Ketua IDI Lebak: Psikosomatik Bukan Sakit Pura-Pura, Stres Bisa Picu Keluhan Fisik

MONITOR, Lebak — Tekanan pikiran dan persoalan emosional tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga dapat memicu atau memperburuk keluhan fisik. Karena itu, masyarakat perlu memahami psikosomatik secara tepat dan tidak langsung menganggap keluhan seseorang sebagai penyakit yang dibuat-buat.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kajian kesehatan yang diselenggarakan di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lebak, Jumat (23/10/2026).

Materi bertajuk Penyakit Psikosomatik: Ketika Pikiran dan Hati Berbicara Lewat Tubuhdisampaikan oleh dr. H. Irfan Maulani, Sp.PD, FINASIM, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Lebak.

Dokter spesialis penyakit dalam tersebut menjelaskan bahwa psikosomatik merupakan kondisi ketika faktor psikologis, seperti stres, kecemasan, kesedihan, dan konflik batin, berperan dalam munculnya atau memburuknya keluhan fisik.

- Advertisement -

Dalam materi edukasinya, dr. Irfan menekankan bahwa keluhan psikosomatik bukanlah rasa sakit yang dibuat-buat. Gejala yang dialami pasien benar-benar dirasakan, meskipun pemeriksaan medis terkadang tidak menemukan kelainan organ yang sepenuhnya menjelaskan keluhan tersebut.

“Keluhan psikosomatik itu nyata, bukan pura-pura dan bukan pula tanda lemahnya iman. Pikiran, perasaan, dan tubuh merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi,” demikian pokok pesan yang disampaikan dalam materi kajian kesehatan tersebut.

Stres Dapat Memengaruhi Berbagai Organ Tubuh

Dalam pemaparannya, dr. Irfan menjelaskan bahwa stres dapat mengaktifkan respons tubuh melalui sistem saraf dan hormon, termasuk kortisol dan adrenalin. Respons tersebut berpotensi memengaruhi berbagai organ dan menimbulkan keluhan fisik.

Pada sistem pencernaan, misalnya, stres dapat berkaitan dengan keluhan nyeri atau perih pada lambung, kembung, diare, maupun sembelit. Sementara itu, respons tubuh terhadap tekanan dapat memicu jantung berdebar, meningkatkan tekanan darah, serta menimbulkan ketegangan otot dan sakit kepala.

Keluhan lain yang dapat dipengaruhi atau diperburuk oleh stres antara lain gangguan tidur, migrain, sesak napas akibat kecemasan atau hiperventilasi, serta sejumlah gangguan kulit seperti eksim dan psoriasis.

Karena itu, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Namun, setiap keluhan tetap membutuhkan penilaian medis untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.

Jangan Langsung Menyimpulkan Keluhan sebagai Psikosomatik

Dr. Irfan juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan medis sebelum menyimpulkan bahwa keluhan seseorang disebabkan oleh faktor psikologis.

Keluhan yang berulang, berpindah-pindah, atau memburuk ketika seseorang menghadapi tekanan dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat keterkaitan kondisi fisik dan psikologis. Namun, gejala tersebut tidak cukup untuk menetapkan diagnosis secara mandiri.

Penyakit fisik dan gangguan psikosomatik juga dapat terjadi secara bersamaan. Oleh sebab itu, pemeriksaan tetap diperlukan untuk mengidentifikasi atau menyingkirkan kemungkinan penyakit organik.

“Jangan langsung memvonis seseorang mengalami psikosomatik hanya karena hasil pemeriksaannya normal. Penyakit fisik harus tetap dievaluasi terlebih dahulu agar pasien mendapatkan penanganan yang tepat,” demikian penekanan dalam materi yang dipaparkan dr. Irfan.

Ia juga menyoroti sejumlah tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera, antara lain nyeri dada yang menjalar disertai sesak atau keringat dingin, muntah darah, buang air besar berdarah atau berwarna hitam, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta kelemahan pada satu sisi tubuh atau gangguan bicara.

Penanganan Membutuhkan Pendekatan Medis dan Perubahan Gaya Hidup

Penanganan psikosomatik perlu disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Pemeriksaan medis yang terarah, edukasi mengenai kondisi yang dialami, dan terapi sesuai kebutuhan merupakan bagian dari proses penanganan.

Psikoterapi, termasuk terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT), dapat menjadi salah satu pilihan. Penggunaan obat anticemas atau antidepresan dapat dipertimbangkan oleh dokter apabila terdapat indikasi medis.

Selain itu, perubahan gaya hidup juga berperan dalam membantu mengelola stres. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain menjaga tidur selama tujuh hingga delapan jam, berolahraga ringan secara teratur, melakukan latihan pernapasan dan relaksasi, menjaga pola makan, serta mengatur beban pekerjaan dan tanggung jawab.

Dalam materi tersebut, dr. Irfan juga menekankan pentingnya kontrol secara teratur kepada dokter yang menangani agar perkembangan kondisi pasien dapat dipantau dan tindak lanjut dilakukan secara terarah.

Iman dan Dukungan Sosial Bukan Pengganti Pengobatan

Dalam perspektif keagamaan, kajian kesehatan PCNU Lebak turut menyoroti pentingnya ibadah dan dukungan sosial dalam menjaga keseimbangan jiwa. Salat dengan khusyuk, zikir, doa, membaca Al-Qur’an, silaturahmi, serta berbagi cerita dengan orang tepercaya dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi tekanan kehidupan.

Pesan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28, yang menjelaskan bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Meski demikian, pendekatan spiritual tidak menggantikan penanganan medis. Pemeriksaan dan pengobatan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan sesuai kondisi yang dialami.

Materi tersebut juga menegaskan bahwa stres dan persoalan kesehatan mental bukanlah aib ataupun tanda lemahnya iman. Setiap orang dapat mengalami tekanan psikologis, sehingga masyarakat perlu menghindari stigma terhadap mereka yang membutuhkan bantuan.

Dalam konteks pengabdian sosial, pengurus NU dapat berperan sebagai pendengar awal bagi warga yang menghadapi persoalan, sekaligus membantu menghubungkan mereka dengan dokter, psikolog, atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Menjaga Kesehatan Jiwa untuk Memperkuat Pengabdian

Kajian kesehatan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dipengaruhi keadaan emosional, lingkungan sosial, dan kemampuan seseorang menghadapi tekanan kehidupan.

Bagi pengurus organisasi maupun masyarakat yang menjalankan berbagai tanggung jawab, mengenali batas kemampuan diri, menjaga waktu istirahat, dan mencari dukungan ketika menghadapi masalah merupakan langkah penting dalam mempertahankan kesehatan.

Melalui materi yang disampaikan, dr. Irfan Maulani menekankan bahwa keluhan psikosomatik merupakan kondisi nyata yang dapat ditangani melalui pendekatan yang tepat. Pemeriksaan medis, pengelolaan stres, perubahan gaya hidup, dukungan sosial, dan penguatan spiritual dapat berjalan beriringan sesuai kebutuhan pasien.

Pemahaman tersebut diharapkan mendorong masyarakat untuk tidak mudah menghakimi orang yang mengalami keluhan psikosomatik, tidak mengabaikan gejala penyakit fisik, serta tidak ragu mencari pertolongan profesional.

Kesehatan jiwa dan kesehatan tubuh perlu dijaga secara bersama-sama. Ikhtiar medis, dukungan lingkungan, dan keteguhan spiritual menjadi bagian dari upaya mewujudkan kehidupan yang lebih sehat dan seimbang.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER

BERITA TERKINI