Herman Deru-Mawardi, Pasangan Pertama Penuhi Syarat Peserta Pilgub Sumsel

MONITOR, Palembang – Akhirnya pecah! Demikian kira-kira kalimat yang pas menyebut fenomena pilkada Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) 2018 mendatang. Setelah sebelumnya hampir dua bulan lamanya, publik dibiarkan liar berbincang mengenai siapa yang akan jadi peserta pilkada dan diusung oleh partai apa. 

Diketahui sebelumnya, Dodi Reza mengklaim telah memenuhi syarat partai pengusung namun sampai detik ini tidak jelas siapa pasangan calonnya. Lalu ada Ishak Mekki mengklaim telah tuntas koalisi pengusungnya hanya kurang pasangan calonnya. Berikutnya Aswari Riva’i baru satu yang menyatakan mengusung sementara partai lain yang diincarnya masih memilih antara dirinya atau Herman Deru. Kini setelah Partai Hanura memutuskan mengusung HD-MY maka pasangan itu menjadi yang pertama memenuhi syarat untuk daftar ke KPUD.

Partai Hanura sendiri menyatakan mengusung pasangan Herman Deru – Mawardi Yahya atas pertimbangan survei. Hampir semua survei menemukan Herman Deru memiliki elektabilitas paling tinggi. Temuan itu konsisten selama hampir dua tahun. Itu artinya secara ilmiah tak bisa dibantah bahwa peluang menang Herman Deru untuk terpilih menjadi Gubernur Sumsel adalah fakta ilmiah. 

“Hari ini tadi Bapak Ketum Oesman Sapta dan Sekjen Syarifuddin Sudding sudah menandatangi SK dukungan kepada saudara Herman Deru-Mawardi Yahya untuk Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Sumsel. SK No 48. Dari sekian survei, paslon ini yang paling tinggi surveinya,” ungkap Korwil SumselBabel DPP Partai Hanura Fauzi H Amro, Selasa (19/12) malam.

Pengamat politik dari Indopolitika Institute Mus S Galih mengatakan, dipilihnya Herman Deru oleh Partai Nasdem, PAN dan Hanura adalah pilihan logis. Para pemegang kebijakan di partai tersebut dianggap memiliki pengalaman dan pengetahuan mendalam soal strategi pemenangan pemilu. Itu karena tak bisa dipungkiri survei seharusnya menjadi alat ukur untuk memilih figur yang kredibel, tahu kekurangan dan kelebihannya dan terlihat seberapa besar dan konsisten dukungan rakyat kepadanya. 

“Partai politik yang modern dan maju akan memilih kandidat berdasar pendekatan ilmiah. Memilih kandidat tidak akan berdasar kedekatan emosional apalagi karena uang," ujarnya kepada wartawan di Palembang, Rabu (20/12).

"Dalam konteks dipilihnya Herman Deru patut diduga konsistensi tingginya elektabilitas dan posisinya yang terus menanjak dan tak terkejar oleh calon lainnya menjadi pertimbangan. Partai pengusung itu maunya menang. Buat apa bertanding kalau buat kalah,” tambahnya lagi.

Terkait kemungkinan akan berapa pasang calon yang serta dalam kontestasi, Mus S Galih menyatakan maksimal akan empat pasang. Jika itu terjadi, kata dia, akan mudah bagi pasangan Herman Deru – Mawardi Yahya untuk menang. 

Lebih jauh Mus mengajak wartawan untuk melihat perbandingan hasil survei, jelas terbaca bahwa ketika Herman Deru diadu head to head melawan Dodi, Aswari atau Ishak Mekki, kemangannya tinggi. 

“Kalau head to head saja menang banyak, apalagi jika melawan dua atau tiga pasang. Ini sebenarnya partai politik tahu, tentu kalau mereka membaca survei atau punya survei sendiri,” jelas Mus.

Hasil surei yang terakhir dirilis oleh Populi Center Jakarta memang Herman Deru meraih elektabilitas sebesar 32,0 persen jauh meninggalkan calon lainnya, jarak dengan Dodi Reza Alex yang berada di posisi kedua adalah sebesar 10,6 persen.