Di Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar XVIII, Mentan Tekankan Pentingnya Teknologi Pertanian

MONITOR, Makassar – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menghadiri acara Pertemuan Saudagar Bugis Makassar ke-18 yang dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Makasar, Minggu (24’6/2018).

Dalam acara yang dihadiri 1800 saudagar bugis makassar dari seluruh tanah air tersebut, JK menyampaikan energi yang besar dari masyarakat khususnya saudagar bugis makassar telah turut membangun Indonesia.

Sementara itu, ditempat yang sama Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya peran teknologi pertanian agar komoditas pangan Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain.

“Indonesia tidak akan bersaing disektor pertanian dengan negara lain jika tanpa teknologi, untuk itu kami sudah lakukan kebijakan dan regulasi diantaranya revisi perpres No.172 tahun 2014 dari tender alat mesin pertanian menjadi penunjukan langsung, refocusing anggaran 2015 sampai dengan 2017 sebesar 12.2 trilyun bantuan benih tidak dieksisting, melakukan inovasi, deregulasi perijinan dan investasi, pengendalian impor pangan, sapu bersih pungli di lingkungan kementerian hingga lelang jabatan yang transparan,” demikian kata Amran.

Dia menjelaskan kebijakan dan terobosan ini bertujuan untuk peningkatan produksi dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045. Sehingga nantinya Indonesia menjadi pemain utama pangan dunia.

“Tapi di tengah upaya mewujudkan kedaulatan pangan ini, ada upaya-upaya dari importir nakal yang ingin mengeruk keuntungan sebesar besarnya dengan jalan ilegal diantaranya mengimpor bawang bombai mini yang dijual sebagai bawang merah sehinga terjadi disparitas harga yang sangat besar,” ungkap Amran.

Amran menyebutkan pemerintah telah menetapkan bea masuk bawang putih sebesar 5 % sedangkan bawang merah sebesar 20 %. Dari hasi ilegal ini disinyalir importir nakal meraih keuntungan sebesar Rp 1.24 trilyun. Apabila bawang bombai mini yang diakui sebagai bawang merah penetrasi ke pasar bawang merah lokal maka akan ada keuntungan tambahan sebesar Rp 455 miliar.

“Saat ini saya sudah nyatakan perang terhadap mafia pangan,” ucap Amran.

Amran menegaskan tindakan mafia pangan hanya menyengsarakan petani dan masyarakat. Hingga saat ini sudah tercatat 782 kasus kejahatan pangan yang ditindak satgas pangan Polri.

“Meliputi 21 kasus hortikultura, 12 kasus pupuk, 66 kasus beras, 27 kasus ternak dan 247 kasus kejahatan pangan lainnya dengan tersangka sebanyak 409 orang,” akui Amran.

Dalam kesempatan ini Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang (OSO) berharap semangat bugis makasar bisa membangun pertanian Indonesia kedepan lebih maju, berdaulat dan mensejahterakan petani.

OSO juga mengapresiasi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam menolak impor pangan pokok. Karena itu, ia menitipkan pesan kepada Amran Sulaiman agar terus berani menolak impor sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat terwujud.

“Kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kita mengharpakan di masa mendatang tidak ada lagi impor produk-produk pertanian. Harus berani ketika berpihak kepada kepentingan mensejahterakan petani,” ucapnya.