Ekonomi Biru Bisa Buka 45 Juta Lapangan Kerja, Hilirisasi Jadi Kunci

MONITOR, Jakarta – Indonesia memiliki potensi ekonomi kelautan yang diperkirakan mencapai 1,4 triliun dolar AS per tahun dan berpeluang menciptakan hingga 45 juta lapangan kerja. Namun, besarnya potensi tersebut membutuhkan transformasi industri, penguatan hilirisasi, serta dukungan kebijakan agar benar-benar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., dalam program Starting Point TVRI World bertajuk “A Lifetime of Dedication: Advancing Indonesia’s Blue Economy”, Rabu (14/10/2026).

Dalam dialog yang dipandu Audrey Utoyo dan Aisya Fabien tersebut, Rokhmin menegaskan bahwa ekonomi biru perlu menjadi salah satu penggerak pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Pengembangannya, menurut dia, harus mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan pelestarian ekosistem laut.

Potensi ekonomi kelautan yang besar, sebagaimana disampaikan Rokhmin dengan merujuk kajian IPB University, belum sepenuhnya diikuti kemampuan Indonesia menciptakan nilai tambah dari sumber daya lautnya. Keterbatasan infrastruktur, akses pembiayaan, pengembangan industri pengolahan, serta dukungan kebijakan dan anggaran masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi.

- Advertisement -

Karena itu, pembangunan kelautan tidak cukup bertumpu pada peningkatan produksi komoditas. Indonesia juga perlu memperkuat rantai nilai industri agar sumber daya laut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha dari hulu hingga hilir.

Hilirisasi dan inovasi untuk mengangkat nilai ekonomi laut

Rokhmin mendorong pengembangan 11 sektor ekonomi biru, mulai dari perikanan tangkap dan budi daya, industri pengolahan hasil perikanan, bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, transportasi laut, hingga energi terbarukan dan industri maritim.

Pengembangan berbagai sektor tersebut perlu dilakukan secara terintegrasi dengan memperhatikan potensi daerah, kesiapan teknologi, kapasitas sumber daya manusia, dan daya dukung lingkungan. Dengan pendekatan itu, ekonomi biru diharapkan tidak hanya meningkatkan kontribusi sektor kelautan terhadap perekonomian, tetapi juga memperluas manfaatnya bagi masyarakat pesisir.

Rokhmin juga menyoroti pentingnya ekonomi sirkular dan inovasi teknologi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya laut. Rumput laut, tiram, dan mikroalga, misalnya, dapat dikembangkan lebih jauh menjadi bahan baku pangan fungsional, farmasi, kosmetik, biomaterial, pupuk hayati, dan bioenergi.

Diversifikasi produk tersebut membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah. Namun, realisasinya membutuhkan investasi riset, penguatan industri pengolahan, akses pasar, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, serta komunitas pesisir.

Kesejahteraan masyarakat menjadi ukuran keberhasilan

Menurut Rokhmin, keberhasilan ekonomi biru tidak semestinya hanya diukur dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor kelautan. Dampaknya terhadap kualitas pekerjaan, pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan, kesempatan usaha masyarakat pesisir, serta keberlanjutan ekosistem laut juga harus menjadi ukuran utama.

Pendekatan tersebut penting agar pertumbuhan industri kelautan tidak berhenti pada peningkatan nilai produksi, tetapi menghasilkan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat. Penguatan ekonomi biru juga perlu berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya laut agar pemanfaatannya tidak mengorbankan kepentingan generasi mendatang.

Dalam dialog itu, Rokhmin turut merefleksikan perjalanan pengabdiannya di bidang kelautan dan perikanan. Ia menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT serta penghormatan kepada kedua orang tuanya, yang berprofesi sebagai nelayan dan pedagang ikan di Cirebon, karena telah menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, disiplin, dan integritas.

Rokhmin memandang penghargaan internasional yang diterimanya bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan bagian dari perjalanan panjang kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan masyarakat kelautan dan perikanan.

Pada 30 September 2026, Rokhmin menerima Aquaculture Lifetime Achievement Award dalam The 13th International Conference on Fisheries and Aquaculture (ICFA 2026) di Miri, Sarawak, Malaysia.

Momentum penghargaan tersebut, dalam konteks gagasan yang disampaikannya di TVRI World, menegaskan kembali pentingnya membangun sektor kelautan yang produktif, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. Tantangan Indonesia bukan sekadar memiliki kekayaan laut, melainkan memastikan kekayaan tersebut diolah menjadi sumber kemakmuran yang nyata bagi rakyat.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER

BERITA TERKINI