dan agen-agen pembayaran lainnya, tetapi masih banyak masyarakat yang datang langsung ke kantor untuk melakukan pembayaran. Atas kondisi tersebut, BPJS Kesehatan tergerak untuk menemukan inovasi teknologi informasi untuk lebih mempermudah masyarakat untuk melakukan pembayaran iuran atau premi.

“Kita menambahkan sebuah sistem yang bernama Kios-Q. Sistem ini berfungsi bukan saja untuk pendaftaran tapi juga untuk pembayaran. Kegunaannya untuk mempermudah akses pembayaran,” kata Wahyuddin yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT. Len Industri ini.

Selain inovasi untuk mempermudah pembayaran dan pendaftaran, BPJS Kesehatan juga telah mengembangkan inovasi teknologi informasi pada financial sustainability dari aspek pengedalian biaya. Dari aspek verifikasi, BPJS Kesehatan memiliki aplikasi yang bernama VEDIKA (Verifikasi di Kantor) yang sudah dimulai sejak tahun 2016. VEDIKA dimaksudkan sebagai upaya untuk mempercepat proses klaim dari rumah sakit. Dengan lahirnya VEDIKA ini, teknologi informasi mampu memberikan kontribusi efesiensi proses. “Artinya, tidak perlu lagi para verifikator itu bertugas di rumah sakit, karena sudah dapat melakukan proses verifikasinya di kantor cabang masing-masing,” ungkap Wahyuddin yang juga Ketua IKA MM FEB Universitas Padjadjaran ini.

Berikutnya dari sisi pelayanan yang berkaitan dengan financial sustainability, BPJS Kesehatan telah menerapkan apa yang dinamakan Kapitasi Berbasis Komitmen (KBK). Salah satu poin di dalam kontrak KBK ini supaya seluruh fasilitas kesehatan bisa menggunakan aplikasi Primary Care (Pcare). Aplikasi Pcare ini sangat bermanfaat dalam mengendalikan rujukan. Karena di dalam sistem KBK sudah ditetapkan bahwa fasilitas kesehatan harus memiliki capability untuk mendiagnosa penyakit.

“Apabila orang datang dia akan di cek apakah orang tersebut member atau bukan, sudah bayar atau belum. Aplikasi ini akan memberikan informasi,” terang pria yang ramah senyum ini.

Inovasi lainnya adalah penambahan fitur baru pada Mobile Application. Pada bulan Mei 2017 nanti, BPJS Kesehatan akan meluncurkan tambahan fitur baru yang menampilkan tagihan history tiga bulan terakhir sebagai salah satu syarat jika peserta ingin pindah fasilitas kesehatan. Jika belum tiga bulan, maka ada warning. Seperti diketahui, saat ini aplikasi mobile BPJS hanya dapat diakses melalui Aplikasi Android di Google Play, dan akan dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat diakses pada IOS serta penambahan fitur-fitur.

Kemudian untuk fitur pendaftaran, Wahyuddin Begenda menjelaskan bahwa saat ini masyarakat sudah bisa melakukan pendaftaran menjadi peserta secara online. Secara detail, setelah melakukan registrasi nanti akan keluar semacam virtual account dan dapat digunakan untuk membayar sesuai dengan norma kapitasi. Proses terakhirnya, peserta tersebut masih diharapkan untuk datang ke kantor BPJS untuk merekam finger print yang akan disimpan di kartu sebagai pengecekan keamanan kartu.

Terakhir dari sisi marketing, ke depan BPJS Kesehatan akan menggunakan digital marketing. Hal ini diyakini akan mendorong upaya efisiensi operasional yang sudah dicanangkan oleh BPJS Kesehatan bisa terwujud. “Jadi diharapkan BPJS Kesehatan tidak lagi defisit tetapi balance,” harap Wahyuddin.

Ke depan, BPJS Kesehatan akan terus melakukan inovasi untuk memberikan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat sampai ke pelosok-pelosok desa. Melalui inovasi teknologi informasi yang akan dikembangkan, BPJS Kesehatan ingin memberikan pesan-pesan melalui jaringan telepon genggam. Sehingga sosialisasi kepada masyarakat akan tercapai sampai pelosok desa.

Di samping itu, BPJS Kesehatan juga memanfaatkan keberadaan tiap-tiap kantor cabang sebagai penyambung lidah kantor pusat di daerah, untuk melakukan edukasi mengenai produk-produk BPJS Kesehatan ini. Hal penting lainnya, BPJS Kesehatan pada tahun 2017 ini juga akan menggerakkan kader JKN yang nantinya memiliki tiga peran, yaitu sosialisasi, collecting, dan membantu masalah pelayanan-pelayanan kepada masyarakat yang belum mengetahui hak dan kewajibannya di rumah sakit.

“Di sanalah sebenarnya kolaborasi yang harus dibangun bersama-sama. Supaya dream-nya BPJS yang gotong-royong ini bisa terwujud,” pungkas Wahyuddin. (*)