Minggu, 26 April, 2026

Kemenperin Perkuat Daya Saing IKM Perkakas Tangan

MONITOR, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat potensi dan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) sektor perkakas tangan agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga menembus pasar ekspor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa industri perkakas tangan nasional memiliki prospek besar, terutama dalam mendukung sektor pertanian dan perkebunan di Indonesia.

“Industri ini memiliki kekuatan pada keterampilan tenaga kerja yang diwariskan secara turun-temurun serta didukung pasar yang luas karena Indonesia merupakan negara agraris,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (26/4).

Kemampuan industri dalam negeri ini dinilai semakin andal, terbukti dari keberhasilannya memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan produk berkualitas. Hal tersebut juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong hilirisasi komoditas baja nasional.

- Advertisement -

Melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Kemenperin optimistis produk perkakas tangan buatan IKM dapat semakin terserap di pasar domestik. Apalagi, banyak produk yang telah mengantongi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga meningkatkan kepercayaan pengguna, termasuk sektor industri besar.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengungkapkan, berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) hingga November 2025, terdapat 123 unit usaha IKM perkakas tangan dengan total 512 tenaga kerja di seluruh Indonesia.

“Sentra produksi terbesar berada di Sumatera Utara, seperti di Pematang Siantar, Tapanuli Selatan, hingga Deli Serdang. Selain itu, industri ini juga tersebar di berbagai wilayah lain seperti Jawa, Bali, hingga Sulawesi,” jelasnya.

Meski memiliki potensi besar, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan bahan baku baja dengan spesifikasi tertentu, persaingan produk impor, hingga kebutuhan investasi teknologi.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenperin melalui Ditjen IKMA menjalankan berbagai program strategis, seperti fasilitasi kerja sama bisnis, pendampingan teknis, restrukturisasi mesin produksi, serta penguatan kemitraan dengan penyedia teknologi.

Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari, menambahkan bahwa IKM perkakas tangan memiliki peluang besar untuk menjadi mitra industri besar, BUMN, hingga pemerintah daerah, termasuk melalui platform digital.

Salah satu contoh keberhasilan datang dari PT Sarana Panen Perkasa (SPP) di Medan. Perusahaan ini memproduksi berbagai alat panen seperti egrek, dodos, dan pisau, serta telah mengantongi sertifikasi SNI dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Produk mereka bahkan telah menembus pasar ekspor ke berbagai negara seperti Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, dan Kolombia.

Dalam dua tahun terakhir, PT SPP juga bersiap meningkatkan kapasitas produksinya dengan dukungan pasokan bahan baku dari industri baja nasional.

Dengan berbagai upaya tersebut, Kemenperin optimistis IKM perkakas tangan nasional mampu meningkatkan daya saing, memperluas pasar, serta berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER