Prof Andalan Tegaskan Tekad Hapus Daerah Terisolir di Sulsel

MONITOR, Makassar – Calon Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) nomor urut 3, Prof Nurdin Abdullah, menyatakan tekadnya untuk mentiadakan daerah terisolir di Sulsel dalam kurun waktu tiga tahun. Bahkan, ia akan menyiapkan 20 persen APBD untuk infrastruktur selaras dengan program pemerintah pusat. Tujuannya adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dengan membangun pusat-pusat perekonomian baru selain Makassar.

"Jika diberi amanah memimpin Sulsel, kami inginkan adanya pusat-pusat pertumbuhan perekonomian baru di Sulsel, bukan hanya di Makassar tetapi juga daerah lainnya. Kami bertekad dalam 3 tahun tidak ada lagi daerah terisolir, sebab jalan adalah urat nadi perekonomian masyarakat, kita akan siapkan 20 persen APBD untuk infrastruktur sesuai program pemerintah pusat," ujar Prof Nurdin di Makasar, (9/3). 

Nurdin menceritakan, dalam kunjungannya di beberapa daerah Sulsel, dirinya masih menjumpai banyak daerah yang terisolir, seperti Bastem, Seko di Luwu, dan Biringbulu di Gowa. Bahkan,  meskipun jaraknya hanya 24 kilometer, tetapi harus ditempuh perjalanan selama 8 jam. Melihat kondisi yang demikian, Prof Nurdin menegaskan komitmen bila menjabat Gubernur Sulsel, semua jalan yang menjadi tanggungan pemerintah provinsi dapat dituntaskan, cukup dengan waktu tiga tahun.

Selain itu, Ia juga mengatakan kondisi jalan penghubung antar kabupaten di selatan Sulsel masih tergolong sempit, bahkan seringkali dipandang sebelah mata dibanding daerah utara Sulsel. Padahal, kata dia, bila akses jalan di daerah selatan sudah mumpuni, maka akan memicu tumbuhnya perekonomian masyarakat.  

Tim Media Prof Andalan Khaerudin Norman menambahkan, apa yang disampaikan Prof Nurdin adalah sebuah keniscayaan. Keberhasilannya dalam memimpin Bantaeng mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan pesat di daerah yang dipimpinnya sudah terbukti. 

Selama memimpin, Prof Nurdin diakuinya telah melakukan berbagai terobosan. Di antaranya menurunkan angka kematian ibu melahirkan, membangun sektor pertanian dan pembangunan infrastruktur yang masif berwawasan lingkungan. 

"Keberhasilan Nurdin tidak lepas dari latar belakang dirinya sebagai jebolan doktor Universitas Kyushu, Jepang. Ilmunya di bidang teknologi dan pertanian dipakai untuk membangun daerahnya," jelas Elu sapaan akrab Khaerudin Norman. 

Elu menambahkan, selama kepemimpinannya APBD Bantaeng meningkat pesat 3 kali lipat, hal ini karena pendapatan asli daerah (PAD) naik 4 kali lipat, Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita penduduk naik 5 kali lipat, dan jumlah penduduk miskin di sana pun merosot dari 12 persen ke 5 persen. 

Padahal, kata dia, sejak tahun 2000 sampai 2008 sebelum Prof Nurdin memimpin, Bantaeng masuk jajaran 199 daerah tertinggal. Sehingga rata-rata penduduknya merantau ke Kalimantan dan Malaysia untuk bekerja dan hidup di sana. Infrastruktur di sana memprihatinkan. Bantaeng pun rawan bencana karena terletak di kawasan pegunungan dan pantai.

"Dulu, setiap tahun Bantaeng dilanda banjir. Layanan publik sangat buruk," tambah Elu.

Namun ditangan Prof Nurdin, lanjut Elu, Bantaeng mulai ada perubahan menjadi lebih baik. Dengan APBD yang  hanya Rp280 miliar,itupun belanja pegawai mencapai 70 persen, sementara belanja modal hanya 30 persen saja.  

Elu menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan Prof Nurdin adalah mulai menata aparatur negara di tahun 2009. Saat itu Bantaeng mulai dikenalkan dengan istilah 'Lelang Jabatan' dengan membuka peluang ke seluruh aparatur yang punya kemampuan dan memenuhi syarat untuk memimpin instansi tertentu.

"Anggaran APBD pun sangat hati-hati dicegah kebocorannya. Makanya setelah APBD disahkan, dilaporkan ke Kejaksaan dan Kepolisian untuk dianalisa dan diawasi. Pengawasan juga dilakukan Inspektorat dan sering melakukan rapat-rapat koordinasi dengan Kejaksaan dan Kepolisian," jelasnya. 

Elu menegaskan, apa yang telah dilakukan Prof Nurdin adalah sebuah gambaran, jika ada kemauan dan tekad dengan kepemimpinan yang tepat maka keberhasilan tinggal menunggu waktu saja.
 
"Sayang jika apa yang telah dilakukan Prof Nurdin di Bantaeng tidak bisa dirasakan oleh daerah lainnya di Sulsel. Untuk itu, dukung prof menjadi pemimpin Sulsel agar Sulsel berjaya," pungkasnya.