Tukang Servis Amplifier Dibakar Hidup-hidup, Ini Kata Pakar Psikologi Forensik

MONITOR, Jakarta – Meninggalnya Muhammad Aljahra alias Zoya (30), korban pembakaran yang tewas dihakimi massa akibat tuduhan pencurian amplifier di sebuah mushala, disoroti banyak kalangan. Imbasnya, sang istri Siti Zubaidah (25) terpaksa mengurusi buah hatinya seorang diri.

Pakar Psikologi Forensik yang juga Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak LPAI, Reza Indragiri Amri, menyatakan aksi brutal di tengah masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat tidak puas terhadap hukum yang berlangsung di negara ini.

Masyarakat mulai beranggapan, proses hukum mulai tidak berlandaskan keadilan. Atas dasar itulah, mereka cenderung menciptakan hukum sendiri tanpa berkoordinasi dengan aparat setempat.

"Boleh jadi inilah dampak ketika hukum acap dirasakan tidak hadir, atau hadir namun dipandang tidak membawa solusi, atau membawa solusi namun tdk memenuhi prinsip equity," terang Reza kepada Monitor, Jumat (4/8).

"Masyarakat lantas menciptakan hukum dan menjadi aparat penegak hukum, namun dengan cara yang bertentangan dengan hukum itu sendiri," sambungnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, rasio jumlah polisi dengan masyarakat belum proporsional. Idealnya, kata Reza, satu polisi melayani 300-400 orang.

"Tapi kalau situasi keamanan rawan dan ada problem pada relasi polisi-masyarakat, maka rasionya bisa diperkecil," ujarnya.