Sikap IDI Ketika Dokter Jadi Korban Kekerasan

MONITOR, Jakarta – Kekerasan terhadap para dokter masih seringkali terjadi, baik itu sifatnya verbal atau non verbal. Hal demikian disampaikan oleh Prof. Marsis, salah seorang anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Marsis menyatakan, beberapa bulan lalu seorang ketua DPRD di kabupaten Lebong provinsi Bengkulu melakukan penamparan terhadap dokter di RSUD Lebong. Akibat perbuatannya tersebut, Pengadilan Negeri (PN) Lebong menjatuhkan sanksi 1 bulan penjara. 

Lalu, kejadian serupa terjadi RSUD Sampang pada awal November. Dimana seorang dokter intersip mendapat kekerasan dari pihak keluarga pasien. 

"Untuk kasus ini telah dimediasi oleh Bupati Sampang dan dihadiri oleh jajaran IDI di Jawa Timur. Sedangkan untuk kasus kekerasan terhadap dokter di RS Arya Medika Tangerang yang dilakukan oleh LSM KPK pada bulan Oktober hingga hari ini tidak ada kelanjutannya," ujarnya di Jakarta, Rabu (29/11).

Dari fakta yang terjadi, Marsis menginginkan agar para dokter dan tenaga medis lainnya mendapatkan jaminan perlindungan dari berbagai pihak khususnya pemerintah. Hal ini dilakukan agar tercapai kualitas pelayanan yang optimal bagi pasien.

"Jika dokter dan tenaga kesehatan berada dalam keadaan tidak aman dan nyaman tentunya akan mempengaruhi kualitas pelayanan. Pemerintah harus menjamin perlindungan tersebut. PB IDI juga menghendaki agar setiap pimpinan fasilitas kesehatan yang mempekerjakan dokter untuk menjamin keamanan di fasilitasnya," tegasnya.