Luas Panen Padi di Kabupaten Banyuasin Terus Meningkat

MONITOR, Banyuasin – Cita-cita pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 bukanlah hal mustahil untuk terwujud. Pasalnya, hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi yang sangat baik dalam hal produksi bahan pangan, salah satunya yakni padi.

Berdasarkan informasi yang diterima MONITOR dari Kementerian Pertanian RI Kamis (25/1), hampir di semua daerah penyangga pangan setiap hari ada saja petani yang melakukan panen padi. Salah satunya yakni di lahan pasang surut Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Pada Rabu (24/1) kemarin, berdasarkan catatan Kementan hingga saat ini panen mencapai 1.974 hektar. Sebagian besar berasal dari Kec. Tungkal Ilir 518 ha, Air Salek 704 ha, Muara Telang 482 ha, Muara Sugihan 125 ha; dan sisanya dari kecamatan lainnya. Memasuki minggu keempat bulan Januari ini, luas panen panen padi di Kab. Banyuasin  meningkat tajam dibandingkan minggu ketiga, hanya sekitar 1.000 ha dalam satu hari, ungkap Didik staf Dinas Pertanian Kab. Banyuasin.

Prof. Dr. Risfaheri selaku penjab Upsus Kementan untuk Kab. Banyuasin dalam keterangannya, hamparan sawah yang menguning setiap harinya semakin meluas di Banyuasin, seakan tidak pernahnya habisnya panen di lahan pasang surut ini.

"Pertanaman padi relatif aman dari serangan hama tikus, wereng batang coklat dan blast, sehingga provitas yang dicapai cukup tinggi 5 -7 ton GKP/ha, bahkan dibeberapa tempat ada yang mencapai lebih dari 7 ton GKP/ha. Harga gabah di lokasi panen saat ini masih cukup bagus berada di kisaran Rp. 4.500 per kg GKP. Harga yang cukup bagus ini memberi semangat pada petani untuk segera mengolah lahannya setelah selesai panen," ungkapnya.

Menurut Dr. Priatna Sasmita Kepala BPTP Balitbangtan Sumsel, provitas padi di lahan pasang surut Banyuasin ini masih besar peluangnya untuk ditingkatkan. Provitas padi yang masih diangka 5 ton GKP/ha harus dipacu agar dapat mencapai 7 ton GKP/ha, melalui pengguna varietas unggul spesifik lokasi, serta penerapan rekomendasi teknologi budidaya dan pengendalian OPT. Penderasan diseminasi inovasi teknologi terus kami lakukan. Selain itu, kami juga telah mendiseminasikan alat tanam benih langsung yang lebih adaptif (Amator), sehingga dapat mempercepat dan mempermudah penanaman, serta biaya tanam bisa lebih murah. Amator tersebut mulai banyak diminiati petani, tidak hanya petani di Banyuasin juga dari daerah lain, ujar Dr. Priatna Sasmita.
 
Hampir semua hasil panen padi di sawah pasang surut Banyuasin, gabahnya langsung di bawa keluar, tidak hanya penggilingan padi di Sumsel juga ke provinsi tetangga. Pemandangan yang tidak asing, bila dermaga di desa sepanjang jalur menuju sungai Musi, setiap harinya dipenuhi tumpukan gabah GKP yang siap diangkut. Melihat kondisi ini, kami optimis pasokan beras untuk Sumsel aman, bahkan bisa memenuhi kebutuhan beras daerah lainnya, pungkas Prof. Risfaheri.